Perempuan Lajang

Perempuan Lajang
Menyusun rencana


__ADS_3

Pria berperawakan sedang itu sedang menciumi leher Sasha tanpa ada perlawanan. Tangannya juga bergerilya kesana kemari menimbulkan ******* demi ******* yang keluar dari mulut perempuan berbadan dua itu.


Mereka pun bergumul tanpa mengingat dosa. Setengah jam berlalu rintihan itu di akhiri teriakan mereka berdua. Pria itu menciumi wajah Sasha dan tersenyum senang.


Sasha bangkit dari tempat tidur dan berjalan kearah kamar mandi meninggalkan pria tadi yang kini sudah tertidur lelap di atas ranjangnya. Gadis itu menyiram tubuhnya dengan air dingin sambil bersenandung lirih.


Setelah membersihkan diri gadis itu merasa lapar dan segera keluar kamar untuk mencari cemilan yang selalu ada di dalam lemari es. Dia mengambil beberapa lembar roti dan selai cokelat juga cemilan tak lupa di bawanya ke meja makan.


Gadis itu mengoleskan selai dan segera melahap roti dengan cepat. Dia merasakan hatinya sangat senang karena nafsunya tersalurkan. Entah mengapa semenjak hamil dia seperti orang yang selalu kehausan belaian.


"Makan sendirian aja"


Sasha menoleh dan pria yang tadi mencumbuinya sudah duduk di kursi dan mencomot roti yang berada di piringnya.


"Kukira kamu masih tidur"


"Aku lapar,apa kamu tidak ada makanan lain selain ini..?"


Sasha menggeleng dan masih sibuk dengan suapan ke dalam mulutnya.


"Kamu tahu sendiri aku tidak bisa memasak"


"Jaman serba canggih begini, masih saja kaku"


Sasha tidak mengindahkan ucapan pria yang bernama Rizal itu. Dia tahu bagaimana watak kekasihnya itu.


"Mana ponselmu..?"


"Untuk apa..?"


"Pesan makanan lah,apa lagi..?"


"Ponselku di dalam kamar"


Rizal segera berlalu dari hadapan Sasha untuk mengambil ponsel gadis cantik itu. Pria itu mengambil ponsel dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia membuka aplikasi pesan antar makanan. Dengan wajah sumringah dia memencet beberapa menu di dalamnya.


"Permisi...mbak Sasha.. makanannya sudah sampai"


Sasha sedang menonton televisi saat ada seseorang memanggil dari luar. Dia beranjak dari duduknya dan segera membuka pintu untuk mengambil makanan yang sudah di pesan oleh Rizal.


Pria berwajah oriental sedang berdiri sambil sibuk dengan barang-barang di tangannya.

__ADS_1


"Berapa semuanya mas..?"


"Ini mau disimpan dimana mbak..?"


"Sini saya pegang saja"


"Tapi..ini berat mbak"


"Hah... memangnya ini semua pesanan saya..?"


"Iya mbak.."


Sasha mendengus kesal dan segera meminta pria itu membawa semuanya ke dalam rumah.


"Semuanya tujuh ratus delapan puluh lima ribu mbak.."


Sasha segera mengambil uang dari dompetnya dan pengantar makanan itu segera berlalu pergi.


"RIZALLL......"


Rizal yang sedang terlelap pun terlonjak saat mendengar suara teriakan kekasihnya.


"Ada apa sih..."


"Kamu keterlaluan banget sih,pesan makanan sebanyak ini"


Sasha tidak berhenti bersungut-sungut walaupun pria di depannya seperti tidak mendengarkan.


"Wah... baunya harum sekali,aku sangat lapar"


Tanpa memperdulikan ocehan Sasha,pria itu segera mengambil semua makanan yang sudah dipesannya dan membukanya satu persatu.


"Dasar manusia rakus"


"Sudahlah sayang,jangan marah-marah terus..sini ikut makan denganku "


"Aku tidak lapar"


"Oke lah kalau begitu"


Pria itu melanjutkan suapan ke dalam mulutnya tanpa henti. Dia seperti tidak makan selama setahun.

__ADS_1


"Katakan sekarang apa yang bisa kubantu.."


Sasha akhirnya duduk di depan pria yang sedang mengunyah makanan itu. Dia hanya bisa mengelus dada melihat semua makanan yang berserakan di meja makan.


"Aku hanya ingin kamu memberikan pelajaran untuk kakak'ku"


"Pelajaran seperti apa..?"


"Takuti dia dengan penculikan misalnya,atau pemerkosaan "


"Hah.."


Rizal mengehentikan suapannya dan menatap tajam pada gadis di depannya.


"Ternyata kamu bukan manusia "


Sasha mengerenyitkan dahinya mendengar ucapan Rizal.


"Bukankah kamu juga sama.."


"Tapi setidaknya aku tidak seperti kamu"


"Sudahlah jangan sok suci"


"Iyaa.. baiklah,nanti aku akan meminta bantuan teman-teman ku"


"Terserah kamu saja,tapi ingat jangan libatkan aku"


"Bagaimana dengan bayarannya..?"


"Dasar mata duitan "


"Hey...aku membantu tidak cuma-cuma "


"Itu bisa di atur,kerja dulu baru kamu dapat duit"


Rizal mengangguk-angguk tanda setuju dengan persyaratan yang Sasha berikan.


"Bukankah kakak mu baik..?"


"Tidak sebaik yang orang pikirkan"

__ADS_1


Sasha tersenyum senang membayangkan apa yang akan terjadi dengan kakak perempuannya. Dia sangat ingin perempuan itu merasakan apa yang dia rasakan saat ini.


"Hidupmu jangan terlalu sempurna", ucapnya lirih.


__ADS_2