
Panji memenuhi panggilan polisi ditemani pengacara dan juga Sarah. Sedari pagi mereka berjibaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, semua yang di tanyakan tak ada hubungannya dengan Panji.
Setelah menunggu selama tiga jam, akhirnya Panji menemui Sarah yang menunggunya di luar ruangan.
"Bagaimana..?"
"Gak apa-apa..ayo pulang"
Panji menggenggam tangan Sarah dan mereka beriringan keluar dari kantor polisi. Belum sampai di halaman mereka sudah dikerubungi oleh wartawan yang sudah menunggu.
Berbagai pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari para pewarta. Blitz lampu kamera tertuju pada mereka berdua.
"Teman-teman media, terimakasih atas perhatiannya. Saya tidak bisa berbicara panjang lebar, nanti kita lihat beberapa hari ke depan"
"Satu lagi..saya tidak pernah melakukan sesuatu yang bisa merusak nama baik keluarga besar, terimakasih"
Mereka berlalu setelah para pewarta meminta beberapa foto untuk dijadikan bahan berita. Tampak di kejauhan seorang pria berwajah oriental dengan pakaian yang sangat rapi tengah memperhatikan mereka.
"Siapa gadis di samping lawan kita..?"
"Sarah Ayunda.. kekasih Panji Gumilang"
Pria itu menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Cantik"
Beberapa rekan dan asisten hanya tersenyum melihat Yoga mengatakan itu. Mereka berpapasan dengan rombongan Panji dan mereka saling menganggukan kepala sembari tersenyum.
Yoga menatap lekat pada Sarah tanpa memperdulikan yang lainnya. Sedangkan gadis yang di tatap terus saja berjalan tanpa mengetahui apapun.
__ADS_1
Panji membukakan pintu mobil dan itu tidak luput dari pandangan Yoga. Bagaimana cara Sarah berterimakasih sembari tertawa.
"Cari informasi tentang gadis itu"
"Baik bos.."
Yoga dan rekan-rekannya masuk ke dalam kantor polisi. Sedangkan Panji dan Sarah sudah meninggalkan tempat itu sembari terus berdoa supaya semua yang terjadi mendapatkan jawaban.
"Aku langsung ke kantor"
"Hari ini tetaplah bersamaku"
"Why..?"
"Karena aku butuh kamu .gitu aja masih nanya"
Sarah hanya bisa menghela nafas panjang mendengar penolakan dari Panji. Dia benar-benar sudah lama tidak menginjakkan kakinya di kantor. Karena begitu banyak hal yang terjadi, semua waktunya habis begitu saja untuk mengurus semuanya.
"Mau menelpon siapa..?"
"Mau ngabarin Rara,kalau aku tidak masuk lagi ke kantor"
"Kenapa kamu marah..?"
"Gak ada yang marah mas.."
"Tapi nada bicaramu ketus sekali"
Sarah mencoba untuk tetap diam. Karena dia tahu saat ini Panji sedang lelah karena sebuah berita bohong.
__ADS_1
Panji mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia membelokkan mobilnya ke arah kantor Sarah dan itu membuat gadis itu heran.
"Kenapa kesini..aku sudah mengirim pesan untuk tidak masuk"
"Bekerjalah jika itu yang kamu inginkan"
"Mas...aku gak akan bekerja hari ini"
Panji tidak menggubris ucapan Sarah. Dia hanya diam seperti tidak perduli dengan ucapan gadis itu.
"Mas...ayo kita pulang atau kamu mau pergi kemana..?"
Mobil berhenti di parkiran dan Panji menekan tombol kunci.
"Turunlah..aku juga mau bekerja "
"Mas... ayolah, jangan seperti anak kecil "
"Cepat turun Sarah..aku tidak ada waktu untuk berdebat disini "
"Baiklah.."
Sarah membuka pintu mobil dan segera keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi. Mata gadis itu berkaca-kaca tapi dia berusaha untuk tidak menangis.
Panji segera menyalakan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sarah hanya menatap mobil berwarna hitam itu sampai hilang dari pandangan matanya.
Dengan tangan gemetar gadis itu memesan taxi. Dia berharap tidak ada yang melihatnya di parkiran. Hanya menunggu sepuluh menit taxi online itu datang dan Sarah langsung masuk kedalam.
Tidak tahan menahan diri akhirnya gadis itu menangis terisak hingga sopir sedikit melirik dari kaca spion.
__ADS_1
"Maaf nona... apakah anda sakit..?"
Sarah hanya menggelengkan kepalanya sembari mengusap air mata yang terus saja menganak sungai.