
Tiba-tiba saja ponsel Yunita berdering. Tidak biasanya ponsel itu berdering setelah kepergian Sasha beberapa bulan ini. Di lihatnya nama Sasha di layar ponsel.
"Ada apa..?"
"Bu, tolong aku Bu.."
Isak tangis terdengar dari ujung sana. Sebenarnya Yunita masih sakit hati dengan perbuatan putri kesayangannya itu,tapi hatinya tidak bisa menolak saat mendengar gadis itu menangis.
"Kenapa kamu menangis..?"
"Aku di kantor polisi Bu.."
"Hah.. kenapa..?"
"Kak Sarah memfitnahku.."
Yunita langsung naik pitam saat mendengar ucapan Sasha. Dia sangat marah pada Sarah karena selalu membuat keributan di dalam keluarga. Setelah berjanji akan segera membebaskan putrinya,Yunita pun segera menutup ponselnya dan mengajak Tora untuk pergi ke kota bersamanya.
Di kantor polisi Sasha terus saja menangis di pelukan ibunya. Dia menceritakan semua yang terjadi,tapi tentu saja dengan versi yang berbeda. Tora beberapa kali menasihati kakak perempuannya itu untuk tidak berbohong. Tapi Yunita malah memarahinya dan mengatakan kalau Tora dan Sarah sama saja. Sama-sama selalu bikin ulah.
"Bu..coba ibu pikir,kalau kak Sarah memang jahat seperti yang ibu katakan tadi. Tidak mungkin dia mau menampung kak sasha, padahal dia tahu kelakuan anak perempuan ibu yang satu ini.."
"Sudah kamu diam saja,anak kemarin sore tahu apa.."
"Itulah ibu.. selalu menutup mata kalau tentang kebenaran"
Yunita mencebik dan tidak memperdulikan ucapan anak bungsunya itu. Dia segera meminta penangguhan penahanan terhadap putrinya. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Sasha bisa dibawa pulang.
"Cepat telpon Sarah,ibu mau bertemu"
"Ponselnya tidak aktif Bu"
"Mungkin dia takut sama ibu"
"Bukan takut Bu,tapi kak Sarah malas berurusan dengan ibu"
"Kamu ini.. benar-benar mau jadi anak durhaka"
"Anak yang menasihati kebaikan, ibu bilang anak durhaka.Apa kabar anak ibu yang satu itu"
Tora berlalu pergi dari hadapan ibunya. Dia sudah mulai melawan setiap ucapan ibunya dan itu membuat Yunita kesal.
Terdengar deru mesin mobil berhenti di depan rumah. Yunita segera mengintip keluar dan dia melihat putri pertamanya turun dari mobil berwarna merah itu.
Tanpa menunggu lama Yunita pun segera membuka pintu dan telah siap dengan ocehan yang akan di tujukan pada Sarah.
__ADS_1
"Bu..apa kabar..?"
Tangan Sarah meraih tangan ibunya tapi di tepis begitu saja.
"Kamu gak usah pura-pura baik di depan ibu..Apa yang kamu lakukan pada adikmu..? Tega-teganya kamu menjebloskan dia kepenjara dalam kondisi hamil seperti itu.."
Sarah masuk kedalam rumah dengan wajah yang datar dan dia menepuk sofa di sampingnya.
"Duduk disini Bu..kita bicara baik-baik. Jangan sering marah-marah,nanti ibu darah tinggi dan tiba-tiba stroke"
"Kamu nyumpahin ibu kamu stroke,dasar anak durhaka "
"Kan..ibu salah paham lagi. Bukan nyumpahin tapi takut kalau ibu sakit"
Yunita meremas ujung bajunya menahan gemuruh di dada. Bagaimana bisa gadis di depannya itu begitu tenang saat dirinya memaki dan memarahinya. Apakah dia takut karena sudah berbuat salah..? Pikirannya berkelana kemana-mana.
"Duduklah Bu.. tutup pintunya. Nanti tetangga dengar,malu"
Yunita menuruti keinginan Sarah dan segera menutup pintu dengan keras.
"Coba ceritakan, kenapa Sasha bisa masuk penjara"
"Karena kamu memfitnah adikmu sedemikian rupa. Sehingga para tetangga membawanya ke kantor polisi "
"Fitnah apa..?"
