
Ponselku berdering berkali-kali. Aku mengucek mataku dan melihat jam di dinding,pukul tiga pagi. Dengan malas aku mengangkat panggilan itu walaupun aku tak tahu itu nomor siapa.
"Hmmm..."
"Kak...tolong aku"
Isak tangis terdengar dari ujung sana. Aku kembali mengucek mataku dan melihat lagi nomor yang yang tertera di layar.
"Sasha..."
"Kakak dimana..?aku ke rumah kontrakan kakak tapi orang lain yang tinggal disana"
"Ada apa kamu malam-malam menelpon..?"
Entah mengapa rasa sakit yang sudah ibu dan adikku torehkan, membuatku tidak terenyuh sama sekali mendengar isakan adikku itu.
"Bolehkah aku menemui kakak..?"
"Aku sedang diluar kota.. katakan ada apa kamu menghubungiku..?"
Sasha tak lagi mengatakan apapun. Dia hanya terdengar terus menangis dan terisak. Panggilan suara berubah menjadi panggilan video. Tapi aku tak berniat untuk memberitahukan hidupku sekarang padanya.
"Sekarang kamu dimana..?"
"Aku masih di teras rumah lama kakak..aku bingung harus kemana"
"Pergilah ke hotel, nanti aku akan mengirimkan uang"
Dia berkali-kali berterima kasih padaku. Aku segera mengakhiri panggilan setelah melakukan transfer uang padanya.
Walaupun aku tak tahu ada apa dengannya. Entah mengapa aku tidak bisa lagi melanjutkan mimpi indah ku. Berkali-kali aku menarik nafas panjang karena aku tahu pasti Sasha sedang dalam masalah. Karena tidak mungkin dia datang padaku saat dia sedang baik-baik saja.
Sampai pagi hari mataku tetap tidak bisa terpejam. Aku segera bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aku kembali tertidur di bathtub dan terbangun saat cahaya matahari sudah masuk kedalam rumah.
Setelah mandi dan berganti pakaian aku pun naik kembali ke tempat tidur. Rasanya badanku benar-benar butuh istirahat. Saat akan memejamkan mata, bel pintu berbunyi nyaring.
__ADS_1
Dengan langkah gontai aku segera keluar kamar dan menuruni tangga. Aku yakin sekali yang datang sepagi ini adalah pria dingin itu.
Saat membuka pintu ternyata bukan Panji yang datang.. Tapi seorang wanita paruh baya yang masih cantik di usia senjanya,Ivone..
"Masuk tante.."
"Apa kabar sayang..?"
Perempuan cantik itu langsung memelukku erat. Aku menggandengnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Mau minum kopi..?"
"Enggak nak..mami kesini hanya pengen ketemu kamu aja. Gilang bilang kamu kemaren sempat pingsan"
"Iya tante, kecapean"
"Makanya jangan capek-capek"
Aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Kamu udah sarapan..?"
"Hah..jam segini belum lapar?"
Wanita cantik itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon Panji untuk segera datang kerumah ku. Tidak lupa beliau mengatakan untuk membawa sarapan yang biasa dimakan olehku.
"Gak usah repot-repot tante.. lagipula ini sudah waktunya Panji ke kantor"
"Udah biarin aja.. sekali-kali laki-laki itu harus di repotin. Supaya tahu ada perempuan disini sedang menunggu di perhatikan.."
Aku tertawa mendengar ucapan tante Ivone yang menggebu-gebu. Setelah bercerita kesana-kemari tante Ivone berpamitan kepadaku.
Saat mengantar nya ke luar rumah,mobil panji baru saja parkir di halaman. Panji menghampiri ibunya dan mencium tangan wanita paruh baya itu.
"Mami mau kemana?"
"Ya pulanglah nak bagus.."
__ADS_1
"Katanya mau sarapan.."
"Itu nak Sarah yang mau sarapan..jadi cowok gak peka amat"
Panji hanya bisa menggaruk kepalanya dan tersenyum. Setelah saling mengingatkan akhirnya anak dan ibu itu berpisah. Ibunya pulang kerumahnya dan anaknya masuk ke rumahku. Tragis memang, rencana ingin istirahat masih diganggu dengan kedatangan para tamu..
"Kenapa..?"
"Hah..."
"Kamu gak suka aku datang kesini..?"
"Iya..aku ingin tidur lagi"
Panji memelukku dengan gemas.
"Kamu itu kenapa sih gak bisa berbasa-basi.."
"Basa-basi busuk.."ucapku.
"Bohong dikit gitu..biar aku seneng"
Aku mencebik dan segera mengambil sendok dan mangkuk ke dapur. Tidak lupa aku membuatkan segelas teh hangat untuk pria jangkung itu.
"Kamu masih gak enak badan?"
"Hu'um.."
"Jangan lupa obatnya harus terus diminum sampai habis.."
"Oke.."
Dia hanya menggelengkan kepala saat mendengar jawabanku.
"Jadi orang kok gak ada manis-manisnya.."
"Kita sama.."sahutku lirih.
__ADS_1
Seperti biasa kami sarapan dalam diam tanpa membicarakan apapun lagi. Karena bagi Panji,makan adalah obat. Jadi sebisa mungkin harus di nikmati tanpa terganggu oleh obrolan yang ujung-ujungnya mempengaruhi selera makan..