Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Rindu


__ADS_3

Panji bolak-balik mengecek ponsel miliknya. Dia mendengus kesal karena kekasihnya sama sekali tidak mengabari keberadaannya. Gadis itu pintar sekali membuat suasana hatinya kacau. Entah mengapa dia berbeda dari gadis lainnya. Biasanya para gadis senang sekali memberi kabar atau sering menginterogasi pasangannya. Sarah berbeda dia tidak perduli dengan perasaan orang lain. Menyebalkan bukan...?


(Sayang kamu dimana..?aku rindu)


Pesan itu sudah dikirimkan Panji berkali-kali, jangankan dibalas,dibaca olehnya saja tidak.


"Dimana sih gadis menyebalkan itu"


Panji tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Dia masih saja berusaha untuk menghubungi Sarah tapi hasilnya nihil. Panji sangat menyesal saat Sarah minta ijin untuk pergi keluar kota. Dia hanya mengiyakan tanpa bertanya gadis itu akan kemana. Dia berharap gadis itu akan merengek karena Panji tidak menanyakan apapun. Ternyata dugaannya salah besar.


Tok tok tok


"Masuk.."


Seorang pria yang masih berusia cukup muda masuk ke dalam ruangan Panji. Membawa amplop coklat ditangannya.


"Ini laporannya bos.."


Panji segera mengambil amplop itu dari tangan pria berhidung mancung itu.


"Kemana saja gadis itu.?"


"Ke hotel Nusa..makan di pinggir jalan bersama gadis lainnya dan pergi ke sebuah desa yang lumayan jauh"


Panji melihat-lihat beberapa foto yang sudah di ambil oleh Rizal sang asisten.


"Saya juga melihat gadis itu menangis"


"Siapa perempuan yang bersamanya itu?"


"Namanya Sasha adik dari gadis itu..kuliah di universitas ternama dan baru saja ijin untuk cuti"


"Apa mereka sudah kembali ke kota..?"


"Sudah tuan.. mereka tidak sampai dua jam di rumah itu "


"Hah.. perjalanan yang begitu jauh hanya singgah dua jam,gila.."


Pria muda yang bernama Rizal itu hanya menganggukan kepalanya.


"Oke.. terimakasih atas informasinya,kamu boleh keluar "


"Baik pak.."


Pria itu keluar ruangan dengan hati yang sangat senang. Karena tugas yang di embannya sudah selesai dan tanpa kesalahan sedikitpun.


"Sarah...ada apa..?"ucap panji lirih.


Setelah merenung sejenak Panji segera menyambar tas yang ada di atas meja dan segera keluar ruangan. Dia ingin segera bertemu dengan gadis menyebalkan itu.


Panji sangat cemas memikirkan Sarah, karena walaupun mereka sudah berpacaran Panji tidak pernah tahu apa yang sedang Sarah rasakan. Gadis itu tidak pernah menceritakan apapun padanya. Mungkin Sarah belum nyaman untuk berbicara tentang keluarganya.


Rumah bergaya Jepang itu sudah di depan mata. Tapi mobil Sarah tidak terlihat di sana. Panji segera keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah Sarah.


Dia menghempaskan tubuhnya di atas Sofa. Panji memejamkan matanya dan berfikir keras menebak-nebak dimana kekasihnya berada saat ini. Bukankah Rizal mengatakan bahwa Sarah sudah kembali ke kota, jadi dimana dia sekarang berada.


Ponselnya berdering dan dia segera mengambilnya dari saku celananya. Nama princess terlihat di layar.


"Kamu dimana..?"


Suara tawa terdengar dari ujung sana dan itu membuat Panji semakin kesal.


"Kamu dimana..?"


"Aku di supermarket,lagi belanja"


"Dimana..? nanti aku jemput"

__ADS_1


"Enggak usah sayang..ini bentar lagi pulang"


"Ya sudah cepat pulang,aku sudah ada dirumah"


"Hah.."


Panji tersenyum saat menebak ekspresi wajah kekasihnya.


"Cepatlah pulang..aku lapar"


"Oke.. baiklah, sampai ketemu dirumah"


Ponsel langsung dimatikan oleh gadis itu tanpa menunggu jawaban dari panji.


"Dasar gadis nakal"


Entah mengapa walaupun dia merasa kesal tapi saat mendengar suara gadis itu rasa kesalnya menghilang entah kemana.


Panji segera masuk ke dalam kamar untuk menyegarkan diri. Dia tidak ingin hanya melamun saat menunggu kepulangan Sarah. Karena itu akan sangat lama untuknya.


Entah berapa lama Panji berada di kamar mandi karena saat dia keluar dari kamar wangi masakan sudah tercium di rumah mewah itu. Pria itu segera berlari ke arah dapur dan menemukan gadis yang dia tunggu sedang membelakanginya.


