
"Alunan melodimu menggugah setiap rasa.
Kau menjadi hasrat pelampiasan rasa.
Caramu bercerita mengaduk semua cinta.
Aku pernah bertanya pada perasaan.
Kenapa memilih jatuh cinta padamu. "
" Aku hanya punya pilihan.
Mengambil dan menyatakan
atau membiarkan waktu membuatnya hilang.
Atau mungkin diambil orang lain.
Aku ingin menjadi angin untukmu.
Yang akan memelukmu dalam kesedihan dan kegembiraan. " ucapku membacakan puisi membangunkan Gladis.
Gladis tertawa mendengarku membacakan puisi sambil terantuk kantuk. Dia menoleh ke arah jam dengan rambut panjang yang masih acak acak. Kemudian dia bangun dengan mengenakan kimono.
" yaa tuhan sehatkanlah suami hamba. Jangan biarkan dia error terus di Negeri orang Tuhan. " ucap Gladis sambil mengangkat ke dua tanganya.
" ko kamu berdoa begitu sich? Tega banget! " ucapku sambil membereskan sajadah.
" mandi besar dulu gih "
Gladis pun terdiam 1000 bahasa. Dia menertawakanku sambil berjalan ke kamar mandi.
Sambil menunggu Gladis keluar kamar mandi. Aku memakan sarapan pagi dengan menu khas Spanyol.
Aku makan Pincho de tortilla hidangan omelet khas Spanyol berupa dadar kentang yang menumpuk. Bahan utama dari sarapan ini adalah telur dan kentang. Sedangkan untuk minumannya aku meminum kopi kental.
Tak lama berselang Gladis keluar dari kamar mandi. Dia menuju sajadah yang sudah aku persiapkan.
Sambil menunggu Gladis. Aku mencicipi Toscada Con Tomate. sarapan sehat ini merupakan olahan roti khas Spanyol. Terlihat roti diolesi dengan mentega dan selai buah-buahan. Dan yang kedua roti di olesi dengan minyak zaitun dan tomat yang sudah ditumbuk kasar serta irisan daging di atasnya.
" hayoo. Itu makanan pesananku! " ucap Gladis yang melarangku mencicipi pesanan makanannya.
Dia berjalan ke arahku hanya mengenakan handuk yang menutupi ke dua gunung kembar dan kerang ajaibnya.
Terlihat air mengalir dari rambut panjangnya menyusuri belahan gunung kembar miliknya.
" coba aku icip pincho tortila punyamu! " ucap Gladis sambil mencuil roti dan memakannya.
__ADS_1
" giliran aku di larang. " ucapku sambil mengambil pincho tortila beserta piring ya.
Aku da Gladis tertawa terbahak bahak.
" ohh ia Dish hari ini kita kemana lagi? " tanyaku sambil memakan pincho tortila.
" Kita Shopping yaa " jawab Gladis sambil memasukan toscada tomate kedalam mulutnya.
***********
Gladis membawaku ke Centro Comercial La Gavia. Mall ini terletak tidak jauh dari hotel yang kita tempati dan berada berseberangan dengan Stadion Santiago Bernabeu.
Mataku tak henti henti menoleh ke sekitaran pertokoan. Di sini terpampang merk merk pakaian yang terkenal di dunia. Mulai dari sepatu sampai topi.
Terlihat Gladis berjalan menuju toko Balenciaga. Dia memilah dan memilih pakaian bersama kerumunan turis mancanegara lainnya.
Aku mencoba mengikuti dan melihat label harga pakaian yang Gladis pilih. Aku terperanjat ketika melihat harga dress yang sedang Gladis pegang.
" Kamu mau beli ini Dish? " tanyaku sambil menelan ludah.
" ia sayang. Coba kamu pilihan dress yang cocok buat aku! " ucap Gladis sambil menempelkan dress di badannya.
Aku sebenarnya ingin melarang Gladis untuk membeli pakaian yang terbuka lagi. Karena kami sudah menikah, kalu Gladis memakai pakaian yang membuka aurat otomatis dosanya yang menanggung adalah aku. Itu resiko kami sebagai orang Islam.
" Kamu kenapa sayang? Ko bengong begitu." ucap Gladis sambil menyimpan dress kembali ke tempatnya.
" sayang aku mau bicara serius dulu sama kamu! " ucapku dengan menundukkan kepala.
