Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
pengobat luka


__ADS_3

"Cengeng...ayo jalan,aku lapar"


Suara itu tak asing di telinga. Suara pria yang selalu dingin dan tidak berperasaan. Tapi... kenapa dia disini, batinku.


Aku tidak ingin panji melihatku dengan keadaan seperti ini. Rasanya aku ingin menghilang saja dari muka bumi. Dua kali dia melihatku menangis, bukankah itu sangat keterlaluan.


"Cepet bangun atau ku potong gaji kamu"


Aku tak menanggapi ucapannya tapi aku bangun dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka yang sudah sembab karena menangis.


Didalam kamar mandi air mata bukannya berhenti mengalir tapi semakin deras,aku menangis sesenggukan. Sepagi ini aku sudah menangisi hidupku, sungguh miris.


Setelah sepuluh menit berada di dalam kamar mandi akupun keluar dan melihat pria itu sedang duduk termenung. Sungguh saat melihat dia seperti itu rasanya ingin sekali memeluk dari belakang, sepertinya nyaman berada di pelukannya. Seperti di pantai waktu itu.


Aku memukul tanganku sendiri karena sudah berpikiran yang tidak-tidak.


"Aishhhh"...gumamku.


Dia menoleh dan bangun dari duduknya menarik tanganku untuk di genggamnya. Aku selalu terkejut saat dia berubah manis seperti itu. Rasanya seperti mimpi saja.


"Kamu mau sarapan apa..?"


"Terserah bapak saja"


"Sepertinya kamu ingin saya jadi bapak tiri kamu ya.."


Aku urung melangkah karena ucapannya.

__ADS_1


"Panggil saya apa saja asal jangan bapak, mentang-mentang kamu bocah seenaknya saja panggil-panggil bapak" rutuknya.


Dia membawaku ke sebuah warung bubur ayam di pinggir jalan. Aku sangat bingung pada pria ini mengapa dia seperti tahu semua hal tentangku. Bahkan dia tidak canggung memesan makanan untuk kami berdua.


"Pak.. terimakasih"


"Iya sama-sama anakku"


Aku tertawa mendengar ucapannya, mengapa pria ini bisa membuat aku tertawa setelah sepagian ini mood berantakan.


"Makanlah.. karena makan adalah obat"


"Obat..?" tanyaku heran.


"Iya obat lapar"


Kami makan dalam diam tak ada pembahasan apapun. Bahkan Panji tidak bertanya apapun tentang kejadian dirumahku tadi. Begitu pengertiannya pria paruh baya ini.


"Kamu mau kemana hari ini..?"


Aku menggelengkan kepalaku tanpa menoleh padanya karna aku sibuk memisahkan daun bawang dari mangkuk buburku.


"Daun bawang bisa meredakan stres.."


"Tapi daun bawang membuat cita rasa di makanan terasa aneh di mulut saya pak.."


Dia tidak menjawab hanya suara decakan saja yang keluar dari mulutnya. Setelah menghabiskan sarapan aku pun duduk kembali di mobil mewah milik bos ku ini.

__ADS_1


"Tolong antarkan saya pulang pak.." pintaku.


Panji sepertinya tidak mendengarkan ucapanku karena mobilnya berputar ke arah yang berlawanan dari arah rumahku. Dia membawaku ke sebuah gedung yang menjulang tinggi.


Kami turun di lobi dan dengan cepat pria disana membuka pintu mobil untuk kami berdua. Aku hanya bisa terdiam karena aku tak tahu itu gedung apa,aku kembali merasakan takut seperti pertama kali dia membawaku ke pantai waktu itu.


Seperti tahu apa yang aku rasakan,panji menggenggam erat tanganku saat kami berjalan beriringan memasuki gedung itu.


"Tuan muda.."


Seorang pria tergopoh-gopoh berjalan ke arah kami.


Panji berbisik di telinga pria itu dan tak lama pria itu pergi sambil tersenyum kepadaku. Aku dibawa ke sebuah ruangan yang cukup besar. Ada sepasang kursi mewah berwarna putih dan meja yang begitu indah.


"Duduklah.."


Aku mengikuti ucapan panji tanpa bertanya apapun lagi. Tanpa menunggu lama dua orang pria masuk membawa dua koper besar di tangan mereka. Panji menyuruh mereka menaruh dua koper itu di atas meja bundar di depanku.


Setelah dua pria itu keluar ruangan panji berdiri dan membuka dua koper itu. Mataku melotot tak percaya melihat isi didalamnya, terdapat uang yang begitu banyak. Seumur hidup aku baru kali ini melihat dua koper uang.


"Ambillah semuanya.. lemparkan ke wajah orang-orang yang menyakiti hatimu.." ucapnya menatapku.


Aku tak sanggup lagi menahan air mataku. Air mata kembali membasahi kedua pipiku.


"Jangan menangis lagi.."


Dia mengusap air mataku dan merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya...

__ADS_1


__ADS_2