
Aku masih duduk tepekur meneliti setiap tulisan di layar komputer di depanku. Kepalaku mau pecah rasanya melihat setiap huruf dilayar.
Tanpa kusadari Dimas sudah duduk di sebelahku tanpa suara. Dia hanya diam tak membuka suara, aku menggeser tubuhku mendekatinya.
"Sudah pulang..?"tanyaku.
Dimas hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Gak ngajak aku makan siang..?"tanyaku lagi.
Dia menggelengkan kepalanya.
Aku kembali menggeser kursiku ketempatnya. Dimas tak merespon, akupun tak ingin memaksa. Mungkin dia lelah setelah pulang dari luar kota untuk keperluan pekerjaan.
Tak ada percakapan apapun antara kami. Hanya keheningan menemani. Rasa lapar sudah tak dapat lagi kutahan, akhirnya aku memutuskan untuk keluar untuk makan siang.
Dimas menarik tanganku dan menatap mataku lama sekali. Aku hanya bisa pasrah saat dia menyuruhku untuk duduk kembali.
"Ada apa..? tanyaku heran.
"Apa kamu berkencan saat aku di luar kota..?"
Aku mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Siapa yang mau sama cewek matre kayak aku" kekehku.
Dimas tidak ikut tertawa tapi dia masih menatapku.
"Sarah...aku serius " ucapnya lirih.
"Ayo makan siang..aku lapar"
Aku menarik tangannya dengan cepat dan dimas pun tak menolak karena dia mengikuti langkahku.
__ADS_1
Kami memesan ayam bakar lengkap dengan lalapannya. Tidak lupa teh manis dingin sebagai pelengkapnya.
Aku makan dengan lahap karena badanku benar-benar butuh energi yang tidak sedikit.
"Sepertinya kamu ceria sekali.."
Aku hanya tersenyum tanpa menghentikan suapan kemulutku.
"Gimana perjalanan mu,lancar..?"
"Ditanya malah nanya balik.."ucapnya kesal.
"Kalau ada masalah di kantor, jangan bawa-bawa aku.."
Dimas mulai menggigit ayam bakar di depannya. Dia sepertinya tidak berniat untuk berbicara lagi denganku.
"Teman-teman kantor membicarakan mu.."
"Tinggal iya atau tidak,sulit banget ya.."ucapnya dengan nada tinggi.
"Kamu kenapa sih, ngeselin banget "
Lama-lama aku emosi menghadapi sikap Dimas padaku. Selera makanku hilang begitu saja,aku menyeruput teh dingin di depanku dan beranjak pergi meninggalkannya.
Dimas tak mengejarku atau menahan kepergianku. Kesal dan jengkel bercampur di dalam dadaku.
Beberapa pasang mata menuju ke arahku saat aku melewati kerumunan rekan kerja ku mereka menghentikan obrolan. Aku tidak ambil pusing karena tak ingin menambah beban fikiran.
Aku kembali ke meja kerjaku dengan rasa yang bercampur aduk. Bisa-bisanya semua orang bersikap menyebalkan di hadapanku.
"Ehmmm.."
Aku menoleh dan melihat Diana sudah berdiri tersenyum padaku.
__ADS_1
"Ada apa..?"tanyaku heran.
"Kamu diam-diam gercep juga.."kekehnya menyebalkan.
"Maksudnya..?" tanyaku lagi.
"Jangan pura-pura lah..kami semua sudah tau ceritanya.."
"Jangan muter-muter langsung ke intinya saja.."ucapku mulai kesal.
"Kamu tidur dengan bos kita.."bisiknya.
Aku terkejut mendengarnya sedangkan dia tak terlihat raut wajah bersalah sedikitpun.
"Jangan menggosip yang tidak-tidak.."sahutku.
Diana membuka ponsel miliknya dan menunjukkan beberapa foto padaku. Foto kami yang sedang berpelukan, kami yang sedang bergandengan dan kami yang masuk ke dalam gedung.
Mulutku menganga melihat semua foto-foto itu. Rasanya ingin ku banting ponsel milik Diana tapi aku sadar aku tidak punya uang untuk menggantinya.
"Darimana kamu mendapatkan semua foto-foto itu..?"
Diana hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum mengejek di bibirnya.
"Lain kali kalau mau jual diri jangan siang hari.."kekehnya lagi.
"Kamu jangan kurang ajar Diana,itu hanya sebuah foto. Kamu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.."
"Sttttt.... jangan berisik nanti kamu malu sendiri.." ujarnya sembari berlalu.
Aku tak mengerti siapa yang dengan sengaja mengambil foto saat aku bersama pak panji. Lututku lemas rasanya, padahal aku tidak melakukan apapun yang melanggar norma. Tapi orang yang melihat foto itu sekilas pasti punya pikiran bermacam-macam..
Apakah karena ini Dimas marah padaku..?
__ADS_1