
Sarah menangis terisak-isak di dalam mobilnya. Entah mengapa dia begitu sangat membenci dirinya sendiri. Dia merasa benar-benar menjadi anak durhaka. Dengan teganya menyakiti perasaan ibunya sendiri.
Dering ponsel dibiarkannya begitu saja. Dia menelungkupkan kepalanya pada kemudi.
"Kamu tidak salah"
Dia berbisik lirih pada dirinya sendiri.
"Ibu juga tidak mencintaimu Sarah.."
Benar apapun yang dilakukannya semua salah dimata ibu. Semua kebaikan dan kerja keras yang di tunjukkan selama ini, hanya sebuah bakti pengganti membesarkannya dulu.
Sarah mengusap air matanya. Dia menatap wajahnya di cermin dan segera memoles wajahnya kembali supaya tidak terlihat sudah menangis.
Gadis itu melihat ponsel yang sedari tadi tidak berhenti berdering. Beberapa panggilan meeting, Panji dan juga Dimas.
"Halo..."
"Sarah apa kabar..?"
"Baik..kamu sendiri gimana..?"
"Aku sangat baik.."
"Syukurlah..ada apa menghubungiku..?"
"Apakah aku tidak boleh rindu..?"
Sarah hanya tertawa mendengar ucapan Dimas yang memang sering sekali mengajaknya bercanda.
"Sarah.. datanglah bersama pak Panji kerumah"
"Ada acara apa Dim..?"
"Aku akan bertunangan"
"Woww.. kabar baik, aku pasti datang"
Setelah berbasa-basi sebentar panggilan telepon itu pun di akhiri. Dimas pun meminta Sarah untuk mengundang ibunya, nyonya Ivone.
Sarah menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia tidak tahu darimana harus memulai untuk menyampaikan undangan bahagia ini.
( Sayang...malam ini makan dirumahku ya,ada yang mau aku bicarakan..)
{ Ada apa..? bukan kabar buruk kan..?}
(Bagiku ini kabar gembira)
{baiklah...aku beli apa}
(Tidak perlu,aku akan memasak)
{siap.. tuan putri}
(Kalau tante Ivone ada waktu ajak sekalian)
{Hey..ada apa..? Apakah ini tentang pernikahan kita..?}
(Jangan berharap sekarang)
Pria itu hanya mengirimkan emoticon menangis dan berjanji akan mengajak serta ibunya untuk makan malam bersama.
Sarah segera mengemudikan mobilnya menuju swalayan terdekat. Karena dia akan membeli beberapa bahan makanan yang akan dia masak untuk makan malam.
Gadis cantik itu berpikir untuk membuat acara makan malam sesantai mungkin. Karena dia tahu,bukan hal yang mudah untuk membicarakan Dimas bersama mereka. Setelah memutuskan untuk barbeque an saja,dia pun dengan cekatan mengambil daging, sayuran dan bahan-bahan untuk dibakar.
__ADS_1
Sesampainya dirumah dia segera merapikan rumah. Menyapu dan membereskan semua yang berserakan. Dia juga membersihkan halaman samping rumah untuk acara mereka nanti malam. Sofa yang biasanya hanya dilipat karena tidak pernah ada acara dirumah, sekarang di buka dan di bersihkan. Sebenarnya dia sangat kewalahan melakukan semuanya sendirian tapi ini demi misi yang sedang di embannya (Nulis apa sih Thor..)
Dengan nafas yang naik turun Sarah merebahkan tubuhnya di tikar yang dia gelar di rerumputan. Langit yang sudah berubah warna menjadi kemerahan tampak cantik sekali.
"Panggangan sudah,tikar,sofa dan yang lainnya sudah. Daging,jagung, semua bahan dan bumbu sudah ready.. Ternyata aku bisa melakukan apapun sendirian"
Sarah tersenyum sendiri melihat hasil kerjanya yang memuaskan. Jam dinding berdentang enam kali dan itu tandanya gadis itu harus segera beranjak dari tempatnya untuk membersihkan diri.
"Jangan sampai tamu datang,aku masih bau dan kucel"
Dia segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya untuk mandi. Karena badannya sudah sangat lengket setelah beraktivitas sendirian.
Pintu sengaja tidak di tutup dan Sarah pun duduk sambil menonton televisi.
"Selamat malam tuan putri..."
Sarah mengalihkan pandangannya ke arah suara dan dia tersenyum saat melihat Panji datang membawa seikat bunga.
Sarah segera menghampiri pria dengan wangi yang sangat khas itu.
"Sudah datang...aku tidak mendengar suara mobilmu"
"Kamu terlalu fokus menonton sinetron"
Sarah mencubit pinggang pria di sampingnya. Dia celingukan mencari-cari sosok perempuan paruh baya yang dia harapkan kehadiran nya.
"Mami akan sampai sebentar lagi.."
Sarah hanya menganggukkan kepalanya dan segera mencium bunga yang diberikan oleh Panji.
"Ayo ke halaman samping"
"Mau barbeque..?"
"Hu'um"
"Apa..?"
"Ada deh.."
Sarah hanya mencebik mendengar penuturan kekasihnya. Dengan cekatan Panji menyalakan bara api untuk membakar daging dan teman-temannya.
"Sayang..."
"Hmm.."
"Ada yang ingin aku sampaikan"
Panji membalikkan badan dan menatap wajah Sarah dengan lekat. Tanpa berpikir apapun lagi Sarah segera menceritakan semuanya yang di utarakan oleh Dimas. Tanpa ditambah ataupun di kurangi.
Pria itu tidak mengatakan apapun dia kembali pada kesibukannya memanggang daging. Sarah pun tidak memaksa untuk Panji mengemukakan pendapatnya.
"Sayang...Sarah..."
Suara khas Ivone terdengar memanggil Sarah.
Panji segera menghampiri ibunya dan mengajak ke samping rumah. Sarah segera memeluk tubuh Ivone dan mencium pipi wanita cantik itu.
"Barbeque.."
"Sini tante.."
Sarah dan Ivone duduk bersama di tikar yang sudah di gelar. Mereka saling bertanya kabar dan membicarakan gosip yang sedang hangat diperbincangkan.
Suara tawa terdengar dari keduanya. Panji menata piring dan mengisinya dengan daging,sosis,jagung dan sayuran lainnya.
__ADS_1
"Mau makan nasi juga..?"
"Aku masak nasi kok tenang saja"
Saat akan bangun dari duduknya, Ivone segera mencegah. Karena dia yang akan mengambil nasi untuk mereka.
"Dasar orang Indonesia.."
Sarah terkekeh mendengar ucapan Ivone. Saat wanita paruh baya itu berada di dalam,sarah pun berbisik pada Panji untuk tidak mengatakan apapun saat makan.
Biarkan mereka makan dengan tenang tanpa drama,panji hanya berdehem seolah mengiyakan.
Mereka makan dengan lahap, bahkan Ivone berkali-kali memuji racikan bumbu yang dibuat Sarah sangat lezat.
"Aku yang bakar loh mih.."
"Iyaa.. terimakasih anak mami"
Panji tersenyum melihat mata Ivone yang berkedip-kedip saat mengatakan itu.
"Mih.."
"Hmm.."
"Ada yang mau Panji katakan.."
"Apa..?"
Ivone mencoba mendengarkan putranya saat dia sedang sibuk dengan buah di tangannya.
"Dimas.. mengundang kita kerumahnya"
Wanita itu menghentikan tangannya yang sedang memilih anggur di depannya.
"Nak.. sudahlah.."
"Dimas akan bertunangan.. mungkin dengan kehadiran kita,dia akan semakin bahagia"
"Silahkan kamu pergi..mami tidak akan datang"
"Kenapa..?"
"Haruskah kamu selalu bertanya kenapa..?"
Suara Ivone mulai meninggi dan itu membuat Sarah merasa tidak enak hati. Dia mengusap lengan kekasihnya untuk tidak melanjutkan pembicaraan.
Ivone segera beranjak dari duduknya dan mengambil tas yang berada di atas meja.
"Mami pamit dulu Sarah..."
"Kita belum makan buah mih.."
Ivone segera memeluk Sarah dan mencium pipi gadis itu.
"Terima kasih.. makanannya enak"
Sarah mengangguk dan mengikuti langkah Ivone. Dia mengantarkan wanita itu sampai memasuki mobilnya.
Gadis itu masuk kembali menemui Panji yang sedang berbaring menatap langit malam yang bertaburan bintang. Dia membaringkan tubuhnya disamping pria itu, tanpa mengatakan apapun.
Panji menoleh dan segera memeluk tubuh wanita cantik itu.
"Maaf..kamu selalu melihat pertengkaran ini"
"Hidupku lebih rumit mas..ini bukan apa-apa.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama, mentertawakan hidup mereka yang jauh dari sempurna.