
"Kayaknya pengacara ibu, menyukaimu"
Sarah terbatuk mendengar penuturan Panji. Dia segera menenggak minuman dingin disampingnya.
"Apa sih mas..?"
Panji mengaduk makanannya seolah tak mendengar pertanyaan Sarah.
"Mas...?"
"Hmm.."
"Apa maksud ucapan mas barusan..?"
"Yoga Pratama sepertinya menyukaimu"
"Kenapa mas bisa bicara seperti itu?"
"Sayang...aku bukan anak kecil lagi,aku tau ketika laki-laki menyukai seorang perempuan"
"Gak masuk akal"
Sarah kembali makan sembari terus menatap tajam pada kekasihnya. Panji terkekeh geli melihat wajah gadis itu memerah karena kesal padanya.
"Ketawa lagi"
"Wajar saja setiap pria menyukaimu,saat marah saja kamu cantik sekali"
"Bodo amat"
Mereka berdua akhirnya tertawa setelah Panji mengedipkan sebelah matanya. Mereka melanjutkan makan dalam diam, tanpa mereka sadari seseorang sedang mengawasi mereka sedari tadi.
"Boleh saya duduk disini..?"
Suara berat itu membuat Panji dan Sarah menoleh bersamaan. Yoga dengan senyum terkembang di bibirnya menunggu mereka untuk mengatakan iya atau tidak.
__ADS_1
"Silahkan"
Panji segera mempersilahkan pria itu untuk duduk bersama mereka. Sedangkan Sarah hanya diam seribu bahasa. Memang siang ini cafe sangat ramai pengunjung sehingga kursi yang di sediakan sudah penuh.
"Apa kabar tuan Panji Gumilang..?"
"Saya.. seperti yang anda lihat, sangat baik dan bahagia"
Salah seorang pelayan membawa menu dan menyimpannya di depan Yoga. Pria itu memesan orange jus dan spaghetti bolognese. Berkali-kali dia mencuri pandang pada gadis di depannya.
"Kebetulan kita bertemu disini,ada yang ingin saya bicarakan.."
"Mas...aku ke toilet sebentar"
Panji menganggukkan kepalanya dan menatap punggung gadis itu sampai hilang dari pandangan.
"O,iya...apa yang tadi mau anda sampaikan..?"
"Begini.. saya sebagai pengacara dari pihak lawan, hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan"
"Sepertinya kasus ini tidak akan naik ke meja hijau"
"Kenapa..?"
Obrolan mereka terhenti karena pesanan Yoga sudah datang dan pria itu segera mengaduk makanannya. Panji berkali-kali mengedarkan pandangannya karena sudah lama sekali Sarah pamit padanya untuk ke toilet.
"Apa kasus ini hanya sebuah kebohongan semata..?"
Panji mengangkat bahu dan melanjutkan suapannya.
"Saya bisa saja mengulur waktu untuk melakukan tes DNA tapi untuk apa..? hanya membuang waktu percuma"
"Tuan Yoga Pratama...saya bertanya sebagai seorang lelaki,ada maksud apa anda mengatakan semuanya pada saya..?"
"Tujuan saya hanya satu,saya hanya ingin tahu kebenarannya"
__ADS_1
"Sarah adalah milik saya dan akan terus seperti itu"
Panji menekankan kata-kata itu seolah Yoga tak akan bisa mendengar suara nya.
"Apa yang anda bicarakan..?"
"Tidak usah bertanya seolah anda tidak tahu apa-apa.."
Panji segera bangun dari kursinya dan meninggalkan Yoga yang masih terdiam menatap padanya. Pria itu celingukan di depan toilet perempuan karena dia tidak melihat kekasihnya.
Dia segera mengambil ponselnya dari saku celana dan segera menekan tombol panggil.
"Iya mas...?"
"Kamu dimana..?"
"Aku di parkiran nih.."
Dengan langkah cepat dia segera menuju parkiran cafe menuju mobilnya di parkirkan. Dia heran karena Sarah sudah ada di dalam mobil,sembari menikmati minuman dingin di tangannya.
"Sayang... katanya mau ke toilet..?"
"Males aku ikut ngobrol sama eksekutif muda"
"Terus kenapa bisa kamu masuk mobil sedangkan aku yakin kuncinya ada di dalam tas ku..?"
"Itulah hebatnya kekasihmu ini"
Panji mencebik dan mengacak rambutnya perlahan.
"Ngobrolin apa tadi..?"
"Tak ada"
Sarah tidak lagi bertanya karena dia sibuk dengan minumannya. Panji pun segera melajukan mobilnya untuk meninggalkan cafe yang membuat suasana hatinya sangat tidak baik..
__ADS_1