Perjaka yang Ternodai

Perjaka yang Ternodai
BAB 18 # mutiara kerang ajaib


__ADS_3

Setelah dua hari dua malam di Pulau Peucang, Gladis memutuskan untuk kembali menuju Jakarta ke tempat usaha miliknya.


Aku bersiap siap dengan membereskan barang bawaan terlebih dahulu, sedangkan Gladis sedang mandi. Entah kenapa hari ini aku merasa lemas, letih, lesu seperti orang yang sedang ngidam. Aku berfikir ini mungkin akibat dari pengeboran rumah kerang ajaib semalam, atau mungkin ini efek samping dari penggunaa tisu ajaib.


Sampai pagi ini, burung peliaraanku masih terasa baal seperti sudah di anastesi. Aku tak habis pikir apa yang dilakukan Gladis terhadapku selama ini, aku juga menyesal tidak bisa menjaga keperjakaanku. Apalagi semalam aku tidak merasakan keaslian keluarnya saripati kasih sayang. Aku rugi dua kali malam tadi. Aku juga tidak tau kemampuan burung peliaraanku yang aslinya, semalam memang aku seperti seperti Gatotkaca atau Samson, namun itu semua efek dari tisu ajaib. Ditambah lagi Gladis memakaikan topeng di burung peliaraanku, aku jadi tidak tau gimana rasa aslinya.


" sayanggggg.. Masih lama gak mandinya??"


" bentar lagi tanggung" . Ini masih berendem di bathup"


" kalo mau mandi, pake shower aja" gak di kunci kok "


Mendengar jawaban Gladis, aku terpikir tentang mimpi proyek pengeboran bersama Gladis kemarin malam! Kali ini aku akan mengebor duluan tanpa ajakan rayuan Gladis. Aku penasaran dengan durasi dan rasanya, terlebih lagi aku ingin penasaran dengan kekutanku yang sesungguhnya.


Aku buka pintu kamar mandi, terlihat Gladis di Bathup sedang mengusap ngusap badan dengan kedua tangannya, dia tersenyum menggoda ke arahku. Rambut panjangnya di ikat seperti sanggul, lututnya terlihat hanya satu yang mengapung ke atas di kelilingi busa dari sabun. kedua gunung merapinya terlihat setengah seperti mau tenggelam.


Aku segera masuk ke dalam bathup di belakang Gladis, pertama tama aku menyelamatkan kedua gunung yang mau tenggalam, gladis menegadah keatas ketika aku memegang dan mengerakan jari jemariku di pintu bendengan sumber mata air susu. Aku keluarkan juga jurus juluran lidah ular Nagin di area leher Gkadis, sontak Gladis memegang kepalaku dengan tangan kanannya, kemudian tangan kiriku ditarik kedepan menuju rumah kerang, aku sentuh dan memainkan mutiara kerang itu dengan jari jemariku, secara bersamaan terdengar suara merdu dari Gladis, semua itu membuat aku semakin semangat.

__ADS_1


Gladis kemudian merubah posisi dengan menghadap ke arahku, kali ini Gladis menyerang balik dengan menggunkan jurus ular anaconda. Gladis memeluk dengan erat dan duduk di kedua pahaku, dia mengeluarkan jurus kudua gunungnya dengan menghimpi wajahku. Tak mau kalah, aku mengeluarkan jurus Vampir dan Drakula, aku serang memakai jurus lidah dengan fokus dan penuh penghayatan dia are gunungnya, sesekali aku remas dan aku gigit pintu keluar sember air susu.


Kemudian Gladis melancarkan serangan keduanya, Gladis memegang dan mencekik dengan penuh nafsu burung peliaraanku, kemidian memasukan kerumah kerang miliknya. Dia menyerang dengan memakai jurus Syahrini maju mundur cantik keatas kebawah dengan kecepatan sedang. Terlihat busa dan air tumpah karena getaran tersebut.


Kini giliranku menyerang balik. aku jambak rambut Gladis sehingga ia terpental kebelang, aku lipat handuku dan menyandarkan kepala Gladis yang sedang terbaring di bathup. Aku masukan burung peliaraanku untuk memborbardir rumah kerang beserta mutiaranya dengan gempuran penuh, kenudian Gladis menyerang dengan melipatkan kedua kakinya di belakang pinggangku, kemudian dia menggigit salah satu tombol yang berada di dada bidangku.


