Perjaka yang Ternodai

Perjaka yang Ternodai
bab 87 back to indonesia


__ADS_3

Tiga bulan kemudian..


Terdengar suara telpon berdering di hp nya Gladis. Aku seketika bangun dan melihat telepon masuk, terlihat Tukiyem yang menelpon dari paris.


" sayang.... Ini tukiyem Nelpon. Coba angkat! " ucapku sambil menepuk nepuk bahu Gladis.


" Jam berapa sih ini beb? Tanya Gladis sambil membawa dan melihat hp nya.


" ini jam 02.30.. Ada apa yah malam malam gini iyem Nelpon?".


" angkat dlu aja! Barangkali penting ".


Gladis langsung mengangkat telpon. Terdengar Iyem mengabarkan bahwa di paris ada kebakaran meluas, akibat aksi kekacauan yang di timbulkan orang orang imigran dan sentimen antar etnis.


Banyak toko yang di jarah, banyak pula pengrusakan pengrusakan kendaraan warga sipil maupun polisi. Situasi disana sangat mencekam.


" keadaan kamu dan tempat usaha milik kita gimana iye??" tanya Gladis bangun dari tidurnya.


" karyawan karyawan yang lain gimana keadaannya?" tambah Gladis yang semakin khawatir.


" alhamdulillah kita dan tempat usaha kita aman mbak. Kebetulan mobil polisi dan pemadam kebakaran berhenti tepat di depan tempat usaha".


" cuman kami semua takut suara tembakan dan ledakan bom molotov antara polisi dan kaum imigran belum berhenti.


" kami semua takut mbak" ucap tukiyem sambil menangis".


" ingsya Allaah gak bakalan apa apa.. Kamu dan yang lain berdoa aja iyem".


" kami semua d suruh polisi untuk ikut bersama mereka dengan kendaraan baracuda untuk di bawa ke tempat yang lebih aman".


" ia iyem.. Aku setuju, kalian ikut sama polisi aja. Aku takut kalian kenapa kenapa.


" Tapi mbak..." jawab tukiyem


" gak ada tapi tapian.. Nyawa kalian lebih berharga". Ucap gladis dengan nada tinggi karena khawatir.


**'*****''


Terlihat Gladis sedang menyiram tanaman di pekarangan rumah baru kami yang berada di Bandung. Dia terlihat melamun memikirkan kejadian yang menimpa tempat usaha dan karyawan kami di paris akibat kerusakan tersebut.


" sayang... Nyiram tanamannya yang bener dong! " jawabku mengagetkan Gladis dari belakang, sampai sampai Gladis menyemprot wajahku karena kaget.


" aduh maaf Purba. Aku gak sengaja " ucap Gladis seketika melempar selang air dari tangannya kemudian mengelap mukaku dengan handuk yang melingkar di kepalanya.


" kamu jangan marah yaa sayang".


" aku masih kepikiran telpon Iyem semalam. Apalagi sekarang mereka gak bisa di hubungi. Aku jd semakin khawatir.


" ia gak apa apa sayang! Lagian ini cuma air bukan bom" kataku untuk menghibur Gladis.

__ADS_1


" mungkin hp mereka abis batere. Boro boro inget casan Dish di kejadian seperti itu".


" Kita berdoa aja, semoga tidak terjadi apa apa sama merak, dan mendapat kabar baik.


" ia sayang".


" Kita masuk rumah yuu? Kita sarapan sambil melihat perkembangan berita di Tv.


**********


Aku dan isteri tercintaku Gladis siap siap untuk pergi ke salah satu tempat usaha cabang di Bandung, tepatnya di daerah Derwati


Alhamdulillah aku dan Gladis makin melebarkan sayap di bisnis usaha spa, salon dan refleksi makin matang. Kami mempunyai 5 cabang Indonesia, yaitu Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Semarang. Belum lagi di Paris Perancis punya dua cabang.


" sayang... Kita ini sudah lama menikah, tapi belum terlihat tanda tanda aku mau hamil yaa? Tanya Gladis sambil mengemudikan mobil evo yang baru selesai di modifikasi mirip mobil paul walker fast and furious yang sudah meninggal.


" belum waktunya kali dish" jawabku sambil menghisap vape beraroma mocca.


" aku takut mandul Purba" ucap Gladis dengan nada lemas.


" padahal kita ampir tiap malam bercocok tanam bermain lendir" tambah Gladis yang seketika tertawa ketika membahas hal semacam itu, sambil menjulurkan lidahnya dengan mimik muka manja.


" yaelah ngemodus ini mah" jawabku sambil menculik salah satu gunung kembar Gladis.


" ihhb purbaaaaa jangan gitu. Geli tau".


