
"Mau kemana Bu...?"
"Kemana lagi,cari duit"
"Bu..ibu gak usah kemana-mana, gaji ku cukup untuk kita makan selama sebulan"
Yunita menatap tajam pada putranya.
"Kamu pikir hidup hanya butuh makan..?"
"Tora..."
Tora menoleh pada kakak perempuannya. Sasha menggelengkan kepalanya, pertanda untuk Tora diam saja dan membiarkan ibu mereka melakukan apapun yang dia inginkan. Tora hanya menghela nafas panjang dan tidak lagi berkomentar apapun.
"Heran... bukannya semakin tua,aku semakin senang,tapi semakin susah "
Yunita melangkahkan kakinya keluar rumah dengan gerutuan yang tiada henti. Kedua buah hatinya hanya menatap punggung ibu mereka sampai tak terlihat lagi.
"Kamu gak kerja...?"
Tora menggelengkan kepalanya dan melanjutkan kegiatannya membersihkan rumah. Dia diminta untuk tidak bekerja oleh Sarah. Karena dirumah tidak ada orang untuk membersihkan rumah yang sudah lama kosong itu.
"Kamu gak ngabarin kak Sarah...?"
"Untuk apa..?"
"Untuk membawa kita dari rumah jelek ini"
"Kakak masih punya keberanian untuk ketemu kak Sarah..?"
Sasha menggelengkan kepalanya,dia berkali-kali mengusap perutnya yang terasa kencang. Rumah yang lumayan besar ini sebenarnya bagus jika di cat ulang atau di bersihkan. Tidak seperti sekarang,kumuh tak terawat.
"Kalau ada uang,beli cat sedikit"
Tora menghentikan tangannya yang sedang mengepel lantai. Dia memandang kakak keduanya dengan perasaan iba.
"Kamarku sangat suram...aku takut"
"Nanti siang aki cari pinjaman...kakak gak usah mikirin apapun"
Mata Sasha berbinar mendengar ucapan Tora. Dia tersenyum karena baginya sekarang, tidur di kamar berwarna lebih membahagiakan.
Setelah dua jam meninggalkan rumah, Yunita kembali dengan langkah gontai. Peluh membasahi keningnya dan dia pun merasa kesal sekarang.
"Ibu sudah pulang..?"
__ADS_1
"Kamu lihat sendiri kan aku sudah disini... berarti aku sudah pulang"
Yunita meninggalkan Tora yang tersenyum sembari mencabuti rumput di halaman. Ponsel Tora berbunyi, lelaki muda itu tersenyum lebar dan segera menekan tombol hijau.
"Kakak..."
"Ambilah uangnya... kakak sudah mengirimkan uang untuk keperluan kalian. Biarkan ibu mencari pekerjaan jika itu yang ibu inginkan"
"Iya kak.. terimakasih"
"Jangan lupa untuk selalu mengabari kakak"
"Siap bos"
Panggilan berakhir dengan senyum mengembang di wajah Tora. Dia berjanji akan membuat ibu dan kakaknya menyesali semua yang sudah mereka lakukan.
Tora berlari ke dalam rumah untuk membersihkan tangannya. Yunita mengabaikan putranya karena dia sedang tidak ingin berdebat sekarang.
pria belia itu melongok ke dalam kamar Sasha yang terbuka lebar.
"Kamu mau warna apa untuk kamarmu..?"
"Kamu sudah punya uang..?"
Tora mengangguk sembari tersenyum
"Kalian ini...punya duit sedikit mau beli cat segala macam. Uang itu gunakanlah untuk yang bermanfaat"
"Sudahlah Bu..."
"Kamu fikir hidup kita hanya sehari ini saja...?Kamu tidak boleh menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting"
"Ibu sendiri bagaimana...? bukankah ini semua terjadi karena keserakahan ibu..?"
"Diam kamu.. punya anak gak ada yang bener, semuanya bikin pusing saja. Kalian ini benar-benar anak durhaka"
"Bukan anak ibu yang durhaka...memang ibu saja yang tidak pernah bersyukur"
"Sudah-sudah... kenapa ibu dan kakak berantem sih, pusing aku dengernya. Aku mau beli cat, tidak mengurangi uang untuk kita makan Bu..jadi ibu tenang saja"
"Terserah kamu saja.. sekarang memang kalian sudah bisa segalanya jadi tidak butuh aku lagi. Jadi tidak usah mendengar apapun yang aku katakan"
Tora mengusap lengan ibunya perlahan. Yunita menepis tangan putranya dengan kasar.
"Tidak kalian,tidak orang-orang di luar sana..kalian sama semua, sama-sama menjengkelkan"
__ADS_1
"Lebih baik ibu makan dulu dan istirahat, nanti kita pikirkan lagi semuanya dengan kepala dingin"
"Kamu tidak usah beli cat, biarkan kamarku seperti ini"
Tora menatap tajam pada Sasha untuk berhenti berbicara.
"Ini semua gara-gara kamu..Kita susah seperti ini karena kamu tidak bisa menjaga kepercayaan ku"
"Siapa.. maksud ibu..?"
"Kamu...aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk sekolah mu, perawatan mu tapi ternyata kamu menusukku dari belakang"
"Harusnya ibu tidak membahas lagi semua itu..ini semua gara-gara ibu yang terlalu serakah dan selalu membenci Sarah"
"Sha... sudahlah.."
Tora berusaha menengahi keduanya.
"Ibu selalu melimpahkan kesalahan nya pada orang lain. Aku muakk"
"Kalau kamu muak denganku, kenapa kamu tidak pergi saja dari sini..?"
"Bu sudahlah Bu...ayo kita masuk kamar"
Tora segera menuntun tangan Yunita untuk menjauh dari Sasha.
"Ibu akan selalu menutup mata untuk setiap kesalahan ibu...ini semua gara-gara ibuuuu... semua yang terjadi karena ibuu"
Sasha berteriak seperti orang kesetanan dan itu membuat Yunita semakin marah. Dia urung masuk kedalam kamarnya,dengan langkah cepat dia kembali menghampiri Sasha tanpa bisa di cegah oleh Tora.
"Ini yang akhirnya aku petik, setelah bersusah payah menmbesarkanmu...?"
Rambut Sasha di tarik sekuat tenaga oleh Yunita membuat tubuh gadis muda itu terhuyung ke depan. Tora segera memisahkan keduanya sebelum sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.
"SUDAHHH....Apa yang sedang kalian lakukan..? semua ini terjadi karena ulah kalian sendiri...ini semua teguran dari Tuhan untuk kalian karena menjadi orang yang begitu jahat"
Tora menahan dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu yang lebih menyakitkan lagi. Dia segera menggigit bibirnya untuk diam walaupun darahnya sudah naik di ubun-ubun.
"Sha... kembali ke kamar sekarang..."
Sasha menghentakkan kakinya dan menuruti perintah adik bungsunya.
"Bu...tolong jangan seperti ini.."
"Kalian benar-benar anak durhaka"
__ADS_1
Yunita berlalu dari hadapan Tora meninggalkan lelaki muda itu yang menganga seperti tak percaya jika hati ibunya masih sekeras batu..