"Memasukkan pria kedalam rumah"
"Memang begitu adanya kok.. Ada pria di dalam rumah ini,bukan fitnah Bu"
"Kamu ada buktinya..?"
"Ibu yakin mau lihat buktinya, nanti ibu malu"
Yunita tetap bersikeras untuk melihat bukti yang ada di dalam ponsel Sarah. Walaupun Sarah tahu itu bukan hal yang harus di pertontonkan tapi ibunya harus tahu kenyataan yang sebenarnya.
Sarah membuka ponselnya dan memberikan bukti cctv pada ibunya. Yunita berteriak sangat keras sampai-sampai Sasha dan Tora berhamburan keluar kamar.
"Ada apa Bu..?"
Mereka bersamaan menghampiri ibunya. Sasha segera mundur setelah mengetahui Sarah berada disana. Sedangkan Tora segera mencium tangan Sarah dan memeluk tubuh perempuan cantik itu.
"Sashaaaa.. memalukan kamu"
Yunita segera bangkit dari duduknya dan menjambak rambut panjang Sasha tanpa ampun. Sarah dan Tora hanya melihat tanpa berniat menolong.
__ADS_1
"Kamu benar-benar melemparkan kotoran ke wajah ibu.. Mimpi apa ibu punya anak seperti kamu. Bukannya belajar dari kesalahan,kamu malah semakin menjadi-jadi"
"Ampun Bu..ampun. Aku hanya tidak ingin kak Sarah lebih bahagia dari aku. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasakan"
Yunita terus saja memaki dan memukul tubuh Sasha. Sarah yang mendengar pengakuan Sasha hanya terdiam. Dia tidak mengerti apa kesalahannya sehingga adik dan ibunya begitu membenci dirinya.
"Sudah Bu..malu sama tetangga"
Tora segera memisahkan ibu dan kakak perempuannya itu.
"Dasar anak kurang ajar... tega-teganya kamu membohongi ibu"
Tora dengan susah payah menyuruh ibunya untuk duduk. Yunita tersengal-sengal karena rasa kesal bercampur aduk.
"Mulai sekarang aku tidak ingin lagi kamu tinggal disini"
Sasha semakin menangis mendengar ucapan Sarah.
"Ajaklah dia pulang bersama ibu,aku tak ingin lagi ikut terlibat dalam hidup kalian"
"Apa yang kamu katakan..?"
"Sarah tidak mau lagi menampung anak kesayangan ibu, karena pada akhirnya dia membuat kekacauan di hidup Sarah"
"Kamu jangan keterlaluan..Ibu tidak mungkin membawanya pulang dalam kondisi seperti ini, memalukan"
"Ibu tidak ingin malu,tapi ibu tidak memikirkan bagaimana malunya aku punya adik seperti dia"
Yunita memalingkan wajahnya,dia tidak percaya putri yang selalu menuruti setiap keinginannya,berani berkata seperti itu padanya.
"Memang benar.. kamu tidak menyayangi ibu. Sifatmu sama seperti ayahmu, egois"
"Harusnya ibu masuk ke dalam kamar dan bercermin.. Ucapan itu harusnya ditujukan pada ibu,bukan padaku"
"Cukup Sarah...cukup kamu menyakiti hati ibu. Tuhan akan murka jika kamu melanjutkan ucapanmu.."
"Hahhahhaha...Tuhan tahu semuanya,jadi ibu tenang saja"
Sarah segera bangkit dari duduknya dan merapikan pakaian. Dia mengambil uang dari dompetnya dan menyerahkan nya pada Tora. Adik lelakinya itu segera mengambil uang pemberian Sarah tanpa bertanya apapun lagi.
"Berkemaslah...besok aku tidak ingin lagi melihat kamu dirumah ini"
Sasha menatap wajah Sarah. Dia tidak menyangka kakak perempuannya itu tega mengusirnya dalam kondisi seperti ini.
"Sarah pulang dulu Bu.. Tidak usah naik angkutan umum. Carilah mobil untuk mengantar kalian pulang ke rumah"
__ADS_1
Tora segera mengejar kakak perempuannya dan memeluk Sarah dengan erat. Yunita tidak bergeming dari tempatnya,dia benar-benar seperti mendapatkan serangan bertubi-tubi. Sasha yang membohonginya dan Sarah yang mengusirnya dengan halus.