Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Tabur tuai


__ADS_3

Sarah tertawa terbahak-bahak saat melihat adegan panas yang di lihatnya melalui ponsel miliknya. Bukan artis ternama yang melakukan itu tapi adiknya sendiri dan seorang pria yang dia tidak tahu siapa.


"Apa yang kamu tertawakan..?"


Sarah segera menutup ponselnya dan memalingkan wajah menatap kekasihnya.


"Aku nonton komedi romantis"


Panji hanya tersenyum,dia percaya begitu saja ucapan Sarah.


"Nanti aku tinggal sebentar ya, mau meeting"


"Oke..tapi aku gak mau diem aja di kamar,aku mau jalan-jalan"


"Sendirian..?gak apa-apa..?"


"Ya gak apa-apalah"


"Nanti malam mau makan apa..?"


"Aku pengen makan bakso "


"Sayang..."


"Hmm..?"


"Coba kalau ditanya makan atau apapun jawabannya terserah gitu, kaya cewek-cewek di luaran sana"


"Hah.. maksudnya..?"


"Kamu itu sudah merusak tatanan pertanyaan cowok sama ceweknya "


"Apa sih,aku gak ngerti "


"Gak apa-apa.."


Sarah kebingungan dengan ucapan kekasihnya itu. Karena sejauh yang dia tahu, hidup itu ya jangan dibikin ribet. Ditanya jawab diberikan pilihan ya milih.


Setelah kepergian Panji,sarah segera masuk kedalam kamar hotel. Panji memesan dua kamar yang letaknya bersebelahan.

__ADS_1


Didalam kamar,Sarah segera menelpon seseorang untuk melakukan misi yang sudah meronta di kepalanya. Beberapa kali nada panggilan terdengar dan tak lama suara seorang pria terdengar di ujung sana.


"Iya Bu..maaf tadi saya sedang keliling"


"Pak..tolong bawa beberapa orang untuk mengecek rumah saya"


"Memangnya ada apa Bu..?"


"Gak apa-apa pak.. Saya dapat informasi kalau teman saya memasukkan pria asing kerumah saya"


"Baik Bu..siap laksanakan"


Panggilan di akhiri dengan senyum kemenangan di bibir tipis gadis cantik itu.


"Lebih baik kamu menikah dengan pria itu"


Sarah beranjak untuk segera menyegarkan diri. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan apapun pada adiknya tapi semua perbuatan Sasha membuat hati Sarah dipenuhi rasa kesal dan benci.


__________________________________


Tok tok tok


"Ada apa ya pak..?"


"Saya mendapat laporan bahwa nona memasukkan pria asing kerumah ini"


"Hah...siapa yang mengatakan itu pak..?"


"Saya ijin masuk dulu..nanti setelah itu kita bicara lagi"


"Bapak gak bisa masuk begitu aja "


Sasha mencoba untuk menutup pintu supaya security dan beberapa orang itu tidak memasuki rumahnya. Dengan tenaga yang tidak seberapa dia berusaha sangat keras untuk menghalangi jalan.


"Kalau ibu berbuat seperti ini, berarti informasi itu benar"


Dengan sangat terpaksa Sasha menyingkir dari pintu dan membiarkan orang-orang itu masuk. Beberapa orang mencari dengan cara berpencar.


"Kamu siapa..?"

__ADS_1


"Saya...saya..."


Rizal di dorong keluar kamar oleh seorang pria dengan hanya memakai celana pendek saja.


"Kalian tidak malu berbuat asusila di lingkungan ini"


"Kami gak ngapa-ngapain pak.."


"Diem kamu.."


"Siapa pria ini nona..?"


"Dia saudara saya pak.."


"Mana kartu pengenal kamu..?"


Security segera menggeledah kamar Sasha dan menemukan dompet pemuda itu. Dia mengambil kartu pengenal dari dalam dompet itu dan membaca alamat yang tertera disana.


"Kalian jangan bohong ya..cepet ngaku "


Bunyi ponsel milik security itu bergetar dan sebuah video telah di kirim dari nomer ponsel Sarah.


Security yang bernama ujang itu menggelengkan kepalanya dan segera meminta yang yang lainnya untuk membawa mereka berdua untuk di proses lebih lanjut.


"Tunggu dulu pak...gak ada bukti mana bisa main tangkap-tangkap saja"


"Nona mau bukti..?tapi nanti nona malu sendiri"


Sasha segera melihat ponsel yang sudah di sodorkan oleh pak Ujang. Dia menutup mulutnya dan berteriak seperti orang kesetanan.


"Nikahkan saja mereka pak.."


"Tidak bisa.. karena perempuan itu hamil"


Suasana sangat riuh sekali sehingga tidak ada kesempatan Sasha ataupun Rizal untuk membela diri.


"Bawa saja mereka ke kantor..nanti kita bicarakan disana"


"Huuuuuuu"

__ADS_1


Sasha dan Rizal di bawa oleh para warga untuk mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka. Gadis itu sibuk berpikir apa yang akan dia lakukan supaya dia tidak mendapatkan malu untuk kesekian kalinya.


__ADS_2