
Panji duduk di ruang tamu dengan sangat gelisah. Dia tak tahu harus memulai semuanya dari mana. Karena dia yakin ibunya tak akan semudah itu mengatakan semua kebenarannya.
"Lang..."
Panji segera bangun dan memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Ada apa.?"
Panji hanya diam saja sambil sesekali tersenyum mencoba untuk tetap tenang sebelum mendengar sesuatu yang akan menyakiti hatinya.
"Mih..Gilang bermimpi.."
"Mimpi apa nak?"
"Panji bermimpi mami membuang seorang bayi"
Seketika wajah Ivone berubah sangat pucat mendengar penuturan putra kesayangannya itu.
"Apa arti mimpi itu ya mih..?"tanyanya lagi.
Didalam hati panji berbisik meminta maaf pada ibunya itu karena sudah berbohong.
"Itu hanya bunga tidur saja Lang.."
"Tapi...itu seperti nyata mih, seperti ada pesan yang sedang disampaikan"
"TERUS KAMU PIKIR MAMI MEMBUANG BAYI GITU, BAYI SIAPA YANG MAMI BUANG...?"
Ivone terlihat begitu marah sampai dia tak sadar sudah meninggikan suara pada panji.
"Kenapa mami begitu marah..?"
__ADS_1
Ivone menghela nafas panjang dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana kabar Sarah..?"
"Sarah baik-baik saja.."
"Kapan kalian akan menikah..? cobalah untuk terus membujuknya.."
"Mih.. apakah tak ada yang ingin mami sampaikan pada Gilang..?"
"Tak ada nak..mami hanya ingin kamu cepat menikah,itu saja"
"Bagaimana jika suatu hari nanti kami berpisah karena masa lalu yang belum selesai..?"
"Maksud kamu apa nak..?"
"Tak ada.."
Ivone melepaskan kepergian putranya dengan nyeri di dadanya. Karena dia melihat tatapan yang penuh tanya dari putranya itu.
Panji mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat dia tidak mendapatkan jawaban dari Ivone. Dia akhirnya harus menemui seseorang yang saat itu berbicara dengan ibunya.
Jalanan terjal berbatu membuat perjalanan semakin lama. Jantung panji memompa sangat cepat. Dia tidak tahu apa yang akan di temukan di rumah itu,tapi dia yakin sesuatu yang besar sudah menantinya.
Rumah sederhana itu sangat sunyi seperti tak ada kehidupan. Panji segera mengetuk pintu setelah masuk begitu saja melalui pagar yanh yang tak terkunci.
Setelah menunggu lama pintu pun dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda.
"Iya..cari siapa nak..?"
Panji diam seribu bahasa,dia seperti tak punya nyali untuk bertanya lebih jauh.
__ADS_1
"Masuklah nak...ayo kita bicara di dalam"
Panji mengikuti ucapan wanita itu dan segera memasuki rumah itu dengan sangat gugup.
"Mau minum apa nak..?"
"Tidak perlu repot-repot tante... terimakasih"
"Apakah feeling saya tidak salah... apakah ini nak Panji..?"
Panji menganggukkan kepalanya dan menatap lekat pada wanita paruh baya di depannya.
"Bagaimana tante tahu..?"
"Tak ada yang tahu keberadaan saya disini, kecuali suami dan putra saya juga Ivone ibumu"
"Saya sedang mencari jawaban.."
"Apakah nak panji akan berlapang dada,saat mendengar kebenarannya nanti.."
"Saya tidak berjanji..tapi setidaknya saya bisa mengetahui semua kebenarannya.."
Setelah terdiam cukup lama akhirnya Rahayu menceritakan semua yang telah terjadi di masa lalu. Beberapa kali dia mengusap air mata di wajahnya.
Panji merasa seluruh tubuhnya tak bertulang. Dia merasakan sakit luar biasa saat mengetahui luka yang dirasakan oleh ibunya selama ini. Begitu banyak hal yang ingin di lupakannya walaupun dengan cara yang sangat salah.
"Ibu harap kamu bisa menerima semuanya nak.."
Panji merasa lidahnya sangat kelu sehingga dia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang menitikkan air mata saat mendengarkan semua obrolan mereka berdua...
__ADS_1