
Aku terbangun saat matahari terasa begitu menyilaukan mata. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tak menemukan siapapun. Jam besar yang ada di kamar megah ini menunjukkan pukul sembilan pagi.
Aku bangkit dari tempat tidur dan segera masuk kedalam kamar mandi. Setelah menyegarkan tubuh, aku pun keluar kamar dan celingukan mencari pria tua itu tapi tak kutemukan.
Aku menuruni tangga dan berharap menemukan dapur karena perutku sudah sangat keroncongan.
Mataku membeliak saat melihat Panji sedang menyiapkan makanan, tangannya begitu gesit kesana kemari membalik dan mengaduk setiap makanan yang berada di atas wajan . Aku tersenyum sendiri melihat pemandangan di depanku.
Aku berjalan mengendap-endap dan tanpa sadar aku melingkarkan tanganku di tubuh pria itu. Dengan sedikit terkejut dia berbalik dan menatap wajahku lama sekali.
"Apa..?"tanyaku
"Kenapa gak ganti baju..?"
"Aku gak bawa baju.."
Dia kembali sibuk dengan masakannya setelah menyuruhku untuk duduk. Tidak lama kemudian dia menyajikan makanan yang baunya sangat harum sekali.
Aku berdiri dan berniat untuk membantu tapi dia tidak mengizinkan untuk melakukanya.
Begitu banyak makanan yang tersaji. Ada salad sayur, Beefsteak, kentang goreng, chicken wings,roti bakar dan bermacam-macam selai dan banyak lagi.
"Makanlah.."
"Siapa yang mau sarapan sebanyak ini??" tanyaku heran.
"Kita.."sahutnya cuek.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan pria satu ini. Bagaimana tidak setiap kali makan denganku pasti porsinya akan sebanyak ini.
"Kapan mau pindah..?"
"Pindah kemana..?"
"Kesini..kerumah kita.."ucapnya lagi.
Aku hanya tersenyum dan melanjutkan suapan ke mulutku tanpa menjawab pertanyaan nya.
__ADS_1
Dia berhenti makan dan menatap wajahku.
"Apa..?"
"Aku serius.."
"Pak..kita sudah berjanji untuk berkencan dulu bukan..?"
"Aku bukan bapakmu.."sahutnya kesal.
Aku terkekeh geli melihat ekspresi wajah pria di hadapanku itu.
"Marah terus nanti makin tua.."
"Tua-tua begini aku kaya raya.."
Aku berpura-pura tidak mendengar dan terus melanjutkan makan. Karena kalau dia terus di tantang akan semakin panjang urusannya.
"Apa yang kamu ingin tau dariku..?"ujarnya.
"Apapun yang ingin kamu ceritakan.."
"Dih... sombong.."
"Satu lagi..umur kita cuma beda sepuluh tahun, jadi kamu jangan pernah panggil aku pak tua lagi.."
"Gak bisa ngitung kayaknya.."
"Diem..atau kamu mau ku cium.."ucapnya kesal.
"Nih..dikira aku takut kali.."sahutku lagi.
Tiba-tiba dia mencium pipiku dan itu membuatku terkejut karena aku terlalu sibuk mengunyah.
"Heiii..."teriakku.
Dia tersenyum mengejek sembari mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Jangan pernah membohongiku karena aku bukan pria yang gampang menerima permintaan maaf.."
"Banyak banget aturan.."
"Kalau gak mau di atur,gak usah pacaran denganku.."
"Yang maksa pacaran kan situ.."sahutku kesal.
"Aku gak maksa pacaran.."ujarnya
"Hah..."
"Kamu yang minta pacaran..aku kan pengennya kita menikah.."
"Bodo amat.."sahutku kesal.
"Jangan suka marah nanti cepet tua.."
Sepertinya pria ini semakin menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Dibalik sikap dinginnya ternyata dia pria humoris yang kadang membuatku jengkel,tapi dia benar-benar bisa membuatku tertawa ketika disampingnya.
"Pake ini..kamu bisa beli apapun yang kamu mau.."
Tiba-tiba dia memberikan kartu berwarna hitam padaku.
"Aku masih punya uang.."
"Simpan saja..siapa tau kamu butuh sesuatu.."
"Dengan gaji kantor aku sudah bisa mencukupi semua kebutuhan ku.. karena sekarang ibu tak ingin aku mengirimkan uang lagi padanya.."sahutku lirih.
"Why..?"
"Entah.."
"Gak apa-apa.. simpan saja"
Aku mengambil kartu itu dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Satu lagi..aku tidak ingin melihat kamu menangis lagi.."
Aku menganggukkan kepalaku dan diapun beranjak dari duduknya untuk memelukku erat.