Tanpa aba-aba dia segera memeluk gadis itu dari belakang. Sarah tampak sangat terkejut dengan pelukan itu.


"Kapan kamu pulang?"


"Dari tadi"


"Kenapa tidak memanggilku?"


"Kamu kan sedang mandi"


panji membalikkan tubuh gadis itu dan menjewer telinga nya.


"aduhh..aduhh.."


"Kamu kenapa senang sekali bikin aku pusing"


Gadis itu mengusap telinganya yang tadi di jewer oleh kekasihnya.


"Salah kamu apa..? hah..gila,dia gak sadar kesalahannya sendiri"


Sarah tertawa melihat wajah kekasihnya yang terlihat sangat kesal. Dia membalikkan daging yang sedang dimasaknya tanpa mengatakan apapun.


"Ayu.."


Sarah menoleh dan mencubit pinggang pria tampan itu. Dia sangat membenci Panji saat memanggilnya dengan nama Ayu.


"Dasar pria tua"sungutnya.


"Gimana..kamu kesal kan..?"


"Enggak tuh.."


Panji segera berlalu dari hadapan Sarah dan itu membuat Sarah kembali tertawa karena Sarah tahu Panji sedang meredakan emosinya.


Setelah menyiapkan makanan dia pun segera menyusul Panji yang sekarang sedang duduk dan terlihat asyik menonton televisi.


Gadis itu duduk disebelahnya dan segera memeluk tubuh pria itu.


"Maafin aku ya sayang.."


Panji sama sekali tidak menoleh ataupun merespon permintaan maaf Sarah.


"Sayang...maafin aku dong"


Panji terus saja sibuk dengan film yg yang sedang di tontonnya.

__ADS_1


"Beneran gak mau maafin aku nih..?"


Cuppp


Sarah mencium pipi pria di sampingnya itu. Panji menoleh dan menatap tajam padanya.


"Kenapa..?"


Panji segera mendorong tubuh Sarah hingga wajah mereka sangat dekat sekali. Panji mencium bibir gadis itu tanpa penolakan dari si empunya.


Beberapa kali Panji menggigit lembut bibir ranum Sarah.


"Kalau saja sudah menikah..aku pasti akan melakukan lebih dari ini.."


"Lakukanlah.."


Panji terkejut mendengar jawaban gadis cantik itu.


"Ada apa Sarah..?"


Sarah menggelengkan kepalanya dan menunduk. Panji segera mengangkat wajah kekasihnya itu dan mata Sarah sudah berkaca-kaca.


"Hei..ada apa..? maaf kalau aku terlalu mengekang mu.."


Tangisan sarah semakin pecah dan Panji segera memeluknya.


"Tolong aku...tolong bawa aku pergi dari hidupku yang sekarang ini.."


Panji mengusap punggung Sarah dengan lembut. Hatinya sangat sakit melihat orang yang sangat di cintai nya itu menangis lagi.


"Ada apa sayang..kamu mau cerita hmm.."


"Aku lelah menghadapi ibu,aku lelah berpura-pura baik-baik saja"


"Sayang..kamu boleh cerita apapun padaku"


"Adikku hamil mas.."


"Hah.."


Panji terkejut mendengar penuturan gadis di pelukannya itu. Bukankah adik kekasihnya itu masih kuliah.


"Sasha hamil..dan ibu memintaku untuk merawatnya"


Panji tidak mengatakan apapun karena dia menunggu Sarah untuk melanjutkan ceritanya.


"Setelah melahirkan, ibu hanya menerima Sasha tapi tidak dengan bayinya"


Isakan masih terdengar dari mulut gadis cantik itu. Panji sangat merasakan betapa rapuhnya Sarah, tapi dia bisa membohongi dunia dengan senyum dan tawa yang selalu hadir dari bibirnya.


"Siapa pria itu..?"


"Tak ada satupun yang bisa di jadikan ayah bayi malang itu"


"Kenapa..?"


"Sasha tidak hanya tidur dengan satu pria saja"


Sarah kembali tergugu saat mengatakan semua itu. Panji tahu pasti kekasihnya itu sangat malu menceritakan semuanya.


"Kita akan menghadapi semuanya bersama"


Sarah mengangkat wajahnya dan menatap pria itu.


"Setelah bayi itu lahir kita akan merawatnya bersama"


"Mas..."

__ADS_1


Panji segera menutup bibir Sarah dengan telunjuknya.


"Kamu adalah segalanya,aku akan melawan dunia hanya untuk kebahagiaan kamu.. Tolong jangan menangis lagi.."


__ADS_2