Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Kencan


__ADS_3

Rambutku sengaja ku ikat ekor kuda. Riasan wajah yang sangat natural menopang penampilan ku malam ini. Aku mematut diriku di depan cermin dengan bibir yang selalu ingin tersenyum.


Akupun keluar rumah setelah selesai bersiap. Panji dengan gaya duduknya yang khas masih setia menungguku di teras rumah.


"Aku sudah siap.."


Dia menoleh dan tersenyum melihat penampilanku.


"Seperti bocah.." ujarnya


"Hey..itu pujian atau hinaan..?"


Dia tidak merespon hanya mengangkat bahu dan mulai berjalan mendahuluiku. Aku hanya tersenyum walaupun rasanya kesal karena dia selalu mengolok-olok diriku.


Mobil perlahan menjauh dari rumah dan aku sibuk berceloteh tentang segalanya. Dia hanya menjawab sesekali tanpa menyuruhku untuk diam.


"Aku mau nonton.."


"Oke.."ujarnya.


Mobil masuk kesebuah perumahan elit dan otakku mendadak ngeblank.


"Pak..aku bilang aku mau nonton.."


"Iya..ini kita mau nonton.."sahutnya lagi.


Mobil berhenti di pekarangan rumah yang sangat cantik. Rumah yang bergaya Jepang itu berwarna abu-abu. Aku turun mengikuti pria itu tanpa bertanya lagi.


Panji memutar anak kunci dan membuka pintu. Aku mengekor di belakangnya seperti anak kecil yang hilang.


Dia membawaku ke sebuah ruangan yang sangat besar rasanya seperti berada di gedung bioskop.


"Mau nonton film apa.."


"Horor.."ucapku sekenanya.

__ADS_1


Dia memilih beberapa film bergenre horor dan memutar film horor dari negara Thailand.


"Aku mandi dulu.."


"Oke.."jawabku.


Aku duduk sendirian di temani layar besar yang sedang memutar film hantu rasanya seperti berada di tempat kejadian.


"Sialan.."ujarku menggerutu.


Pria dingin itu menghampiriku dengan membawa baki ditangannya. Semangkuk besar Popcorn dan minuman dingin.


"Silahkan di makan nona.."


Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya yang berbeda jauh seratus delapan puluh derajat jika sudah berdua saja denganku.


"Kamu takut..?"


"Sedikit.."ujarku berbohong.


"Kamu bukan pembohong yang handal..."


"Aku malah lebih takut duduk berdua saja denganmu.."


Dia menyelipkan tangannya di di pinggangku dan semakin merapatkan jarak di antara kami.


"Apa ini pak tua..?"kekehku.


"Aku belum begitu tua..jadi berhentilah mengolok usiaku.."


Kami melanjutkan menonton film tanpa suara. Hanya deru nafas dan sesekali aku yang berteriak karena terkejut ketika hantu mulai terlihat.


"Kamu boleh berlindung disini.."


Dia menunjuk dadanya sembari tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Modus.."ucapku kesal.


"Sarah..aku cinta kamu.."


Aku menatap wajahnya untuk melihat apakah aku salah dengar atau tidak.


Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan bibir kami pun bertemu. Entah siapa yang memulai hingga akhirnya kami saling mencium satu sama lain. Bukan ciuman yang hanya sekilas tapi ciuman yang penuh gairah.


Tangannya mulai bergerilya di atas tubuhku.. Kami benar-benar terlena sampai dia berhenti saat aku menahan tangannya untuk tidak semakin jauh.


"Maaf..."ucapnya lirih


"Gak apa-apa.." sahutku


Aku melihat penyesalan di wajahnya.


Cupp...


Aku mengecup pipinya dan membelai wajahnya.


"Kamu hanya menciumku pak tua...jadi gak usah minta maaf"


Dia tersenyum dan memeluk tubuhku dengan penuh kasih sayang. Aku membalas pelukannya dan mengusap punggung lebarnya.


"Mari menikah... supaya aku tanganku bisa kemana-mana.."


"Mari kita berkencan dulu.. setelah itu kita menikah.."balasku.


Dia menatap wajahku lagi dan tersenyum.


"Keluarlah dari kantor.."


"Kamu memecat ku.."


"Aku akan memberimu uang untuk modal usaha.."

__ADS_1


"Baiklah..akan aku pertimbangkan.."ucapku sembari tertawa.


Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah ini tapi aku harap semuanya akan baik-baik saja...


__ADS_2