
Sarah mengajak Sasha untuk bertemu dokter kandungan. Dia ingin memastikan kalau calon keponakannya itu sehat dan sempurna. Dokter perempuan yang mereka temui adalah dokter terbaik di kota itu. Sarah sudah mencari informasi di berbagai rumah sakit dan akhirnya menemukan dokter Alia.
"Bagaimana Dok.."
Sarah sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan dokter Alia.
"Begini Bu.. usia kandungan ibu Sasha sudah memasuki dua puluh lima minggu"
"Bagaimana keadaan keduanya dokter..?"
"Semuanya bagus,sehat..tapi ibu sasha harus banyak minum air putih. Supaya tidak sakit pinggang.."
Sasha mengangguk tanda mendengarkan ucapan dokter perempuan itu. Setelah menjelaskan berbagai hal, akhirnya mereka pun pulang. Tidak lupa membawa vitamin yang diberikan oleh dokter.
"Nanti aku gak mampir kerumah,ada meeting sama klien"
"Kenapa kakak belum mengajakku untuk bekerja"
"Nanti setelah kamu melahirkan"
Sasha cemberut mendengar ucapan kakak perempuannya itu. Dia benar-benar sangat membenci perempuan di sampingnya.
"Kakak.. apakah kakak tahu Nyonya Ivone..?"
"Hah..."
"Nyonya Ivone.."
"Memangnya siapa nyonya Ivone...?"
Sasha mengerenyitkan dahinya saat mendengar Sarah tidak mengenal perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"Kakak tidak mengenal nya..?"
Sarah menggelengkan kepalanya dan tetap fokus menyetir. Dia tidak ingin masuk kedalam perangkap ular betina itu.
"Nyonya Ivone orang yang selama ini mengirimkan ibu uang, hingga akhirnya ibu bisa merenovasi rumah kita"
"Memangnya ibu bekerja dirumah Nyonya Ivone?"
"Tidak..tapi Nyonya Ivone tidak ingin ibu mengganggu kehidupan kakak"
Bagaikan mendengar petir yang menyambar,tapi Sarah masih saja bersikap santai seolah tak terjadi apa-apa.
"Kenapa nyonya Ivone bisa melakukan itu..?"
"Putra nyonya ivone menyukai kakak, mungkin putranya orang yang tidak punya keberanian diri. Sehingga menyuruh ibunya untuk melakukan semua itu"
"Ohhhh..."
"Nyonya Ivone menginginkan kami menjauhi kakak. Bahkan dia rela melakukan apapun demi kebahagiaan putranya"
"Sekarang... apakah Nyonya Ivone masih mengirimkan uang pada ibu?"
"Masih.. karena Nyonya Ivone tidak ingin, kakak menangis lagi gara-gara kami"
"Baguslah.. berarti Nyonya Ivone calon mertua yang baik"
Sasha tersenyum dan kembali menatap keluar jendela.
"Tapi Nyonya Ivone itu tidak sebaik yang kita pikirkan "
"Kenapa..?"
__ADS_1
"Dia selalu mengancam menghabisi siapapun yang berusaha mengganggu hubungan kakak dengan anaknya "
"O..ya..?"
"Kakak.. pertanyaan ku sekarang, apakah kakak sudah berpacaran dengan putra nyonya Ivone..?"
Sarah menggelengkan kepalanya, dalam hatinya dia meminta maaf berkali-kali karena sudah berbohong. Dia hanya tidak ingin Sasha mengetahui apapun tentang dirinya dan Panji.
"Makanya kamu harus hati-hati..jangan sampai kamu menyakiti kakak "
"Maksud kakak..?"
"Kamu harus berfikir seribu kali untuk menyakitiku karena kamu sudah tahu apa konsekuensinya"
Sasha tidak mengatakan apapun. Sepertinya dia sedang berfikir keras mendengar ucapan Sarah. Ada sedikit rasa takut di hatinya mendengar penuturan perempuan disampingnya itu.
Sedangkan Sarah tersenyum simpul setelah mengatakan hal itu pada adik perempuannya.
Dia tahu Sasha hanya ingin tahu tentang keburukan hidupnya. Bukan perduli seperti panji dan Dimas.
Ah..Dimas,apa kabar pria mancung itu.
Pikiran Sarah berkelana kesana kemari membuat dia tidak fokus mengemudi.
"Awass kakak...."
Sarah segera menginjak pedal rem mobilnya. Karena di depan mobil mereka sudah ada sebuah truk yang berhenti mendadak.
"Woy...kalau gak bisa bawa mobil, tidur aja dirumah"
Pengemudi itu mengeluarkan sumpah serapah pada Sarah. Dan gadis itu hanya bisa meminta maaf dan segera berlalu dari sana..
__ADS_1