Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Luapan emosi


__ADS_3

Aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sasha terlihat sangat tegang saat mengetahui kami akan menemui ibu. Berkali-kali aku memastikan semuanya akan baik-baik saja dan dia percaya.


Perjalanan yang kami tempuh terasa sangat lama, karena berkali-kali Sasha meminta untuk beristirahat karena merasa mual. Kami pun beberapa kali singgah di rumah makan untuk mengisi perut yang lapar. Walaupun Sasha kadang hanya makan camilan dan air hangat.


Ponsel ku matikan setelah aku meminta izin pada panji untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Tanpa banyak bertanya dia pun mengiyakan dan membekaliku dengan transferan yang sangat banyak. Sungguh pacar yang sangat pengertian bukan...?


Kami tiba di rumah ibu saat matahari hampir tenggelam. Karena aku tak ingin menghadapi para tetangga yang kepo dengan kepulangan kami.


Rumah kami sekarang sudah selesai di renovasi. Benar-benar rumah yang sangat besar dan mewah.


Sasha membuka pagar dan aku mengekor di belakangnya. Pintu rumah masih terbuka tapi tak ada satupun orang terlihat.


"NGAPAIN KAMU PULANG KE RUMAH KU LAGI..?"


Sebuah teriakan sukses membuat aku dan Sasha terkejut.


"Keluar..keluar dari rumahku.."


Ibu mendorong tubuh Sasha dengan sangat kasar. Sasha tidak melawan dia hanya menangis sambil memegangi lengan ibu.


"Duduklah Bu..kita bicarakan baik-baik"

__ADS_1


Tiba-tiba Tora memeluk ibu untuk menenangkan nya. Aku hanya melihat saja sambil duduk menopang sebelah kaki.


Ibu menangis histeris begitu juga Sasha yang sudah duduk di lantai sambil terisak. Tora menarik ibu untuk duduk di depanku.


"Duduklah di atas Sha.." ucapku.


Tapi Sasha tidak bergeming, mungkin dia takut ibu akan melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.


"Ada apa ini Bu..?"


"Kamu tidak usah bertanya, karena aku tahu kamu pasti sudah tahu apa yang sudah terjadi"


"Sasha hamil tapi ibu malah mengusirnya.."


Ibu menatap tajam padaku,tapi di balik tatapannya aku tahu ibu terluka.


"Kamu pasti tertawa sekarang, melihat Sasha hamil di luar nikah.."


"Kenapa aku harus tertawa Bu..?"


"Karena kamu berhasil membuatku terluka.."

__ADS_1


"Hahahaha...Apa aku yang membuat anak kesayangan ibu, bisa hamil tanpa seorang suami..?"


Tora dan ibu terlihat begitu terkejut saat mendengar aku tertawa terbahak-bahak. Mungkin mereka berfikir aku sudah gila karena bisa tertawa saat semua orang sedang terluka.


"Kenapa setiap rasa sakit yang ibu rasakan,harus aku yang jadi sasaran kemarahan ibu..? Kenapa selalu aku yang salah di mata ibu..? KURANG APA AKU SELAMA INI,HAHH...?"


Entah setan apa yang merasuki, sehingga aku bisa berteriak di depan wanita yang sudah melahirkan ku itu..


"Sarah..." bisik ibu lirih.


"Aku yang memeluk diriku sendiri saat aku terluka..aku yang berusaha untuk tidak bunuh diri saat dunia begitu kejam padaku.. Apakah ibu ada disana..? apakah ibu ada untuk sekedar bertanya padaku? Nak..apa kamu cukup makan??nak apa kamu cukup tidur..? Ibu tak pernah bertanya.."


Aku menangis sejadi-jadinya bahkan bukan sekedar menangis,itu terdengar seperti sebuah ratapan.


"Ibu hanya menganggapku sebagai mesin pencetak uang..ibu tidak pernah mencintaiku,ibu selalu mengatakan keburukanku pada semua orang. Aku di cap anak durhaka karena ucapan ibu..Aku anak durhaka dan..SEMUA ORANG TAHU ITU..."


Tora segera memelukku dan ikut menangis bersamaku.


"Kakak...." ucapnya lirih.


"Aku juga manusia Bu..aku juga punya hati punya perasaan.Tolong sekali saja anggap aku sebagai seorang anak, karena aku juga putri ibu. Putri pertama ibu,putri yang lahir karena cinta ayah dan ibu..."

__ADS_1


Aku menangis sampai kepalaku terasa pusing, tapi entah mengapa dadaku begitu lega rasanya.


Maafkan aku Tuhan..aku sudah benar-benar menjadi anak durhaka..


__ADS_2