
Yunita diam saja saat Yoga mencecar dirinya dengan beberapa pertanyaan. Dia hanya menjawab saat Yoga sudah tidak lagi bicara.
"Kalau nyonya terbukti berbohong,fatal akibatnya. Bukan hanya untuk nyonya saja tapi untuk karir saya juga"
"Setelah semua yang saya inginkan tercapai,anda juga sudah tidak akan dilibatkan kembali"
"Iya kalau sampai ke meja persidangan,kalau hanya tahap penyelidikan terbukti semuanya fitnah,apa nyonya tidak akan malu"
Yunita terpekur sesaat,dia tidak bisa lagi berfikir jernih karena yoga sudah membacakan pasal apa saja yang akan dikenakan padanya. Saat terbukti dia mencemarkan nama Panji Gumilang.
"Jujurlah sekali ini saja pada saya.. supaya saya bisa membantu"
Yunita menangis sesenggukan dan itu membuat Yoga semakin kesal. Dia menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya dengan wajah yang tidak bisa di baca.
"Saya hanya ingin Sasha bisa hidup enak seperti Sarah sekarang"
"Maksud nyonya bagaimana..?"
"Sarah bukan anak yang baik,dari dulu dia begitu merepotkan saya. Bahkan saat Sasha menyukai Panji,anak sulungku itu langsung mencari cara untuk dekat dengan lelaki itu"
Yoga mencerna setiap ucapan wanita paruh baya yang sekarang duduk didepannya itu. Tapi entah mengapa dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Yunita. Karena sekilas saja melihat Sarah, orang akan tahu betapa baiknya gadis itu.
"Jangan tutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya"
Yunita menatap wajah Yoga lalu tersenyum sekilas.
"Apakah sekarang anda sedang menginterogasi saya..?"
"Saya hanya ingin tahu kebenarannya"
"Kebenarannya adalah saya tidak ingin Sarah hidup bahagia. Kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi,saya permisi dulu"
Yunita beranjak keluar dari ruangan Yoga dan lelaki itu tak mengatakan sepatah katapun.
"Drama keluarga ini begitu klasik"
__ADS_1
Yoga meminta rekan-rekannya untuk menemuinya saat makan siang untuk membahas klien mereka yang membuat Yoga selalu berpikir keras.
"Mungkin kamu terlalu terbawa perasaan"
Lelaki berlesung pipi di sebelah Yoga tanpa tedeng aling-aling langsung mengatakan itu.
"Maksud kamu..?"
"Bukankah asisten mu sibuk mencari tahu tentang...siapa itu aku lupa..?"
"Sarah..Sarah Ayunda"
Lelaki kedua yang sedang mengaduk kopinya ikut menimpali.
"Kalian ini kenapa selalu sok tahu"
Keduanya terkekeh geli melihat wajah Yoga yang memerah seperti sedang ketahuan berbohong.
"Maaf aku terlambat"
Pria bermata coklat menarik kursi setelah meminta maaf pada semuanya.
Mereka semua kompak tertawa mendengar ucapan Stevan.
"Apa yang ku lewatkan..?"
"Tak ada.." ucap Yoga.
"Ada..." sahut Stevan.
"Apa..?"
"Teman kita ini sedang jatuh cinta pada rival kita"
"Astaga...Gw gak nyangka elu ho...."
__ADS_1
"Heyyy..."
Mereka bertiga kompak berteriak sebelum Rivaldo meneruskan ucapannya.
"Apa...benar kan ucapanku,rival kita itu laki-laki. Panji Gumilang seorang eksekutif muda yang sangat terkenal. Tampan dan begitu berwibawa"
"Gw gak serendah itu" ketus Yoga kesal.
"Jadi..?"
"Yoga sedang naksir kekasihnya Panji Gumilang"
"Ngomong dong dari tadi"
"Elu yang menyimpulkan sendiri,malah nyalahin orang"
Rivaldo terkekeh geli mendengar ucapan Yoga yang kesal karena kesalahpahaman tadi.
"Gw lapar,apa yang enak disini"
"Ikan tuna pedas..itu sih yang enak menurut gw"
"Elu giliran makanan aja cepet nyambung nya"
Pria bernama Haikal tertawa dan melanjutkan suapannya. Mereka berempat makan dengan lahap sambil membicarakan kasus-kasus yang sedang mereka tangani.
"Gw rasa nyonya Yunita berbohong"
"Kalau elu mau menarik kasus ini,gw ikut aja"
Haikal dan Stevan menganggukan kepala tanda setuju dengan pernyataan Rivaldo. Yoga mengaduk minuman dingin di tangannya.
"Tapi elu masih penasaran kan sama gadis itu..?"
Yoga tidak mengiyakan ataupun menyangkal ucapan Stevan.
__ADS_1
"Gw rasa sekarang elu kena batunya"
Haikal mengatakan itu sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya..