Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Biarkan aku pergi


__ADS_3

Sasha sudah memasukkan semua baju dan perlengkapan yang dia perlukan. Rasa nyeri karena operasi caesar sudh tak lagi di rasakannya. Dia berkali-kali mengetuk pintu kamar ibunya hanya untuk berbicara sebentar sebelum kepergiannya. Tapi sepertinya ibunya tidak ingin melihat Sasha untuk yang terakhir kali.


"Bu... Sasha berangkat dulu,ibu jaga diri...jangan sampai ibu sakit"


Tak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Sasha hanya bisa menghela nafas panjang dan segera menyeret kopernya keluar rumah.


Sebelum Sasha sampai di depan pintu,Kamar Yunita terbuka dan wajah yang terlihat lelah itu keluar dari kamar.


"Kamu benar-benar ingin meninggalkan ibu sendirian..?"


Sasha menoleh dan segera menghampiri ibunya untuk memeluk wanita paruh baya itu.


"Terimakasih ibu mau menemuiku.."


Sasha menangis di pelukan ibunya, begitupun wanita paruh baya itu dia menangis sembari mengusap rambut putrinya.


"Apakah tidak ada jalan lain, selain pergi dari sini..?"


"Tidak ada Bu...aku mau melanjutkan hidupku tanpa bayang-bayang masa lalu yang hampir membuatku gila"


Yunita menatap wajah putrinya,dia mencium kedua pipi Sasha secara bergantian.


"Ibu tak punya bekal apapun buatmu..tapi ibu ada sedikit tabungan yang bisa kamu pakai untuk jajan selama di perjalanan nanti"


Yunita memberikan amplop berwarna coklat. Sasha menolak karena dia tidak ingin membebani ibunya lagi. Tapi Yunita bersikeras dan memasukkan amplop itu kedalam tas kecil yang dibawa Sasha.

__ADS_1


"Maafkan Sasha Bu.. maafkan semua hal yang sudah Sasha lakukan selama ini"


"Kamu tidak salah nak...ibu yang salah"


Tin tin tin


"Sudah waktunya Sasha berangkat Bu.."


"Hati-hati nak... ibu tidak bisa mengantarkan mu sampai di bandara.."


Keduanya kembali berpelukan dan Yunita pun segera menyuruh Sasha untuk pergi. Sasha kembali menangis karena ibunya langsung masuk ke dalam kamar tanpa menoleh lagi.


Gadis itu segera memasukkan kopernya ke dalam mobil. Tora hanya diam saja di belakang kemudi,tanpa mengatakan apapun.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mereka sengaja mengambil waktu lumayan lama supaya Sasha masih bisa beristirahat tanpa terburu-buru takut ketinggalan pesawat.


Tora masih diam tak menjawab, Sasha kembali melihat jalanan yang masih lengang.


"Jaga diri kamu... pulanglah saat kamu sudah siap untuk bersama kami lagi"


Sasha mengotak-atik ponsel yang berada ditangannya. Dia mengirimkan pesan singkat untuk Sarah, walau bagaimanapun kakak perempuannya itulah yang telah mengeluarkan dirinya dari situasi yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya.


Tak ada balasan bahkan pesan itu hanya centang satu.


"Aku mungkin tak akan kembali kesini"

__ADS_1


Keduanya kembali terdiam, sama-sama berperang dengan fikiran masing-masing. Ponsel Sasha berbunyi dan gadis itu tersenyum saat membuka pesan.


"Sebenarnya siapa yang mengajakmu pergi ke luar negeri..?"


"Pacarku.."


"Lelaki bajingan yang tak mau bertanggung jawab itu..?"


"Tidak...kamu tidak tau pacarku yang sekarang"


"Luar biasa...saat hamil sampai melahirkan tidak ada siapapun yang perduli, sekarang mau enaknya saja. Aku tak mengerti"


"Kamu tidak harus mengerti "


"Jangan lupa...keluarga kamu yang malu saat semua yang terjadi sampai hari ini"


"Aku tidak akan lupa.. dan kamu harus tau aku lebih terluka dengan semua yang terjadi "


"Memang kamulah yang harus menanggung semuanya "


Mereka pun sampai di parkiran bandara terbesar di kota itu. Sasha memeluk adik bungsunya dan mencium pipi lelaki muda itu.


"Aku minta maaf untuk semuanya dan terimakasih.."


"Jaga dirimu baik-baik.."

__ADS_1


Sasha keluar dan meminta Tora untuk tetap duduk di mobil. Gadis itu melambaikan tangan dan segera berlalu tanpa menoleh lagi.


Tora menitikkan air matanya dan menatap punggung kakaknya sampai hilang dari pandangan matanya.


__ADS_2