
Aku memasuki parkiran sebuah hotel bintang tiga setelah mengemudi dengan cepat. Setelah menelpon Sasha akupun berniat untuk segera menemuinya dan menanyakan keadaannya.
Kami bertemu di lobi hotel, terlihat sangat jauh sekali penampilan Sasha. Rambutnya hanya di ikat asal-asalan, tubuhnya sedikit berisi dengan wajah tanpa make-up.
"Kakak..."
Dia memelukku erat sekali dan terdengar isakannya,saat wajahnya terbenam di pelukanku.
"Ada apa..?"
Walaupun aku masih merasakan sakit karena semua perlakuan dia selama ini. Aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran ku.
"Kamu sudah sarapan..?"
Dia hanya menggelengkan kepalanya dan aku pun menggenggam tangannya untuk membawanya sarapan di luar hotel.
Kami hanya tinggal menyebrang saja, karena di seberang hotel banyak sekali resto atau kedai makanan.
"Kamu mau sarapan apa..?"
"Terserah kakak saja asal jangan nasi.."
"Bubur ayam mau..?"
Sasha mengangguk sembari terus berjalan di sampingku. Dari sekian banyak pilihan untuk sarapan,aku memang lebih menyukai bubur ayam untuk mengganjal perut sampai makan siang nanti.
Kami duduk berhadapan setelah memesan dua mangkuk bubur dan dua gelas teh panas.
"Kakak sekarang tinggal dimana..?"
__ADS_1
"Lumayan jauh dari kontrakan kemaren"
Dia mengaduk buburnya dan aku membiarkan dia untuk makan terlebih dahulu. Sungguh rasanya melihat Sasha sekarang hatiku sangat miris.
Bagaimana tidak,sebagai anak gadis yang paling di cintai ibu. Sasha tidak pernah merasakan hidup susah. Dengan berbagai cara ibu akan mengusahakan ada untuk putri kesayangannya itu. Dia tidak pernah berpakaian sembarangan. Orang yang selalu terlihat sempurna, kini seperti dua orang yang berbeda.
"Apa kabar ibu dan Tora..?"
"Mereka baik-baik saja.."
"Ada apa kamu kemari..? bagaimana kuliahmu..?"
Dia diam saja sambil terus mengaduk buburnya.
"Sasha.."
"Tolong aku kak...aku hamil..."
Rasanya aku tak percaya mendengar penuturan gadis di depanku itu. Apa tadi dia bilang,hamil..?
"Sasha..jangan bercanda"
Dia menatapku, buliran air matanya mengalir deras. Tiba-tiba saja perutku mual dan aku benar-benar kehilangan nafsu makanku.
"Apa ibu tahu?"
Dia mengangguk sembari mengusap air matanya.
"Siapa laki-laki itu Sha..?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu.."
Dia menangis dan kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang menikmati sarapan mereka.
Aku segera membayar makanan yang kami pesan dan segera mengajak Sasha untuk meninggalkan tempat itu.
Dengan jantung yang berdebar kencang aku segera meminta Sasha untuk mengemasi barang-barangnya dan segera meninggalkan hotel.
Didalam mobil aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku mengemudikan mobil dengan perasaan yang sangat kacau.
Tiba-tiba aku menginjak pedal rem mendadak. Karena seperti ada batu besar menimpa kepalaku.
"Maafkan aku kak.."
Tangisnya pecah kembali dan itu terdengar sangat memilukan.
"Apa kamu bodoh, sampai kamu tidak tahu siapa yang sudah membuatmu hamil,hah.."
Sasha masih saja menangis dan itu membuatku sangat kesal.
"Berhenti menangis dan katakan siapa orangnya.."
"Aku tidak tahu karena itu terjadi saat aku sedang mabuk"
"Arggggggggggghhhhhh"
Aku berteriak dan memukuli kemudi. Sasha terlihat sangat syok melihat ku seperti itu. Karena mereka hanya tahu aku adalah orang yang paling sabar dan tidak pernah sekalipun menunjukkan rasa marahku.
Rasanya sia-sia saja apa yang kulakukan selama ini. Hidup merantau menikmati perih dan sakitku sendiri tapi pada akhirnya ini yang ku dapatkan..
__ADS_1
Dan ibu...Aku tahu ibu adalah orang yang paling terpukul atas peristiwa ini. Tuhan..aku memang marah pada mereka tapi bukan ini yang ku inginkan...