
Aku sibuk membereskan semua baju-baju ku karena aku menyetujui untuk pindah kerumah Panji. Tak ada satupun yang ku tinggalkan, walaupun Panji meminta aku untuk membuang semua baju-baju lamaku tapi aku tidak mendengarkan. Kupikir kalau masih bisa dipakai kenapa harus beli yang baru.
Saat menempati rumah ini aku memang hanya membawa pakaian saja. Karena aku mengontrak rumah sekaligus perabotannya.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Aku segera mandi dan bersiap untuk pergi meninggalkan rumah ini. Rumah yang dua tahun ini menjadi saksi bisu perjuanganku dan menjadi tempat melepaskan lelah.
Tin tin tin
Suara klakson mobil terdengar dan aku pun segera menarik koper dan membawanya keluar rumah.
"Sayang..."
Panji mengerutkan kening saat mendengar aku memanggilnya.
Aku pura-pura tidak melihat dan langsung saja masuk kedalam mobil tanpa menunggu pria itu membuka pintunya terlebih dahulu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Suara Afgan terdengar di telinga.
"Kamu mau beli apa..?"
"Hahh..?"jawabku
"Kamu pasti ada maunya..?"
"Dih... yasudah kalau kamu gak mau kupanggil sayang.."
Panji menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Dia menatapku dengan tatapan curiga.
"Apa .?"tanyaku sewot.
"Jangan suka marah nanti kamu cepet tua.."
"Gimana gak cepet tua.. cowoknya kayak kamu.."
__ADS_1
Dia tersenyum mengejek sembari mengacak rambutku. Aku semakin kesal dibuatnya.
"Biasanya kalau perempuan berubah manis, pasti ada maunya.."
"Tapi aku bukan perempuan seperti itu.."
"Iya sayang...aku percaya"
"Bohong banget luh.."ucapku lagi.
"Tuh kan baru ketemu udah ngajakin berantem.."
Aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha untuk tidak memperpanjang masalah dengan pria di sampingku ini.
"Ayo pak..ini sudah siang,aku lapar"
Dia sepertinya tidak mendengarkan ucapanku. Tangannya sibuk mengganti musik yang diputar di radio.
"Pak...ayo"ucapku lagi.
"Habisnya kamu dipanggil sayang,curiga. Terus aku panggil bapak marah.."
"Ihh gemass.."sahutnya lirih.
Mobil kembali melaju membelah jalanan. Dia membawaku ke sebuah restoran yang terkenal dengan masakan Jepang yang lezat.
Kami beriringan memasuki resto bergaya Jepang itu. Panji menarik kursi untuk ku duduki, diapun ikut duduk di sampingku.
Seperti biasa dia memesan menu yang sangat banyak. Aku sudah terbiasa dengan itu dan mulai tidak lagi untuk berkomentar apapun.
Kami makan dengan lahap karena memang sudah waktunya makan siang. Apalagi aku sama sekali belum sarapan apapun dari pagi.
"Tadi pagi sarapan apa..?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala sembari terus mengunyah makanan yang ada di mulutku.
"Berapa kali kubilang..jaga kesehatan.."
"Iya sayang..."sahutku sekenanya.
Panji hanya bisa menghela nafas mendengar jawabanku. Mungkin dia lelah menghadapi aku yang menyebalkan ini.
"Nanti aku antar saja sayang kerumah..tapi aku gak mampir soalnya ada meeting.."
"Oke.."sahutku mengacungkan kedua ibu jari.
Setelah makan siang akhirnya kami sampai dirumah yang akan kutempati. Panji memutar anak kunci dan mendorong pintu supaya kami bisa masuk. Koper diletakkan di samping tubuhku dan dia tersenyum penuh arti.
"Aku balik ke kantor..kunci pintunya, istirahatlah.."
Aku menganggukkan kepala dan memeluk tubuh pria jangkung itu. Panji mengelus lenganku dan mengecup pucuk kepalaku.
"Kamar utama ada di atas, tidurlah disana. Rumah ini sudah bersih jadi kamu gak usah mikirin untuk beres-beres.."
"Oke.."jawabku
"Kulkas sudah penuh,kalau lapar makanlah sesuatu,pulang kerja aku akan mampir kemari.."
"Oke bos besar... sekarang pergilah nanti kamu telat.."
Aku mendorong tubuhnya dan diapun tertawa kecil. Setelah kepergiannya aku segera menarik koper dan menaiki tangga setelah sebelumnya mengunci pintu.
Aku membuka pintu kamar dan tersenyum karena kamar ini benar-benar di rubah desain dan warnanya. Yang tadinya berwarna abu-abu sekarang berubah menjadi warna krem.
Entah kebaikan apa yang sudah orang tuaku lakukan di masa lalu. Sehingga nasibku berubah menjadi seperti sekarang. Aku sangat bersyukur menjadi bagian dari kehidupan pria paruh baya yang menyebalkan itu..
Aku mengambil ponsel dari dalam tas dan mengetik sebuah pesan.
__ADS_1
(Aku rindu)
Kukirimkan pesan itu pada pria pemilik rumah ini..