Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
jangan pernah pergi


__ADS_3

Aku duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan gelisah. Sedari tadi pria menyebalkan itu tidak juga muncul. Bukankah dia tadi bilang akan segera pulang. Berkali-kali aku menghembuskan nafas panjang untuk meredam emosi di dada. Entah mengapa aku begitu marah saat Sasha memintaku untuk menikahkannya dengan putra Nyonya Ivone


"Apa-apaan.."


"Apanya..?"


Aku menoleh dan pria itu tertegun heran melihat ku. Aku segera menghambur ke dalam pelukannya.


"Ada apa sayang..?"


"Aku lapar"


"Bukankah tadi kamu bilang sedang makan"


"Apa aku tidak boleh lapar setelah makan..?"


Dia tertawa dan memelukku erat.


"Sedang datang bulan..?"


Aku menggelengkan kepala.


"Mau makan apa..?"


"Makan orang"


"Hah..."


Pria itu kembali tertawa dan mencubit hidungku dengan gemas.


"Ada apa..hmm..?"


"Jangan pernah pergi dari hidupku"


Dia menatapku dengan tatapan penuh tanya.


"Siapa yang bilang aku akan pergi?"


"Gak ada.."


"Terus..?"

__ADS_1


Aku pun menceritakan semuanya pada pria yang masih memelukku itu. Dengan suara yang semakin meninggi aku menceritakan betapa Sasha menginginkan putra nyonya Ivone.


Bagaimana bisa seseorang yang belum bertemu dengannya begitu menginginkan dia.


"Kamu cemburu..?"


Aku mengangguk dan dia tertawa terbahak sampai deretan giginya terlihat.


"Untuk apa cemburu pada sesuatu yang tidak akan terjadi"


"Aku takut kamu akan berpaling"


"Pada adikmu..?"


"hu'um.."


"Aku bukan orang yang bodoh"


Kami kembali berpelukan sambil tertawa. Entah mengapa aku begitu takut kehilangannya, sedangkan aku tidak pernah siap untuk menikah dengannya. Bodoh,bukan..?


"Dua hari lagi aku ada pekerjaan di luar kota"


Hening sesaat karena aku tak tahu harus mengatakan apapun.


"Boleh..?"


"Tentu saja...apa yang tidak boleh buat kekasihku ini.."


"Gombal.."


Dia kembali tertawa melihatku merajuk. Kami berdua menghabiskan waktu dengan membahas pekerjaan masing-masing. Saling memberikan masukan dan bersitegang karena beda pendapat.


Aku tidak tahu sejak kapan aku tertidur, karena seingatku tadi kami berdua berdebat tentang apa yang akan kami makan saat malam nanti.


"Sudah bangun..?"


"Jam berapa ini..?"


Pria itu hanya tersenyum dan pakaiannya sudah berubah menjadi baju kasual. Aku bangun dari sofa dan meregangkan otot-otot tubuh ku.


Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima. Berarti aku tidur lumayan lama. Tidak..aku bukan tidur tapi koma. Karena aku benar-benar tidak ingat apapun lagi.

__ADS_1


Andai pria ini orang jahat mungkin dia akan melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.


"Aku tidak akan berbuat jahat.."


Aku tersenyum malu.. Seperti orang yang baru saja ketahuan membicarakan orang dan di ketahui oleh sang empunya.


"Aku tahu.."


"Kamu tidak pandai berbohong.."


"Karena aku anak yang baik.."


"Iyaaa..aku percaya.."


Aku tertawa melihat dia tidak lagi mendebatku. Bukan tidak ingin tapi dia enggan berdebat karena sudah dapat dipastikan, akulah pemenangnya.


"Mandilah..nanti kita makan"


"Mandi dirumah saja.."


"Kenapa..?"


"Gak apa-apa..kan mau makan juga, sekalian pulang"


"Siapa bilang kita makan diluar?"


Aku menoleh karena mendengar suara perempuan yang tidak asing.


"Tante Ivone.."


"Apa kabar sayang..?"


Kami berpelukan dan wanita cantik itu mencium pucuk kepalaku.


"Mami sudah masak.. sebentar lagi semuanya siap"


Aku mengalihkan pandanganku pada Panji. Dia tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


"Mami kemari saat kamu tidur.."


Rasanya ingin ku copoti rambut di kepala pria itu. Bisa-bisanya dia membiarkanku tidur saat ibunya memasak untuk kami.

__ADS_1


"Ayo mandi dulu sana.."


Aku pun segera berlalu dari hadapan mereka dengan wajah merah padam menahan malu.


__ADS_2