
Seikat bunga mawar berwarna hitam sudah ada di genggaman pria berhidung mancung itu. Dia tersenyum saat mengingat cincin yang sudah berada di saku celana panjangnya. Berkali-kali pria itu menarik nafas panjang seperti sedang menetralkan perasaan yang campur aduk.
Akhirnya dia memberanikan diri untuk turun dari mobil mewahnya. Berkali-kali dia mengusap wajahnya dan dengan langkah mantap dia segera menghampiri gadis yang sedang duduk sendirian.
"Maaf kamu harus menunggu"
"Gak apa-apa mas..."
Gadis berlesung pipi itu sangat cantik dengan balutan gaun berwarna hitam. Rambutnya yang panjang di biarkan tergerai begitu saja.
"Aku sudah pesen makanan,laper banget"
Pria mancung itu memberikan bunga mawar hitam pada sang gadis dan gadis itu tertawa sembari mengusap tangan kekasihnya.
"Terimakasih.."
"Sarah... maukah kamu menikah denganku..?"
Panji membuka kotak kecil yang dia ambil sari saku celananya. Cincin berlian bermata biru terlihat begitu cantik.
"Aku tidak akan menjanjikan apapun...tapi aku pastikan kamu tidak akan kekurangan kasih sayang dariku seumur hidupmu"
Mata Sarah berkaca-kaca,dia terlihat sangat bahagia mendengar ucapan yang keluar dari mulut kekasihnya.
Setelah menunggu beberapa saat, anggukan kecil terlihat dari gadis cantik itu.
"Aku mau mas...aku mau menikah sama kamu"
Mata panji membelalak saat mendengar ucapan Sarah. Dia tidak menyangka gadis itu akan menerimanya tanpa harus menunggu lama lagi.
__ADS_1
Cincin berlian berpindah ke jari manis Sarah, mereka saling berpelukan dan tertawa bersama.
"Terimakasih karena sudah menerima lamaran kesekian ini"
Sarah terkekeh mendengarnya.
"Aku yang harusnya berterimakasih karena kamu mau menunggu sampai hari ini tiba"
Panji tidak melepaskan genggaman tangannya, walaupun Sarah berulang kali hendak melepaskan diri. Karena dia merasa malu pada pegawai restoran x yang sedang menata makanan di meja mereka.
"Maaf ya mbak..."
"Gak apa-apa,saya ngerti"
Panji tertawa melihat kekasihnya merasa malu dan tidak enak atas perlakuannya.
"Aku tiba-tiba kenyang, karena sudah mendapatkan jawaban yang ku inginkan"
"Aku lapar..tolong lepaskan sebentar tanganku"
Dengan berat hati pria itu melepaskan tangan kekasihnya dan membiarkan Sarah makan dengan lahap.
"Aku sudah bertemu ibu"
"Terus.."
Panji hanya tersenyum sembari menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Biarkan ibu dengan pikirannya tentang aku, suatu saat ibu akan faham"
__ADS_1
"Aku ingin menikah secepatnya tapi dengan kondisi seperti ini.."
"Ayo kita menikah saja...Tora bisa jadi waliku, walaupun tanpa kehadiran ibu..kita masih tetap bisa menikah"
"Apa kamu yakin..?"
Sarah menganggukan kepalanya sambil terus sibuk menikmati makanannya.
"Mas...aku tidak ingin pesta yang meriah, biarkan aku menikmati momen pernikahan kita tanpa diganggu dengan hiruk pikuk tamu yang banyak"
"Aku ikut apa maumu saja"
Setelah selesai makan mereka segera meninggalkan restoran mewah itu dan melanjutkan perjalanan menuju pantai.
"Aku salah kostum lagi"
"Gak apa-apa.. karena kamu cantik, semuanya bisa di maafkan"
Sesampainya di pinggir pantai keduanya saling berpelukan dengan erat. Berkali-kali panji berterima kasih karena Sarah sudah siap untuk menikah dengannya.
Tiba-tiba Sarah melepaskan pelukannya dan berteriak dengan sangat kencang.
"Pantai...aku sudah menemukan kebahagiaan,terima kasih karena kamu menjadi awal dan ahir perjalanan ini"
Semua orang menoleh pada mereka dan memberikan tepuk tangan. Sarah tertawa karena dia merasa malu mendapat perhatian dari orang-orang disana.
"Mas...ayo kita melangkah kedepan tanpa membawa sedikitpun dari masa lalu kita"
Panji memeluk kembali gadis itu dengan erat dan dia berjanji akan terus berada di sisi Sarah sampai maut memisahkan keduanya..
__ADS_1