Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
ayo bicara


__ADS_3

Panji memasuki rumah megah yang telah menjadi saksi hidup dia dan ibunya. Pintu terbuka walaupun tak ada siapapun disana. Maid yang baru saja selesai mencuci tergopoh-gopoh menghampiri Panji.


"Tuan muda.."


"Mana Nyonya..?"


"Ada di belakang, biar saya panggilkan"


"Tidak perlu, biarkan saya kesana sendiri"


Maid mengangguk sembari berlalu dari hadapan Panji.


Halaman belakang rumah Ivone yang begitu luas di tanami bermacam-macam bunga. Sehingga setiap mata yang memandang pasti merasa tenang berada disana.


Ivone yang sedang memetik beberapa bunga tersenyum saat melihat putranya berdiri di depan pintu.


"Kemari nak.."


Ivone melambaikan tangannya dan Panji segera mendekat untuk memeluk wanita cantik itu.


"Apa kabar sayang..?"


Ivone menciumi rambut putranya dengan penuh kasih.


"Sudah sarapan..?"


Panji menggeleng dan mengajak ibunya untuk duduk di kursi rotan berwarna putih.


"Ada apa nak..?"


Panji menatap wajah Ivone dengan tatapan penuh tanya, sehingga Ivone merasa putranya itu sedang mengintimidasi walaupun tanpa kata.


"Lang.."


"Ayo kita bicara.."


Ivone melepaskan genggaman tangan Panji dan hendak berdiri,tapi tangan putranya menariknya lagi untuk duduk.


"Mami sedang tidak ingin bertengkar"

__ADS_1


"Kenapa mami selalu menghindar?"


"Karena buat mami masa lalu biarlah tetap tinggal di masa lalu"


"Ini bukan tentang Dimas"


Ivone menatap lekat pada putranya.


"Lalu..?"


"Ini tentang Sarah dan keluarganya"


Mata Ivone membulat sempurna saat mendengar ucapan putranya.


"Apa yang kamu ketahui..?"


"Semuanya"


Ivone berusaha untuk tetap tenang saat mendengar semua itu.


"Mami hanya ingin kamu bahagia"


"Apakah mami salah menjauhkan Sarah dari keluarganya yang toxic?"


"Salah"


Panji bangun dari duduknya dan berlutut sambil memegangi kedua kaki Ivone


"Tolong berhentilah untuk menyuap mereka"


"Mami tidak takut harta kita habis"


"Bukan itu yang panji takutkan mih..."


"Apa yang kamu takutkan..?"


"Sarah tidak bahagia..hanya itu ketakutan Panji sekarang "


Ivone menciumi pucuk kepala panji dan dia menangis tergugu.

__ADS_1


"Mami hanya ingin melihat kamu tersenyum lagi,tak ada niat lain"


"Panji tau.."


Mereka berpelukan dan merasakan sakit yang sama, sama-sama takut kehilangan.


"Apakah Sarah membenci mami..?"


Panji menggeleng dan mengusap punggung tangan Ivone.


"Gadis itu tidak pernah membenci siapapun "


"Kapan mami bisa menemuinya"


"Terserah mami saja"


"Lang..tolong jangan lagi bahas tentang masa lalu kita"


"Dimas berhak mendapatkan kasih sayang kita mih"


"Tidak..dia adalah putra Rahayu bukan putraku"


"Kenapa mami begitu membencinya..?"


Ivone berlalu dari hadapan Panji tanpa mengatakan apapun lagi. Pria itu hanya mendengus kesal karena ibunya benar-benar tidak ingin membahas putra yang dia buang.


"Tuan muda.. nyonya memanggil untuk makan siang"


"Saya tidak lapar..tolong katakan pada mami, saya ada meeting"


Maid menganggukan kepala dan memandangi punggung pria jangkung itu sampai menghilang dari pandangan.


"Mana putra saya..?"


"Maaf nyonya..tuan muda mengatakan beliau ada meeting dan sudah pulang lewat pintu samping"


Ivone hanya bisa terdiam dan segera menyuruh maid untuk membereskan makanan yang baru saja di sajikan. Ivone sudah tidak merasakan lapar lagi dan diapun segera naik ke atas untuk merebahkan tubuhnya.


Para maid saling berbisik sembari mengerjakan pekerjaan mereka. Ternyata banyak harta juga bukan jaminan kebahagiaan seseorang. Buktinya kehidupan nyonya mereka sama seperti orang pada umumnya,sering menangis karena memikirkan betapa beratnya beban kehidupan.

__ADS_1


Bukankah semua manusia sedang di uji dalam hidupnya. Hanya bedanya ujian itu berupa apa dan bagaimana cara mereka mengatasinya..


__ADS_2