Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
pertemuan


__ADS_3

Bangun dalam keadaan tak enak hati dan perasaan membuat tubuhku lesu luar biasa. Rasanya hanya ingin berbaring saja hari ini. Tapi sudah ada beberapa schedule yang harus ku lakukan.


Aku melangkah dengan lunglai menuju kamar mandi setelah menyalakan musik dan lilin aromaterapi untuk mengembalikan mood ku yang sangat berantakan.


Dering ponsel membangunkan aku dari tidurku. Tanpa sadar aku terlelap kembali di bathtub.


"Hmmm..."


"Masih tidur..?"


"Sudah di kamar mandi tapi ketiduran lagi.."


"Mandilah.. sebentar lagi aku jemput"


"Aku mau meeting,biar bawa mobil sendiri saja"


"Sebentar lagi aku sampai"


Panggilan di tutup begitu saja tanpa persetujuan dariku. Aku hanya menghela nafas kesal dan segera membersihkan sisa-sisa busa sabun di tubuhku.


Hari ini aku mengenakan celana panjang dan kemeja berwarna maroon. Tidak lupa ku sisir rambut dan ku ikat ekor kuda. Lipstik berwarna coklat tua ku oleskan di bibir dengan mengenakan kuas supaya benar2 rapi.


Aku menuruni tangga dengan cepat dan memutar anak kunci untuk membuka pintu. Aku menunggu di teras rumah supaya kami langsung berangkat saat panji tiba nanti.


Sepuluh menit menunggu akhirnya mobil berwarna hitam berhenti di depan rumah. Sang empunya turun dan tersenyum padaku.


Aku menghampiri pria itu dan memeluknya erat.


"Ayo berangkat.."


"Gak sarapan dulu.?"


"Sarapan sekalian meeting nanti.."


Dia mengangguk dan segera membukakan pintu mobil untukku. Aku tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih padanya.


Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan yang sudah ramai oleh kendaraan berlalu lalang. Aku berkali-kali melihat jam tangan karena waktu meeting sebentar lagi.


"Siapa kliennya..?"


"Buana Rahayu.."


"Kamu sudah pernah bertemu..?"


"Belum.. karena ini klien baru"


"Aku gak bisa menemanimu..tapi nanti setelah selesai aku jemput"


"Hu'um.."

__ADS_1


"Jangan pulang sendiri"


"Iya.."


Entah mengapa setelah pulang dari luar kota,panji benar-benar berubah. Dia selalu melarang ku ini dan itu membuatku sangat kesal.


Mobil berhenti di lobi hotel dan aku segera membuka sabuk pengaman. Ketika hendak membuka pintu tanganku di tarik olehnya dan aku pun menoleh karena terkejut.


"Ada apa..?"


"Kamu kesal.?


"Enggak.."


Dia mencium bibirku dan mengusap pucuk kepalaku. Setelah meyakinkan dirinya bahwa aku akan menunggu akhirnya dia melepaskan pelukannya.


Setengah berlari aku segera memasuki lift yang terbuka. Aku membuka ponsel dan menelpon Rara asisten pribadiku.


Setelah mendengar penuturannya aku pun segera merapikan pakaian dan rambutku supaya tak terlihat habis berlari.


"Maaf...saya terlam..."


"Gak apa-apa Sarah..duduklah"


Aku terkejut saat melihat pria di depanku yang tengah membolak-balik kertas itu.


"Dimas.."


"Iya..kami dulu teman"


Aku hanya terdiam saat Dimas menjawab pertanyaan Rara tanpa menungguku untuk berbicara.


"Apa kabar..?"


"Baik..kamu sendiri..?"


"Aku semakin sehat,tapi semakin pusing karena sekarang harus mengurusi kerjaan bokap.."


Aku hanya menganggukkan kepala walaupun di hati ada rasa yang berkecamuk. Aku takut...


"Gimana..kamu udah pelajari tentang produk kamu..?"


"Udah..dan aku tertarik.."


Dia terus menatapku dan selalu tersenyum membuatku semakin salah tingkah. Aku segera menjelaskan secara detail produk apa yang kami jual dan tanpa banyak bertanya dia langsung menandatangani kontrak yang sudah tersedia.


"Kamu gak mau baca dulu..?"


"Enggak..aku percaya"

__ADS_1


Rara pamit kembali ke kantor setelah meeting selesai dan aku pun berniat untuk pamit pada Dimas.


"Temani aku sarapan.."


"Tapi aku.."


"Aku tidak menerima penolakan.."


Akhirnya aku mengalah dan menemaninya sarapan. Sedangkan aku tidak merasa lapar sama sekali.


"Kalian sudah menikah..?


"Hah..."


"Apakah panji menikahimu..?"


"Belum...aku belum siap.."


Dia mengangkat kepalanya dan menatapku lagi.


"Apa yang kamu tunggu..?"


"Tak ada..aku hanya ingin fokus berkarir dulu"


"Klise... katakan saja awalnya kamu bersamanya karena uji coba. Lama kelamaan kamu kasihan padanya.."


"Dim.. please jangan membuat aku marah lagi"


"Sarah.. jujurlah pada dirimu sendiri, sebenarnya apa yang kamu cari"


Aku bangkit dari kursi dan segera menyambar tas yang berada di meja.


"Jangan pergi..kalau kamu pergi itu tandanya semua ucapanku benar"


Aku tetap melangkahkan kakiku meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku merasa pusing dengan semua ucapannya.


Aku menekan tombol panggil di ponselku dan tanpa sadar aku menangis..


"Sayang.."


"Mas.. tolong jemput aku"


"Sayang kenapa kamu menangis..?"


"Kepalaku sakit mas.."


"Tunggu sebentar..aku segera kesana"


Aku duduk di lobi dengan kepala yang benar-benar pusing. Entahlah apa sebenarnya yang membuat kepalaku pusing dan dadaku menjadi sesak,aku pun tak tahu.

__ADS_1


Lalu lalang orang di depan mata semakin membuat kepalaku berdenyut hebat. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu karena aku merasa tubuhku sudah jatuh ke lantai..


__ADS_2