
Akhirnya Aku dan Gladis resmi jadian disaksikan sunrise dan birunya air laut pulau Peucang. Aku dan Gladis berjalan menyusuri tepi Pantai, terlihat di sekitar pesisir Pantai wisatawan luar negeri sedang berjemur.
Otaku traveling sampai ke Miyabi ketika melihat bule jepang berjemur diatas matras, terlihat tubuh putih mulus dengan balutan bikini bermotif bunga. Dia berbaring dengan menggunakan topi dan kacamata hitamnya, dia menyilangkan kaki kiri berada di lutut kanannya. Burung peliaraanku sontak terbangun, ketika melihat belahan kedua gunung yang hanya di sangga oleh tali yang melingkar ke punggungnya.
Karena malu ada yang melihat pergerkan burung peliaraanku, aku mengajak Gladis untuk duduk sejenak.
" cuacanya sudah mulai panas yaa Dish"
" ahh enggak juga sayang"
Mendengar Gladis mengatakan sayang, hatiku berontak sangat senang seperti sudah memenangkan piala dunia.
" sayang?? Aku gak salah dengar Dish??"
" kenapa?? Gak boleh aku bilang sayang?"
" boleh banget sayang hehheheheh
Sambil mengobrol dengan Gladis, pandangan mataku kesana kemari melihat pemandangan yang jarang aku temui. Untungnya aku memakai kacamata hitam, jadi Gladis tak menaruh curiga aku memandangi body aduhai para bule.
" sayang kita makaan yu, udah lapar nich"
" baik sayang,"
Aku dan Gladis berjalan ke dermaga, disa terlihat banyak wisatawan dan warga sekitar sedang memancing. Di sana juga terdapat warung warung yang menjual makanan hasil laut.
Tadinya aku dan Gladis mau makan di restauran, tapi sayang jarak dari Pulau Peucang ke Restauran lumayan jauh, jadi aku dan Gladis memutuskan untuk makan yang ada di sekitaran Pulau.
Aku dan Gladis akhirnya makan nasi padang supaya tidak lama menunggu, kami saat itu memang sangat lapar. Tak lupa aku memesan es kelapa muda sebagai minuman wajib ketika di Pantai.
" kamu lauknya mau apa sayang??"
" seperti biasa Dish, aku mau sama kikil"
Aku dan Gladis makan dengan lahap, terlihat kering keluar dari kumis tipis Gladis, aku segera mengelapnya dengan tisu. Kali ini tak seperti awal aku mengelap noda di bibir Gladis, mungkin karena sudah ada ikatan, pipinya Gladis tak memerah.
Terlihat pengunjung lain dan karyawan nasi padang memperhatikan amu dan Gladis yang sedang bucin. Perasaan senang dan malu campur aduk.
" habis ini kita kemana ya sayang?"
__ADS_1
" baru satu malam aja aku udah bosan"
" mana Cleo dan Clara bohong lagi."
" gak boleh gitu"
" klo emang kamu udah merasa bosan, yaa itu terserah kamu!! Mau nginep disini lagi ayo, mau pindah ayo, mau pulang ke salon kamu juga ayo!!
Melihat ekpresi dan gelagat Gladis, kayanya dia bosan dengan aku yang plet. Aku pun berinisiatip untuk merubah ke polosanku.
Emang dari awal aku pura pura bodoh dan kekanak kanakan di depan Gladis, meski usiaku baru 23 tahun, aku bisa menysuaikan keadaan.
" pelayan..... Tolong hitung semuanya jadi berapa??
Terlihat Gladis mengambil uang dari tasnya, lalu aku cegah.
" giliran nasi padang kamu mentraktir aku, kemarin waktu seafood kemana? Hhihihi
" becandanya gak asyik tau"
Mukaku seketika memerah mendengar Gladis seperti itu, tapi memang benar juga sich..
" kamu tuh beda dengan yang lain cara memperlakuka aku.
" aduh Dish hidung aku terbang, udah yaa jangan muji muji aku mulu ahahahah.
Gladis memutuskan untuk mengakhir liburan di Pulau Peucang esok hari, ini berarti malam terakhir aku berada disini.
