Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Tak berubah


__ADS_3

"Ngelamunin apa..?"


Panji mengusap rambut Sarah dengan lembut.


"Gak ada mas.."


"Mulai bohong sama aku..?"


Panji menatap manik mata kekasihnya,ada guratan kecewa disana.


"Ibu...?"


Sarah menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Kenapa lagi..?"


"Aku hanya ingin ibu mencintaiku mas.."


"Ibu mencintaimu..tapi dengan caranya sendiri"


Sarah kembali menatap lampu kelap-kelip di ujung sana.


"Kamu sudah berusaha dengan segala cara,jika ibu tetap seperti itu..tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain mendoakan"


"Iya mas.."


"Ngomong-ngomong...ini sudah malam,aku pulang dulu"


"Hu'um..."


"Kenapa sih kamu polos banget"


Panji mengacak rambut Sarah dengan gemas.


"Apa sih mas...?"


"Tahan gitu aku supaya gak pulang"


Sarah hanya terkekeh geli mendengar ucapan Panji. Dia mendorong tubuh kekar pria itu untuk segera turun ke bawah.


"Punya pacar gak peka"


"Biarin"


Panji tertawa karena tubuhnya terus saja di dorong sampai pintu utama.

__ADS_1


"Beneran ngusir aku."


"Iya..."


"Gak pengen dipeluk tidurnya malem ini..?"


"Dih... enggak pernah tuh minta ditemenin tidur"


Tanpa Sarah sadari Panji membalik tubuhnya, hingga gadis itu menabrak tubuh kekar kekasihnya.


"Modus..."


Keduanya tertawa bersamaan karena kekonyolan mereka..


"Jangan banyak pikiran.. nanti cepet tua"


"Dihh...gak sadar diri, siapa yang tua..?"


Panji mencium kening gadis cantik itu dan segera masuk ke dalam mobilnya.


Sarah menatap mobil panji yang sudah menghilang dari pandangannya. Dia sangat bersyukur bertemu dengan pria sebaik itu. Sarah segera menutup pintu dan menguncinya. Dia sangat lelah dan ingin segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Dia mematikan seluruh lampu yang berada di lantai bawah. Dengan berlari kecil dia menaiki tangga dan segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Keluar dari kamar mandi membuat tubuhnya rileks. Sarah langsung naik ke atas tempat tidur dan memeluk guling untuk segera memejamkan mata.


"Hmmm..."


"Kakak...apa kakak sudah tidur..?"


"Belum.. kenapa?"


"Aku sedang di rumah sakit bersama ibu dan Sasha"


"Siapa yang sakit..?"


"Sasha sepertinya mau melahirkan"


"Bukannya masih beberapa minggu lagi..?"


"Entahlah..."


"Kakak tidak bisa kesana..kamu tau keadaan nya"


"Iya aku tau..aku hanya memberi kabar saja"

__ADS_1


"Kakak akan mengirimkan uang untuk keperluan Sasha..kamu tenang saja"


"Terimakasih..kak"


"Iya..aku tutup dulu"


Sarah kembali meletakkan ponselnya setelah mematikan panggilan dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Tora.


Rasa kantuk yang tadi singgah menguap entah kemana. Pikirannya berkecamuk memikirkan adiknya yang sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan satu kehidupan kedunia.


Ponsel kembali berdering dan Sarah mengubah posisinya dari berbaring ke posisi duduk.


"Sayang..aku sudah dirumah"


"Syukurlah mas.."


"Ada apa.. sepertinya kamu sedang cemas"


"Sasha mau melahirkan"


"Siapa yang mengabari..?"


"Tora.."


"Kamu mau kesana..?biar mas kembali kesana"


"Gak usah mas..."


"Ya sudah terserah kamu saja.. sekarang lebih baik kamu tidur"


Sarah menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Ahhh... itulah yang membuat aku ingin segera menikahimu"


"Hah..."


Panji kesal karena Sarah tidak pernah peka dengan perasaannya. Dia hanya menatap tajam pada gadis itu. Jika saja mereka sedang berdekatan rasanya ingin sekali mengacak rambutnya.


"Tidurlah...jangan terus menerus main ponsel"


"Hu'um"


Panji mengakhiri panggilan setelah beberapa kali mengatakan bahwa dia sangat mencintai Sarah.


Sarah tertawa sendiri mendengar ucapan pria itu.

__ADS_1


"Sudah tua masih saja senang menggombal"


__ADS_2