
Yunita sedang melipat baju saat sebuah mobil hitam memasuki pekarangan rumahnya. Dia memicingkan mata menunggu seseorang turun dari mobil. Seorang pria dengan berpakaian rapi turun dari mobil sambil melepas kacamata hitamnya.
"Permisi Bu..."
"Iya..siapa ya?"
"Saya Panji"
Pria bangir itu menjulurkan tangannya. Yunita langsung berdiri dan hendak meninggalkan Panji. Tapi pria itu segera menghalangi langkah wanita paruh baya itu.
"Saya minta waktunya sebentar"
"Saya tidak punya waktu, untuk berbicara dengan kamu"
"Saya mohon Bu...sekali ini saja, setelah ini saya janji tidak akan mengganggu ibu lagi"
"Cepat katakan ada apa ..?"
"Saya kesini mau minta restu ibu, untuk menikahi Sarah"
"Setelah sekian lama...kalian ternyata belum menikah"
Yunita tersenyum sinis pada Panji, seperti meremehkan. Jika dalam keadaan berbeda mungkin Panji sudah mengambil langkah untuk mempidana wanita itu. Tapi dia berusaha untuk bersabar mengahadapi ibu dari gadis yang di cintainya.
"Menikahlah tanpa harus meminta izinku"
"Walau bagaimanapun Sarah darah daging ibu"
"Mungkin memang benar dia adalah anak yang aku kandung dan ku lahirkan. Tapi dia bukan lagi bagian dari keluarga ini"
__ADS_1
"Setelah begitu banyak hal yang terjadi...ibu masih bersikeras untuk tidak lagi menganggap Sarah sebagai putri ibu"
"Kamu tidak tahu apa-apa..pulanglah, sudah cukup rasanya perbincangan kita"
"Baiklah..saya permisi dulu"
Yunita langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintunya dengan rapat. Panji hanya bisa menghela nafas panjang melihat perlakuan calon ibu mertuanya itu.
Panji segera masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk.
Setelah kepergian Panji, Yunita pun kembali keluar dan duduk sembari meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Siapa tadi Bu..?"
Yunita diam saja tanpa menjawab pertanyaan putranya. Tora langsung masuk ke dalam rumah karena melihat ibunya tak merespon sama sekali.
"Siapa yang mau nikah Bu..?"
"Astaga... kenapa kamu selalu tiba-tiba muncul begitu saja"
Tora menggaruk kepalanya dan tersenyum sembari mengusap lengan ibunya perlahan.
"Maaf.. sudah membuat ibu terkejut"
"O,iya...siapa yang mau menikah Bu..?"
"Sarah...tadi pacarnya yang datang. minta ijin mau menikahi kakakmu"
"Terus...?"
__ADS_1
"Apa...?"
"Apa yang ibu katakan pada kakak ipar..?"
"Apa yang kamu harapkan dari aku...hah?"
"Tolonglah Bu.. setidaknya ibu mengatakan sesuatu yang baik"
"Sarah bukan lagi bagian dari keluarga ini, untuk apa pria itu datang kemari"
"Bisakah ibu melupakan semuanya dan kita hidup seperti sediakala"
"Tidak...aku sudah tidak lagi mempunyai anak perempuan. Atau kau juga ingin ku coret dari daftar keluarga"
"Ibu kenapa sih...dikit-dikit ngancem, dikit-dikit marah"
"Itu karena aku mempunyai anak-anak yang tidak tahu balas budi"
"Kurang balas budi apa sih anak-anak ibu.. maunya ibu itu seperti apa.."
"Ibu mau kalian semua nurut,patuh... karena membesarkan kalian bukan hal yang mudah"
"Kurang nurut apa Kakak sama ibu,tapi ibu masih aja musuhi dia"
"Kamu lama-lama banyak omong,bawa semua baju ini kedalam"
Tora mencebik dan mengambil pakaian dari tangan ibunya. Sebenarnya dia masih betah untuk berdebat dengan perempuan kesayangannya itu tapi sepertinya ibunya yang tidak ingin meladeni dirinya.
Yunita sangat kesal dengan anak lelakinya,tapi hanya anak bungsunya itulah yang mau menemaninya dan selalu berusaha mengambil hatinya.
__ADS_1