
"Kemasi semua barang kalian"
Yunita dan kedua anaknya tertegun karena merasa heran dengan perintah Ivone.
"Kenapa kalian diam saja..?cepat pergi dari rumahku"
"Tunggu sebentar nyonya...ini maksudnya bagaimana..?"
"Sesuai kesepakatan kita bukan...?"
"Ibu...ada apa ini Bu...?"
Yunita hanya bisa menatap nanar pada Tora yang bertanya padanya.
"Nyonya... maafkan ibu saya,ibu memang sudah sangat keterlaluan"
Tora menangkup kedua tangannya di dada memohon belas kasihan Ivone.
"Maaf nak...ibumu sudah menandatangani surat kesepakatan. Jika suatu hari ibumu mengganggu Sarah dan anak ku, seluruh harta yang ku berikan akan ku ambil kembali, termasuk rumah ini"
"Tapi rumah ini milik kami"
Sasha yang tadinya hanya diam saja, berdiri mendekati Ivone.
"Rumah kalian bukannya bangunan yang akan roboh itu..? Rumah ini sudah menjadi istana, semuanya dari aku. Semuanya uangku, kecuali kalian bisa mengembalikan semuanya..Bagaimana Yunita..?"
"Tolong berikan kami keringanan.."
"Apakah kamu juga memikirkan perasaan Sarah...? oh tidak...kamu sudah mencoreng nama baik keluarga saya"
__ADS_1
"Bagaimana ini Bu...?"
"Diamlah..."
Yunita menatap tajam pada Sasha yang terus saja merengek membuatnya benar-benar sakit kepala.
Dua pria masuk kedalam rumah dan segera meminta mereka untuk berkemas. Tak ada satupun barang yang boleh dibawa selain baju mereka.
"Cepatlah...aku tidak punya banyak waktu"
"Kamu perempuan menyebalkan dan sangat jahat "
"Hahahaha...kukira kamu harus bercermin"
Yunita dan kedua anaknya meninggalkan rumah mereka dengan langkah gontai. Dia tidak berfikir sampai sejauh ini.
Tora hanya mengikuti langkah kaki ibu dan kakaknya. Sejujurnya dia sangat ingin marah pada keduanya tapi itu tidak akan merubah apapun. Ponsel pria jangkung itu berdering dan dia langsung menekan tombol biru karena nama Sarah tertulis di layar.
"Jangan bicara apapun... Pergilah ke jalan cendana,disana ada rumah kosong. Kakak sudah membayar untuk tiga bulan kedepan. Jangan bicara apapun pada ibu atau Sasha, kita lihat apa mereka berubah setelah semua kejadian ini"
Panggilan berakhir tanpa sedikitpun Tora bisa bersuara. Dia hanya menghela nafas,merasa lega dan malu. Begitu banyak hal jahat yang sudah dilakukan ibu dan Sasha tapi kakak perempuan pertama nya itu masih berbesar hati untuk memaafkan mereka.
"Siapa..?"
"Hah... temanku"
"Bu... temanku memperbolehkan kita tinggal untuk sementara waktu di rumahnya. Apakah ibu mau kesana..?"
Yunita segera menghentikan langkahnya dan menatap lekat pada putra satu-satunya itu.
__ADS_1
"Terserah kamu saja..."
Mereka berjalan beriringan menuju tempat yang akan mereka datangi. Keringat mengalir di wajah Sasha karena perutnya yang sudah membesar membuatnya kepayahan berjalan.
Maklum saja di kampung,jika sudah menjelang malam alat transportasi umum sudah tidak ada.
"Tora..."
Tora berhenti dan memindai wajah yang tertutup rapat oleh helm.
"Siapa ..?"
Pemuda itu membuka penutup kepalanya dan tersenyum, karena melihat orang yang di ajak bicara seperti bingung.
"Gue Alfa..."
"Gue gak..."
Ucapan Tora hanya menggantung di udara saat pria itu mengedipkan sebelah matanya.
"Ayo gue anter kerumah"
Tora meminta Sasha untuk ikut terlebih dahulu dengan pria itu. Pria itu yakin sekali jika laki-laki yang mengaku temannya itu adalah suruhan kakak'ny Sarah.
Setelah kepergian Sasha,Tora dan ibunya kembali melangkahkan kaki menyusuri jalan yang masih lumayan jauh.
"Kita bisa istirahat sebentar Bu.."
"Gak usah...ibu belum lelah"
__ADS_1
Tora menggamit lengan ibunya untuk memberikan kekuatan. Dia tahu ibunya bukan seorang ibu yang sempurna tapi dia juga tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya di masa lalu. Hingga ibunya bisa menjadi seperti sekarang ini...