
Aku baru saja selesai mandi saat bel pintu berbunyi nyaring. Tak ada orang lain yang tahu aku disini selain Panji dan ibunya. Bergegas aku menuruni tangga tanpa membuka dulu handuk yang melilit di kepala.
Aku memutar anak kunci dan pria mancung itu sudah berdiri disana, tersenyum.
"Loh.. sudah pulang...?"
Dia memelukku erat sekali seperti berbulan -bulan tak bertemu. Aku membiarkannya tanpa protes sama sekali.
"Ayo masuk.."
Kami masuk sambil bergandengan tangan. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Aku mengikuti dengan duduk disebelahnya.
"Kapan pulang..? kenapa tidak mengabariku..?"
"Baru saja.. langsung ke sini.."
"Sudah makan..?"tanyaku lagi.
Dia menggelengkan kepalanya sembari menatapku lekat.
"Mandilah.. setelah itu kita makan diluar,aku yang jadi sopir.."
Dia hanya tersenyum masih memandangi wajahku lekat.
"Sarah... apakah kamu mencintaiku.. apakah kamu benar-benar ingin bersamaku tanpa paksaan?"
Deggg....
Aku terkejut saat dia bertanya seperti itu.
"Ada apa..? apakah aku ada salah..?"
"Tidak..aku hanya ingin tahu perasaanmu padaku.."
"Aku gak cinta sama kamu..aku hanya mencari sugar Daddy.."
Aku berdiri berusaha meredam emosi. Tangannya menarik tanganku dan akupun duduk kembali di sampingnya.
"Maaf...aku hanya takut kamu bersamaku karena rasa kasihan.."
"Ngapain kasihan sama kamu.. memangnya kamu kekurangan duit sehingga aku harus mengasihanimu.."
"Sudah jangan marah..aku hanya bertanya"
"Kamu bukan bertanya tapi kamu mengintimidasi, seolah-olah aku.."
Ucapanku menggantung begitu saja karena dia sudah mencium bibirku dengan lembut.
Aku segera mendorong tubuhnya supaya berhenti mencium bibirku.
__ADS_1
"Mandi sana..aku lapar"
Dia tertawa dan mencubit hidungku dengan gemas.
"Kamu takut hilaf kan.." ujarnya terkekeh.
"Dasar mesum.."
Panji berlalu meninggalkanku yang masih tertegun memikirkan pertanyaan nya tadi. Pasti ada yang mengganggunya sehingga dia bisa bertanya seperti itu. Tidak biasanya dia menanyakan hal-hal yang remeh padaku. Selama ini akulah yang sering menanyakan tentang perasaannya padaku.
Setelah cukup lama berfikir aku langsung bergegas menuju kamarku. Dia akan mengomel, saat aku belum siap padahal aku sedari tadi sudah ribut lapar.
Aku hanya memoleskan lipstik berwarna maroon pada bibirku. Ku kenakan kacamata supaya tidak terlihat tak ada riasan pada wajahku.
Dengan sedikit berlari aku menuruni tangga dan pria itu sudah berdiri disana di ujung tangga.
"Hati-hati nanti kamu jatuh"
Aku tertawa saat dia menahan tubuhku yang sedikit limbung.
"Kan...apa kubilang"
Kami berjalan beriringan dan dia selalu menggenggam tanganku kapanpun dan di manapun.
Didalam mobil aku semakin yakin bahwa lelaki itu sedang tidak baik-baik saja.
"Sayang..."
"Ada apa..?"
Dia menoleh sekilas dan membawa tanganku untuk di genggamnya.
"Cerita dong sama aku, supaya aku bisa kasih solusi.."
"Kalau kamu gak bisa kasih solusi..?"
"Setidaknya beban kamu berkurang karena sudah berbagi denganku"
"Aku hanya akan membagikan kebahagiaan ku padamu bukan beban kehidupan.."
Aku memanyunkan bibir dan dia hanya tersenyum melihatku.
"Mau makan apa sayang..?"
"Pengen makan yang berkuah"
"misalnya..?"
"Bakso "
__ADS_1
Panji melajukan mobilnya lebih cepat karena dia mengatakan akan membawaku ke sebuah tempat makan yang paling istimewa.
Kami turun di sebuah kedai makan yang begitu sederhana. Tak ada alunan musik ataupun suara riuhnya orang mengobrol.
"Ini tempat bakso paling legendaris "
Aku hanya mengikutinya dari belakang. Panji menyuruhku untuk duduk di sebuah kursi di depan kedai. Dia memesan tanpa bertanya apa yang ku inginkan karena dia sudah tahu pasti apa yang akan kupesan.
"Sepi sekali.."
"Dulu disini ramai..tapi semenjak kedai ini berpindah tangan sepertinya satu persatu pelanggan menjauh"
"Kenapa..?"
"Katanya rasanya berbeda "
Aku mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Panji menggenggam tanganku dan menatap wajahku seperti saat pertama dia datang.
"Ada apa..?"
"Sayang..ayo menikah"
"Hah..."
Aku kembali terkejut dengan ucapannya yang sedari tadi membuatku jantungan.
"Kenapa kamu selalu menolak saat ku ajak menikah..?"
"Aku belum siap"
"Alasan klise.."
"Mas.. mengertilah.."
"Apa yang membuatmu belum yakin padaku..?"
Obrolan kami terjeda saat pelayan mengantarkan pesanan. Dua mangkuk bakso dengan porsi besar tersaji di meja. Ada juga pangsit dan cumi goreng tepung beserta sambalnya. Dua gelas es jeruk juga tak luput dari pesanan.
"Mas.. keluargaku bukan keluarga yang harmonis. Aku anak broken home, banyak sekali masalah yang harus di selesaikan. Aku tak ingin kamu masuk kedalam keluargaku karena ini bukan waktu yang tepat"
"Apakah kamu menjamin suatu saat keluargamu membaik dan kita masih bersama..?"
"Maksudnya..?"
"Lama kelamaan cinta akan menghilang entah itu karena bosan atau yang lainnya.."
"Makanlah mas.. nanti baksonya dingin"
"Jawab sekarang,yes or no.."
__ADS_1
Dia menatapku tajam seolah tidak ada lagi celah untukku mengelak lagi.