Setelah selesai makan, aku mengajak Gladis ke cagar alam pulau Puecang, kebutulan jaraknya tidak terlalu jauh dari Dermaga. Hanya dengan membayar tiket 5000 perorang kamipun masuk ke cagar alam bersama wisatawan lain
Terlihat banteng banteng ketika kami belum jauh berjalan dari tempat tiket. Gladis memegang erat tanganku karean memang suasananya hororm mirip film hantu indonesia. Terlihat pohon besar menjulang tinggi keatas, dan akanya berjajar sangat indah. Tak lupa kami berselfie dam merekam vidio dibawah pohon tersebut.
Aku dan Gladis bersama wisatawan lain berjalan kembali ke tengah hutan, disepanjang jalan kami disuguhi pemandangan satwa liar seperti monyet, rusa. Aku, Gladia dan wisatawan lain kaget, tiba tiba kawanan babi hutan berlari kencang menuju arah kamj, sontak semua berpencar dan berteriak untuk menghindarinya.
" aku takut sayang!? Kita balik lagi yuu"
" gak apa apa, tenang ada ku disini"
" tenNg tenang gimana?? Kamu juga barussan berteriK sama sepertiku" hihihi dasar "
__ADS_1
Aku dan yang lain meneruskan perjalanan. Terlihat pohon mangrove yang sedang masyarakat sekitar tanam, disana juga sebagian anak anak berburu kepiting dan gurita. Gladis sejenak berhenti dan tertawa.
" ada apa sayang?? Gladis tertawa semakin menjadi jadi, aku kira Gladis kesurupan mahluk halus disana, tiba tiba telunjuk Gladis mengarah pada suatu benda.
Setelah aku dekati ternyata benda tersebut adalah BH berukuran nomer 48, pantesan saja Gladis tertawa. Dia bukan tertawa karena BH nya, namun Gladis membayangkan seberapa besar ukuran kedua gunung wanita tersebut.
" kebayangkan Sayang?? Punya aku saja ukura 36 segede gini, apalagi itu hahabahahab
" udah aah jangan bahas gituan di sini Dish"
Akhirnya aku dan Gladis berada di ujung finis cagar alam. Terlihat hari sudah sore, aku dan Gladis memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Di perjalanan menuju penginapan gladis berhenti di sebuah toko baju, yang sebenarnya lebih mirip warung biasa. Gladis membeli baju dan asesoris sebagai kenang kenangan
" sayang, coba pakai gelang tasbih ini!! Tuh kan kamu cocok pakai gelang tasbih ini, amu beli dua yang warna hitam ya.
" dikampung juga banyak Dish yang giniah mah!!
" kamu berfikirnya jangan seperti itu!! Ini sebagai kenang kenangan dan pengingat bahwa kamu pernah menapakan kaki disini. Begitu oo ahahahahah
" sekalian sama topi sama boxernya yaa hehehehem
" dasar yaa kamu..
Aku dan Gladis berjalan kembali menuju penginapan, terlihat dari kejauhan ada alice, bule yang kemarin aku rayu dan di Prank Gladis. Di melirik ke araku dengan tatapan penuh dendam, Gladis tertawa ketika berpapasan dengan alice. Sontak alice teriak **** U dengan mengarahkan jari tengahnya.
" gara gara kamu kemarin tuh, Alice masih marah sama aku.
" biatin" dengan muka manja.
Kami pun bergegas masuk. Aku membawa handuk ke kamar mandi, aku bercermin melihat diriku sendiri. Aku tak. Menyanka dalam waktu kurang dari seminggu bisa mendapatkan hatinya Gladis. Memang rencana tuhan itu di luar nalar. Aku membilas smua tubuhku dengan air dingin, ku pakai sampo dan sabun milik Gladis, ku gosok gosok gigi dengan sikat milik Gladis pula, karena aku tadi lupa membawanya.
Tok tok tok
" sayang bisa buka dulu sebentar gak??"
" bentar lagi kelar ko Dish"
" aku gak kuat sayang.. Cepet, ini udah mau nongol cepet"
__ADS_1
Dan...