Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Dendam Yunita


__ADS_3

"Bu... apakah ini tidak akan membuat kita di penjara..?"


"Kamu bisa diem gak...?"


"Aku hanya takut dipenjara dalam kondisi hamil seperti ini"


Yunita menatap tajam pada anak perempuannya.


"Ini semua gara-gara kamu, semua yang terjadi kamu lah penyebabnya"


"Aku tidak pernah meminta ibu untuk menyebarkan berita bohong tentang anaknya nyonya Ivone"


"Biarkan saja... Ivone harus tahu kalau ibu tidak bisa di anggap remeh"


Sasha meremas ujung bajunya dengan perasaan tak menentu. Ada rasa takut didalam hatinya, bagaimana kalau dia dipenjara. Sudah menanggung malu, ditambah masuk kedalam hotel prodeo.


"Sarah juga tidak akan tega jika ibu masuk penjara. Kita peras dulu harta Ivone dan buat anaknya menikahi kamu"


"Aku tidak tahu Bu..kalau pengacara ibu tahu kita sudah berbohong. Tamatlah riwayat kita"


"Kalau kamu terus berkoar-koar seperti itu, seluruh dunia akan tahu kalau kita sedang berbohong.."

__ADS_1


Yunita dan Sasha akhirnya bertemu dengan Yoga Pratama, seorang pengacara muda yang kliennya dari berbagai penjuru kota. Tanpa berbasa-basi, Yoga pun menanyakan segala hal yang berkaitan dengan kasus yang akan ditanganinya.


"Baiklah..saya akan mempelajari semuanya, nanti asisten saya akan menghubungi ibu"


"Terimakasih pak Yoga.. saya berharap putri saya bisa mendapatkan keadilan "


Yunita dan Sasha akhirnya berpamitan setelah saling bersalaman.


"Kamu kenapa selalu gugup setiap kali pengacara itu bertanya tentang Panji..?"


"Karena aku tidak tahu siapa dia,Bu... bagaimana aku bisa menjelaskan segalanya, sedangkan orangnya saja belum pernah kutemui"


"Daripada ibu buang-buang uang untuk pengacara itu, lebih baik uang itu digunakan untuk biaya kelahiran ku nanti"


"Aku tidak akan sudi mengeluarkan uang untuk anak haram itu"


Sasha hanya membuang pandangannya ke arah jendela. Percuma saja,dia tidak akan menang melawan ibunya. Sopir yang mendengar percakapan mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Karena kedua wanita itu begitu berisik, tidak ada yang mau mengalah.


Keduanya sampai di rumah dengan rasa lelah yang luar biasa. Apalagi sasha yang sedang berbadan dua, terlihat wajahnya begitu letih. Karena mengikuti keinginan ibunya.


"Tora... Tora... kemana anak itu, pintu tidak di kunci"

__ADS_1


Sasha segera masuk kedalam kamarnya tanpa memperdulikan umpatan ibunya yang sedang mencari keberadaan Tora.


"Dasar anak-anak tidak berguna, percuma saja kalian ku rawat sampai sekolah tinggi. Kalau masih membuat hidupku susah"


Sasha merebahkan badannya di tempat tidur. Rasanya tubuhnya seperti tak ada lagi tulang. Bayangkan saja, pergi dari pagi dan pulang kerumah hampir tengah malam. Bolak-balik ke kota untuk menemui pengacara, hanya untuk menceritakan berita bohong.


"Darimana saja kamu...?rumah tidak di kunci, kalau ada maling bagaimana..?"


Tora tidak menjawab pertanyaan ibunya,dia segera mengambil piring untuk menuangkan makanan yang baru saja dia beli.


"Kamu tidak punya kuping,hah...?"


"Sudahlah Bu.. lebih baik ibu mandi dan minta ampun sama Allah, karena ibu sudah membuat berita bohong"


"Kurang ajar kamu..kamu tidak tahu apa-apa"


Tora membawa makanannya menuju ruang keluarga. Dia menyalakan televisi tanpa memperdulikan ibunya yang masih mengeluarkan sumpah serapah.


"Benar-benar keterlaluan.. kalian tidak tahu diri, tidak tahu balas budi pada orang tua"


Yunita masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu. Sasha yang mendengar semuanya hanya bisa menangis sembari mengelus perutnya yang semakin membuncit.

__ADS_1


__ADS_2