Aku memegang tangan Gladis dan membawanya keluar toko Balenciaga. Aku dan Gladis duduk di kursi dekat eskalator sambil melihat lihat sekitaran.
" maaf sebelumnya aku lancang mau bertanya ke kamu Dish! " ucapku dengan nada pelan.
" Kamu kenapa sayang? Tak seperti biasanya ! " ucap Gladis sambil membetulkan tali sepatu kets nya.
Aku bingung harus mulai dari mana. Tapi ini demi kebaikan rumah tanggaku dan Gladis. Aku memberanikan diri untuk bicara.
" Dish kamu benar benar mencintai dan menyayangiku kan? "
" ia terus kenapa?" ucap Gladis sambil memegang salah satu tanganku.
" maaf sebelumnya sayang. Bukanya aku mau mengatur kehidupan kamu! Tapi ini buat kebaikan kita"
" gini Dish kta itu udah nikah. Aku ingat pesen ibu dan guru ngajiku bahwa suami adalah pakaian untuk sang istri, begitupun sebaliknya" ucapku yang masih bingung cara menyampaikannya.
" to the poin aja sayang! Ingsya Allaah aku bakalan ngeri dan paham." jawab Gladis sambil tersenyum.
" oke.. Dish kalau bisa kamu jangan beli lagi pakaian yang membuka aurat ya? Kalau kamu masih mengenakannya, dosanya aku yang tanggung loh "
__ADS_1
" Tapi ini terserah kamu. Yang penting aku udah menyampaikan kewajiban yang menjadi hak ku untuk menyampaikannya keoadamu." ucapku yang sebenarnya berat menyampaikan kenyataannya.
Gladis menatapku dengan mata yang berkaca kaca. Aku yakin Gladis tak enak karena aku sudah memasuki ranahnya.
Kemudian Gladis memeluku dengan erat sambil meneteskan air mata.
" ingsya Allaah aku akan menuruti kemauan u surgaku!" ucap Gladis dengan menangis tersedu sedu.
" dari dulu baru kamu yang menyampaikan kebaikan seperti ini."
" sami'na waato'na (aku dengar, dan aku patuh ) Purba." ucap Gladis sambil mencium keningku.
Aku seketika bersujud di lantai setelah Gladis menuruti apa perkataanku yang perintahkan Allaah dan Rosulnya.
Aku yang tadinya beranggapan Gladis akan menentang dan tak menurutinya. Ternyata aku salah besar.
Ternyata firman Allaah itu benar adanya. Tak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula yang terdapat di dalam surat Ar- Rahman.
" Tapi aku pelan pelan yaa menutupi auratnya?" ucap Gladis.
" nanti setelah kita pulang dari bulan madu kita, aku akan fokus memakai syari di rumah. Kalu sudah nyaman aku akan pakai keluar rumah." tambahnya sambil mendaratkan kembali ciuman di keningku.
" ia sayang pelan pelan aja " ucapku sambil megang ke dua tangan dan menciumnya.
" semua berproses Dish "
" ingat kata kataku ini. Lakukan semua karena Allah jangan karena yang lain. "
" aku mau nanti di hari akhir bertemu dengan penciptaku dengan keadaan sudah bersih dari dosa! "
" baik sayang. Aku mengerti semua yang kamu bicarakan. " bismillaah yaa ucap Gladis.
Kemudia aku dan Gladis berjalan kembali. Gladis membawaku keliling dari lantai satu sampai lantai paling atas.
Kali ini tujuan Gladis berbelok. Dari yang tadinya mau membeli baju dan celana, sekarang menjadi membeli sepatu dan topi doang.
" Dish maksud aku begini. Kamu boleh membeli baju seksi dan membuka aurat. Tapi kamu memakainya hanya di hadapanku sayang."
" ohh begitu! Yaudah kalo gitu aku mau memperbanyak membeli lingerie dan tanktop aja yaa!" khusus buat di hadapanmu ucap gladis sambil mencoel burung peliaraanku.
Aku dan Gladis berjalan mencari food court karena perut kami sudah merasa lapar. Cacing cacing di dalam perut kami sudah berdemo dan berunjuk rasa.
Terlihat dari kejauhan samar samar aku melihat tulisan berabjad nasi padang.
" Dish apa mataku tak salah lihat?"
"maksudnya?"
__ADS_1
" itu di depan seperti ada stand nasi padang!" ucapku yang sudah kangen masakan Indonesia.
Gladis seketika tertawa terbahak bahak ketika .