Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Permintaan ibu


__ADS_3

"Pulanglah..bawa adikmu bersamamu. Setelah melahirkan urus bayinya,antarkan ibunya saja kerumah ini"


Aku menghela nafas panjang. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang ibu katakan. Ibu sama sekali tidak merasa bersalah dengan semua yang terjadi.


Aku segera berdiri dan berjalan ke luar rumah tanpa banyak bertanya lagi.


"Ayo Sha.."


Sasha masih diam duduk dilantai sambil mengusap-usap wajahnya yang sudah basah oleh air mata.


"Pergilah kak..."ucap Tora menimpali.


"Bu.. Sasha mau disini "


"Sasha...ibu tidak mau malu karena kelakuan anak-anak nya, kamu harus ngerti.."


"Ibu... Sasha janji,akan terus didalam rumah sampai nanti melahirkan.."


Ibu sama sekali tidak bergeming bahkan menatap Sasha saja sepertinya tidak ingin.


"Ibu... Sasha mohon".


"Gugurkan kandungan kamu..baru kamu bisa tinggal bersamaku lagi"


"Ayo Sha.. cukup sekali saja kamu melakukan dosa besar,anak itu tidak bersalah.."


Aku menarik tangan Sasha dengan sangat kuat sehingga dia sedikit mengaduh. Kami berdua berjalan beriringan dengan perasaan yang hampir sama, terluka..


Dengan kecepatan tinggi aku mengendarai mobil. Sasha hanya membisu tak berani mengatakan apapun.


"Ibu macam apa yang tega berkata seperti itu"


Aku terus saja menggerutu dan berkali-kali mengumpat karena kesal dengan keadaan ini.

__ADS_1


"Sekarang rencana kamu apa..?"


"Aku hanya ingin tidur"


Aku membiarkan Sasha memejamkan matanya. Terserah dia tidur atau tidak yang pasti aku akan membiarkannya istirahat untuk malam ini.


Ku lihat jam di pergelangan tangan waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Pantas saja aku sangat mengantuk, beberapa kali aku hampir ketiduran saat sedang mengemudi.


Sepanjang perjalanan aku mencari-cari sebuah hotel atau penginapan tapi tidak ku temukan. Karena aku sangat mengantuk aku pun menepikan mobilku saat sudah di area yang lumayan sepi. Supaya aku bisa memejamkan mata walaupun hanya beberapa menit.


Baru saja akan memasuki alam mimpi,kaca mobilku di ketuk dari luar. Karena posisi hanya kami berdua aku pun tidak berniat untuk membukanya.


Segera ku putar kunci mobil dan berlalu dari pria asing itu. Untuk menghindari sesuatu yang tidak ku inginkan.


"Sial.."umpatku.


"Kakak.."


Aku melihat gadis belia di sampingku sedang menatap padaku.


"Ada apa..?"


Aku baru menyadari kalau kami belum makan apapun. Pulang kerumah ibu bukannya mendapat makanan tapi penolakan yang didapat, sungguh miris.


"Sebentar lagi kita akan masuk ke kota.."


Dia menangguk seperti anak kecil yang begitu percaya pada ibunya.


Tak lama kemudian kami memasuki kota dan kehidupan masih terlihat walaupun menjelang pagi hari. Ku parkirkan mobil di sebuah kedai makan yang lumayan ramai. sepertinya orang-orang merasa lapar saat dini hari.


Aku memesan dua porsi mie kuah karena Sasha tidak ingin makan nasi. Tidak lupa minuman hangat juga ku pesan untuk kami berdua.


"Kakak.. Carikan aku pekerjaan"

__ADS_1


"Iya.. makanlah dulu setelah itu kita cari rumah dan pekerjaan untukmu"


Dia menatapku bingung..


"Ada apa..?"


"Kenapa kita tidak tinggal bersama..?"


"Aku tinggal dengan temanku"


Dia menganggukkan kepalanya dan melanjutkan suapan ke dalam mulutnya.


"Apa kamu kuat bekerja dalam kondisi seperti ini..?"


"Aku tidak ingin diam saja tanpa melakukan apapun"


"Sha..apa kamu punya pacar..?"


"Kenapa..?"


"Apa kamu tidak berfikir untuk meminta tanggung jawab padanya?"


Dia hanya menggelengkan kepala dan kembali meneteskan air mata.


"Kenapa..?"


"Pacarku bukan hanya satu saja"


"Hah.."


"Semua pria yang bersamaku pasti sudah tidur denganku.."


"Astaga Sasha.."

__ADS_1


Aku benar-benar terkejut mendengar pengakuan adik perempuanku itu. Rasanya ingin ku pukuli gadis di depanku ini,tapi bukankah nasi sudah menjadi bubur..?


__ADS_2