
Sarah memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia berbohong pada Sasha supaya gadis itu tidak bertanya lebih jauh. Setelah menelpon Panji untuk meminta bertemu, akhirnya Sarah memutuskan untuk datang kerumahnya saja.
Panji sudah ada di teras rumah dengan baju santainya. Sarah turun dari mobil dan tersenyum melihat pria itu.
"Sayangku.."
Tanpa menunggu lama Panji pun segera menghampiri Sarah dan memeluknya.
"Mas... kenapa gak kerja?"
"Gak apa-apa.. ada apa sayang kemari..?"
Sarah masih memeluk tubuh pria itu dan belum berniat untuk melepaskannya.
"Ada apa hmm...?"
"Mas..aku hanya ingin tahu sesuatu"
Panji menatap wajah Sarah dengan lembut.
"Apa..?mau ngajak aku menikah"
Sarah mencubit pinggang Panji dan itu membuat pria itu sedikit meringis kesakitan.
"Apa kamu ikut andil, untuk menjauhkan aku dari keluargaku..?"
"Hah..apa sih maksudnya sayang..? Ayo masuk,kita bicara di dalam"
Mereka bergandengan memasuki rumah megah bergaya retro modern itu.
"Coba jelaskan apa maksud ucapan sayang tadi"
Sarah segera menceritakan apa saja yang di dengar olehnya. Dia juga berkata kalau Sasha tidak mungkin berbohong karena gadis itu sedang membenci ibu. Makanya semua rahasia yang di simpan rapat selama ini di ceritakan semuanya pada Sarah.
"Aku tidak tahu apa-apa"
Panji menghela nafas panjang dan berusaha untuk tidak marah pada saat itu. Dia mengusap lembut tangan Sarah dan memintanya untuk mendengarkan semua penjelasannya.
__ADS_1
Pria itu menceritakan semuanya, bagaimana dia diminta untuk mendekati Sarah. Tak ada satupun yang dia lewatkan. Karena Panji tahu mungkin inilah jalannya supaya mereka saling terbuka satu sama lain.
"Jadi selama ini mas terpaksa mencintaiku..?"
"Tidak.."
"Jangan berbohong lagi"
"Awalnya iya..tapi lama-lama aku benar-benar cinta sama gadis menyebalkan ini"
Sarah memonyongkan bibirnya dan itu membuat Panji tertawa.
"Mas.. kenapa tante Ivone sampai segitunya pada kita..?"
Panji diam sejenak sambil mengelus pucuk kepala Sarah.
"Mas.."
"Hah.. nanti saja ceritanya,aku mau kita masak dulu,kita belum makan siang"
"Aku yakin masih ada yang mas sembunyikan dariku "
"Maaf"
Panji menatap wajah gadis disampingnya.
"Kamu minta maaf untuk apa..?"
"Karena sudah membuat kamu teringat lagi dengan luka di masa lalumu"
"Aku malah takut kalau sayang marah karena aku bicara jujur"
"Hah... ngapain aku marah..?"
Panji mengernyitkan keningnya dan segera mencubit hidung mancung gadis di depannya.
"Aku tahu..kamu tidak akan cemburu karena kamu tidak mencin..."
__ADS_1
Ucapan Panji terhenti karena tangan Sarah sudh menutup mulutnya.
"Mas...aku tidak akan cemburu pada orang yang sudah tiada.. Lagipula sekarang aku jadi perempuan satu-satunya disini.."
Sarah mengelus dada Panji sambil tersenyum.
"Sarah apakah kamu mencintaiku..?"
"Iya..aku cinta sama mas.."
"Cinta beneran..apa cinta bohongan"
"Mas.. maunya cinta yang seperti apa..?"
"Cinta yang menerima segalanya"
Panji memeluk tubuh gadis cantik itu.
"Jadi kapan..?"
"Hahh..apa yang kapan..?"
"Membawaku menemui wanita yang pernah jadi pujaanmu?"
Panji menghela nafas panjang mendengar ucapan Sarah.
"Kukira kamu bertanya tentang pernikahan"
"Hah.."
"Aku tahu kamu malah gak kepikiran kesana.. ekspektasi ku terlalu tinggi"
Sarah tertawa terbahak dan menciumi pipi pria tampan itu.
"Aku janji.. tidak lama lagi aku akan menanyakan tentang pernikahan"
"Benarkah?"
__ADS_1
Mata panji membulat sempurna dan itu membuat Sarah semakin gemas dan mengeratkan pelukannya...