" gak boleh mancing mancing aah, aku lagi nyetir" ucap Gladis sambil mengangkat rok, Memancingku.


Setibanya di Derwati. Terlihat andri sedang mengepel lantai ruko, sedangkan terapis yang lain sedang menyapu dan membakar sampah.


Aku dan Gladis langsung masuk ke ruko. Terlihat Gladis membuka buku catatan costumer dan mengecek cctv.


" aman bu" kata Euis salah satu terapis wanita andalan kami.


" ohh ia bu.. Apa udah ada kabar dari Iyem?"


" belum is" maaf yaa is, jangan dulu bahas itu. Kita bahas yang lain aja" ucap Gladis yg masih khawatir dengan keadaan di paris.


" gimana pendapatan kita bulan ini is? Apa ada masalah?"


" alhamdulillah semakin pesat bu" jawab euis sambil menyerahkan data di iPad.


" bulan lalu pendapatan kita 400.000.000, sekarang 800.000.000" tanya aja tuan muda, sambil menunjuk ka arahku.


" emang bener sayang?"


" ya iyalah Dish "


" ini zaman udah maju kali. Tiap ada tamu yang datang dan euis yang mengisi data dan harga treetmen langsung otomatis ke hp aku"

__ADS_1


" ihhhh kamu ko gak bilang bilang sich" ucap Gladis sambil memukul bahuku.


" semua cabang kita kaya gini?"


" iya" jawabku.


Gladish terlihat sebal sekaligus senang dengan apa yang dia dengar dari Euis dan penjelasan dariku. Kemudian Gladis memanggil semua karyawan untuk berkumpul.


Aku memanggil dan menyuruh Andri untuk mengeluarkan sedikit rezeki yang sudah aku dan Gladis persiapkan untuk semua karyawan disini.


" Oh ia euis.. Kamu bagiin semua untuk karyawan yaa. Aku dan Gladis ada keperluan lain dulu"


" maaf ya gak bisa memberikan yang lebih. Semoga semua ini bermanfaat bagi kalian dan keluarga"


" ohh ia satu lagi. Nanti bulan agustus kita mau buka cabang lagi d Bali, sekalian kita Grand opening kita liburan disana ya".


" bagi yang sudah berkeluarga bawa anak istrinya boleh, yang punya pacar ajak juga. Biaya kami yang tanggung".


Serempak semua karyawan berteriak kegirangan mendengarnya.


**************


Aku dan Gladis berlalu pergi. Aku tak sabar ingin bertemu ibu dan adik adiku.


Selama di perjalanan aku dan Gladis bernyanyi bersama mengikuti suara musik yang Gladis putar. Kami berjingkrak jingkrak sesekali teriak teriak untuk menghilangkan stress keadaan tukiyem dan yang karyawan lain di paris.


Sesampainya di rumah ibu. Aku berjalan melewati gang seperti biasanya, terlihat para tetangga yang biasa berghibah menyapa kami.


Terlihat dari kejauhan ibu sedang Mengobrol dengan mandor. Alhamdulilah aku dan Gladis sudah bisa membuat ibu bahagia dengan membangun rumah ibu peninggalan almarhum ayah yang tadinya kecil, sekarang di renovasi jadi lumayan besar.


" purbaaaaaaaaaaaaa " teriak ibu sambil berlari memeluk Gladish.


" yaaa ibu... Teriak purbaaaaa, yang di peluk Gladis" dasar kaki syurgaku" ucapku sambil garuk garuk kepala.


" Apa sih kamu purbaaaaa?? Gak boleh gue meluk istrimu?" ucap ibu sambil mencium Gladis.


" yaelah loe gue... Ti iraha urang sunda jadi urang betawi?? Aya aya wae Indung urang mah.


Gladis tertawa melihat kelakuan aku dan ibu. Kemudian ibu membawa kami ke ruangan yg sudah selesai di renovasi sedikit.


"adik adik aku kemana bu? Ko pada belum kelihatan??" tanyaku.


" ya kerja lah... Emang kemana lagi" jawab ibu


" ohh ia nak.... Terima kasih yaaa berkat kalian ibu bisa membangun rumah, adik adik kamu juga usahanya pada lancar berkat modal dari kalian. Khususnya Gladis, terima kasih yaa mantu emak yang paling cantik dan paling baik"


" semoga kehidupan kalian makin barokah".


" aamiin bu." ucap Gladis.

__ADS_1


" ibu juga terus sehat yaa bu. Aku sayang ibu".


" terima kasih sudah mendidik anak ibu yang selalu bisa bahagiain aku. Meskipun nyebelin heheheh"


__ADS_2