Aku dan Gladis sama sama melancarkan serangan, kami saling serang di dalam bathup sehingga membuat air dan busa tumpah ruah. Terdengar suara jeritan manja dari gladis pertanda dia sudah keluar, aku berhenti sejenak untuk merubah strategi perangku. Dengan keadaan terpojok, aku meminta Gladis untuk mengeluarkan jurus terakhirnya sebelum menyerah, Gladis membelakangiku dengan jurus kuda australia. Kemudian aku lepaskan burung peliaraanku untuk masuk kerumah kerang milik Gladis dan menungganginya dari arah belakang.


Aku pegang kedua gunung erupsi Gladis dengan jari jemariku, burung peliaraanku bergerak dengan santai. Terlihat Gladis menengadah keatas diiringi suara yang manja, kali ini aku tambah kecepatan dengan penuh. Gladir mulai menjerit, efek pertemuan burung dan ratu kerang menyebabkan suara yang sangat aneh, sehingga menimbulkan tsunami di bathup. Sedikit demi sedikit rasa penasaraku terjawab, aku merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan, laku tarik kedua tangan Gladis ke belakang, aku keluarkan sisa sisa tenaga terakhirku dengan mempercepat kecepatan, bersamaan dengan itu terdengar jeritan Gladis yang kedukalinya, dan Burung peliaraaku lun muntah di dalam rumah kerang ajaib milik Gladis.


" sayang makasih yaaa"


" aku puas banget, mamang bener kata teman temanku, berondong itu servisnya sangat memuaskan"


" udah ahh jangan dibahas Dish, aku malu"


" Kita lanjut mandi yu"

__ADS_1


Aku dan Gladis berdiri, berjalan menuju shower.


Aku yang pertama membasahi tubuh Gladis, Gladis membersihka rambutnya dengan sampo, sedangkan aku mengusap ngusal tubug Gladis dengan sabun mandi. Aku mulai dari bagia lehernya, kemudian meliak liuk ke lokasi dua gunungnya, terus ke area pusarnya, turun lagi ke area rumah kerang yang tidak ada rumputnya.


Aku jongkok, dan akan meneruskan menggosok sampai area kaki. Namun Gladis tiba tiba menjambak rambut dan memaksaku berdiri. Dia mendorongku, sehingga aku menyandar di dinding dibawah kucuran shower, Gladis mengangkat kaki kanannya dan menyimpannya di pinggangku.


Kemudian dia menyuruhku untuk menahan kakinya, dia memegang leherku dengan tangn kiri. Gladis memegang burung peliaraanku dan memasukannya ke rumah kerang ajaib miliknya. Dengan posisi seperti ini membuatkan tak nyaman, aku menggendong Gladis keluar dari kamar mandi.


Aku dan Gladis berjibaku lagi di atas ranjang. Kali ini Gladis menyerang dengan membabi buta, dia membaringkan aku dengan sangat kasar. Tanpa basa basi dia duduk dan memasukan burungku kedalam rumah kerangnya, dia menjempitkan kaki di bawah sela sela pahaku, dia menyimoan kedua tangannya di lututku.


Gladis bergerak maju mundir seperti syahrini dengan kecepran penuh, dia melepaskan ikat rambut, sehingga rambutnya terurai. Kemudian dia menguarkan jurus ngebor milik Inul daratista di sertai jeritan manja milik Tantri kotak.


Aku memperhatikan Gladis yang sedang melancarkan serangan, terlihat kedua gunungnga seperti terkena gempa, aku berusaha membantu dengan memegangnya supaya tidak longsor. Gladis tersenyum manja ke arahku, dia menambah kecepatan hingga membuatku merasa linu karena gesekan kerang ajaib dan mutiarannya, Gladis pun mejerit dan ahhh ahh ahh, dia terengan engah dan tiduran di atas badanku.


Aku membaringkan Gladis, aku masukan kembali burungku kedalam rumah kerang ajaibnya. Aku taruh kedua kaki Gladis di pundaku, ku percepat gerakan burungku dengan kecepatan penuh.


Dan akhirnya burungku muntah untuk kedua kalinya pagi ini di rumah mutiara kerang ajaib milik Gladis.

__ADS_1


__ADS_2