
Panji melingkarkan tangannya di leherku. Kami berdua sedang duduk di tepi pantai menikmati senja yang sebentar lagi berganti malam.
"Mikirin apa..?"
"Gak ada"
"Bohong"
Aku menatap wajahnya lekat tanpa mengatakan apapun dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku ingin menjadi orang jahat"
"Kamu fikir kamu baik"
"Sayang..."
Dia tertawa melihatku merajuk.
"Kamu itu sudah jahat, buktinya kamu tidak mau ku ajak menikah"
"Bukan gak mau,tapi belum mau"
"Sama saja"
Aku mencubit pinggangnya dan kami sama-sama tertawa.
"Mas..aku gak mau merawat bayi Sasha nanti"
"Kenapa..?"
Dia melepaskan pelukannya dan menatap tajam padaku.
"Sasha masih seperti dulu,dia tidak berubah"
"Kamu ingin dia berubah jadi apa? cat woman?"
"Aku serius mas..."
"Loh aku juga serius sayang.."
Aku segera membuka ponselku dan memperlihatkan padanya rekaman cctv kemarin.
"Aku heran..kenapa adikmu begitu membenci kakak nya sendiri?"
"Entahlah.."
Aku mengangkat bahu dan memasukkan kembali ponselku kedalam tas.
"Wajar saja Sasha benci sama kamu"
"Hah.. emang aku kenapa..?"
"Karena gak ada manusia yang bisa bersaing dengan bidadari.."
__ADS_1
"Bodo amat.."
Kesal sekali rasanya mendengar ocehan pria tua di sampingku ini. Dia seperti tidak pernah serius menanggapi ceritaku.
"Sayang..."
"Hmmm..."
"Biarlah adikmu tidak berubah...tapi bukankah bayi itu tidak berdosa?"
Aku menghela nafas panjang dan kembali menatap senja yang indah.
"Haruskah aku selalu berkorban,demi menyenangkan semua orang"
"Tidak..kali ini kamu menyelamatkan satu kehidupan yang baru akan di mulai"
Aku tertawa,lebih tepatnya mentertawakan diri sendiri. Mengapa aku harus selalu berada di situasi yang membuat kepalaku seperti akan meledak saja.
"Bagaimana kabar mami?"
"Baik..."
"Aku tahu kamu bohong.."
"Hah...?"
"Mami menelpon katanya kamu gak pernah datang kerumahnya"
Panji tidak menjawab,dia sibuk memutar-mutar rambutku.
Dia tertawa dan mengelus pucuk kepalaku.
"Sayang..."
"Hmmm..."
"Kalau seandainya...suatu hari nanti kamu tahu sesuatu tentang keburukan keluargaku, apakah kamu akan tetap membersamaiku...?"
"Hahahaha... keluargaku lebih parah"
Aku tertawa,tidak...kami berdua tertawa bersama. Mentertawakan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan.
"Aku akan tetap berada di samping pria tua ini, sampai dia sendiri yang menyuruhku untuk pergi "
"Kalau begitu..kamu dipastikan tidak akan pernah pergi.."
Kami berpelukan.. entah mengapa saat bersamanya aku merasa seperti orang yang paling di cintai di dunia.
Ponsel ku berdering dan nama Dimas muncul di layar. Aku membiarkannya karena aku tahu Panji tidak menyukai pria itu.
"Siapa..?"
"Dimas.."
__ADS_1
"Mau apa lagi dia..?"
"Mungkin bahas kerjaan.."
"Alasan.."
Aku hanya tersenyum melihat pria itu merengut kesal.
Rupanya Dimas tidak menyerah, berkali-kali ponselku berdering.
"Angkatlah.."
"Hah..."
Panji mengambil ponselku, menggeser tombol biru dan meletakkan di telingaku.
"Sarah..."
"Ya..."
Aku benar-benar gugup, karena Panji sedang menatap tajam padaku.
"Kamu dimana..?"
"Aku sedang di luar, kenapa Dim..?"
"Aku mau bertemu.. sepertinya ada kesalahan di proposal yang ku ajukan"
"Oke..kamu bisa menghubungi Rara"
"Tapi..aku maunya ketemu kamu"
Tiba-tiba ponselku di ambil oleh Panji dan dia sedikit menjauhkan ponsel itu dari kami.
"Ajaklah kemari.."
"Aku gak mau.."
"Aku gak apa-apa"
Aku menggelengkan kepala tapi dia tidak menggubrisnya. Ponsel dimatikan dan dia mengetikkan sesuatu.
"Kamu ngapain..?"
"Ngasih alamat kita sama dia.."
"Sayang.. ngapain sih..?"
"Gak ngapa-ngapain..kamu takut banget"
"Aku gak mau kalian berantem"
"Dihh..pede banget kamu"
__ADS_1
Pria itu tertawa dan menyeruput minumannya. Entah mengapa aku yakin ada sesuatu yang akan terjadi saat kami bertemu nanti...