
"Mih...ayo coba ceritakan, gimana bisa mami tiba-tiba hadir disini..?"
"Mami lupa awalnya seperti apa"
Ivone merenung dan mencoba untuk berbicara, walaupun suaranya terdengar bergetar.
"Tak usahlah jika mami belum mau bercerita"
Panji mendekati Ivone dan segera merangkulnya untuk memberikan kekuatan.
"Setelah mami mendengar ucapan kamu tentang adikmu yang mengundang kita. Sebenarnya mami sudah merasa tak enak hati.."
Air mata menetes dari kedua mata sendu itu. Panji semakin mengeratkan pelukannya.
"Mami mencoba menelpon Rahayu tapi mami urungkan. Karena mami merasa malu untuk sekedar menanyakan kabar adikmu, setelah berkali-kali penolakan yang mami lakukan".
"Seperti sedang merasakan apa yang mami rasakan,Rahayu menelpon mami dan meminta untuk memberikan restu. Walaupun nantinya mami tidak bersedia untuk datang"
"Ada satu ucapan Rahayu yang membuat mami tersiksa sampai tadi malam.."
Ivone menangis tersedu di pelukan Panji,dia seperti sedang menahan beban yang dia simpan selama ini.
"Jangan menangis mih.. Biarkan mami simpan untuk mami sendiri, obrolan dengan tante Rahayu"
__ADS_1
Ivone menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya dengan kedua tangannya.
"Rahayu mengatakan..Anak kita akan bertunangan,saya berharap nyonya mau memberikan restu walaupun dari kejauhan. Supaya anak kita hidupnya bahagia selamanya"
"Dia tidak mengatakan anak saya, tapi Rahayu mengatakan anak kita..siapa mami ini?mami hanya melahirkan adikmu tanpa pernah memberikan kasih sayang. Semenjak dia masih didalam kandungan sampai sekarang"
Tangis Ivone kembali pecah dan itu membuat Panji begitu sedih.
"Mami tidak memberikan adikmu pada manusia,tapi mami memberikan adikmu pada wanita berhati malaikat"
"Dia tidak egois,dia memberikan tempat untuk mami. Walaupun mami orang yang seperti ini"
"Mami... sudahlah yang berlalu biarlah berlalu, sekarang kita bisa memulai semuanya dari awal lagi. Ingat kita masih ada di acara yang bahagia,mami jangan menangis lagi"
Panji meringis karena dia sadar bahwa dia lah yang sudah memancing kesedihan ibunya.
"Ayo kita keluar, kasihan Sarah lama menunggu"
Keduanya akhirnya keluar dan bergabung bersama para tamu. Tanpa mereka sadari Rahayu mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Wanita cantik itu menitikkan air mata,dia sangat bahagia karena akhirnya putranya bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Sarah duduk sendirian menikmati indahnya dekorasi yang tersaji di depan mata. Dia belum menyentuh makanan apapun dari tadi karena dia merasa sangat bahagia.
Dimas yang sudah banyak berjasa di dalam hidupnya kini sudah menemukan gadis yang akan mendampinginya sampai tua nanti. Sedangkan Panji,pria baik itu kini menemukan keutuhan keluarganya.
__ADS_1
"Kamu melamun..?"
Sarah menoleh dan melihat Dimas sedang tersenyum duduk di sampingnya.
"Selamat karena sebentar lagi kamu akan menikah.."
"Terimakasih.."
Dimas tak berhenti menatap wajah Sarah dan itu membuat Sarah sedikit salah tingkah.
"Ada yang salah dengan wajahku"
"Tidak..aku hanya ingin menatap wajahmu sekali ini saja, sebelum dua bulan lagi aku akan memberikan hatiku seutuhnya pada calon istriku"
Sarah tertawa karena dia merasa Dimas sudah sangat berlebihan mengatakan hal itu padanya.
"Kamu harus bahagia Sarah.. karena aku tidak akan rela dunia akhirat jika kamu sampai menderita"
"Dalam sekali pembahasan ini,mana calon istrimu..?"
Sarah sengaja mengalihkan pembicaraan, karena dia sudah melihat Panji dan ibunya mendekat ke arah mereka.
"Sekarang kita sudah di garis takdir masing-masing,aku berharap kita bisa hidup bahagia selamanya. Perasaan yang pernah singgah, seharusnya harus dilupakan.."
__ADS_1
Sarah berbisik lirih dan itu membuat Dimas sedikit terluka.