
Waktu menunjukan puku 20.00.
Aku sedang menikmati pamandangan menjengkelkan di kolam renang Marina Bay Sands. Terlihat di kolam renang bule laki laki sedang beradu jigong dengan pasangannya yang sama laki laki. Ingin rasanya aku memasukan ikan piranha atau buaya kedalam kolam renang tersebut.
Terlihat lampu berkedip kedidip di sekitar bangunan bangunan yang tinggi, manusia seperti liliput terlihat dari atas. Terdengar suara chat masuk, aku periksa ternyata dari Gladis. Dia mengabarkan sudah berada di kamar hotelnya, dan menyuruhku untuk menghampirinya.
" sayang.... Kamu udah makan??
Terlihat Gladis baru selesai mandi, dia memakai handuk putih di tubuh dan kepalanya. Dia duduk di ranjang sedang mengoleskan hand body di betis dan pahanya, dia tersenyum dengan ekspresi menggoda agar aku menungganginya.
Aku duduk dan menyalakan TV segede gaban yang menempel di dinding hotel.
" kamu mau nonton bok....ep yaa?? Xixixi "
" apa sich Dish, baru aja ketemu udah Error "
" aku kangen banget tau"
Aku dan Gladis kejar kejaran di kamar hotel seperti anak kecil, kami saling lempar bantal dan guling! Gladis terlihat gemes ingin segera mencicipi terong panjangku.
Karena kesal tidak bisa menagkapku, Gladis mengejarku dengan melepaskan handuk di kepala dan badannya, sehingga dia terlihat seperti bayi Baru lahir.
" kamu gila yaa Dish??""
" kalo ada orang liat gimana?? Apalagi sekarang musim CCTV dimana mana Dish "
" kamu mau ada yang merekam dan vidiomu tersebar??"
" biarin "
" kamu tuh ngeselin " ucap Gladis sambil duduk di kursi
" emmm marah ya"
" cepet pake lagi " Sambil melemparkan handuk "
" gak mau, aku mau kamu yang pakein "
" kamu tuh yaa ada ada aja, kaya anak kecil tau gak "
__ADS_1
Aku menutupi Gladis dengan handuk, terlihat rambut panjang yang basah terurai di bagian dada sehingga airnya mengalir membasahi gunung kembarnya. Gladis tiba tiba menarik tanganku dan meletakan di kedua gunungnya.
Sebenarnya aku malas melakukan pengencrotan ini, karena baru kemarin malam dan tadi siang aku melakukan bercocok tanam dengan Vion. Namun karena cinta dan sayang kepada Gladis aku pun melayaninya.
Diantara Cleo, Clara, Luthfi dan Viona rumah kerang Gladis memang lebih unggul, terlebih lagi baru aku saja yang mencicipinya. Rumah kerang milik Gladis selalu susah untuk di masuki, dan kalaupun masuk dia bisa menjepit seperti kepiting.
Aku menggendong Gladis ke tempat tidur bak pengantin baru, aku membaringkan Gladis kemudian memainkan jari tengahku di mutiara kerang miliknya. Bersamaan itu aku memainkan lidahku di kedua balon miliknya, Gladis mengelus ngelus kepala belakangku sesekali meremas dan memukul mencengkeram bagian belakangku.
Aku coba untuk pertama kalinya kumasukan jari tengahku kedalam rumah kerangnya, aku gerakan perlahan lahan sehingga menimbulkan suara dari mulut Gladis.
" aku kira di giniin gak enak, ternyata enak juga yaa "
" ststsststssssst diam ah, kebiasaan kalo gini kamu ada aja bicaranya " nikmati aja tanpa suara "
" ia maaf, aku kan cuma ngasih pengumaman " xixixi
Aku coba masukan jari telunjuk untuk menemani jari tengahku, sambil memainkan kedua balon milik Gladis. Lalu Gladis terperanjat, dan melepaskan tanganku.
" jangan peka jari ahh, kuman tau "
" jari cukup buat mainin mutiara aja yaa "
" Purba ku, cintaku, kasihku, sayangku, malam ini kamu diam aja jangan melawan ya."
" biar aku yang beroperasi kesana kemari "
Sesuai dengan perintahnya, kemudian aku diam dan berbaring. Gladis pertama beroperasi dengan melucuti semua pakaianmu, kemudian dia memainkan terong panjangku beserta kedua telur seperti membuat kendi dari tanah liat.
Dia mengocok ngocok sesekali memutar mutar dan tersenyum ke arahku, kemudian dia menjepit terong ku dengan kedua gunung miliknya. Dia bergerak keatas kebawah dengan menggesek geseknya.
Kemudian Gladis menjulurkan dan memainkan lidahnya di terong panjangku, sesekali meremas dan memainkan jari jemarinya di kedua telur ku.
Gladis naik dan duduk di perutku, dia memainkan lidahnya di area dada sampai leherku. Ini membuatku merinding seluruh permukaan kulitku.
Gladis memegang terong dan memasukannya kedalam rumah kerang miliknya. Dia bergerak ke atas kebawah dengan perlahan, di sertai goyangan mautnya.
Aku yang dari tadi diam tanpa suara bagaikan mummy, hanya bisa memperhatikan kelakuan dan tingkah Gladis. Sambil menikmati pertunjukan Gladis, aku merenung dan berfikir, mau sampai kapan aku terus begini! Aku tadinya anti dan selalu menjaga keoerjakaanku, kini malah sebaliknya.
Aku sudah sering melihat berita aneh aneh di TV, mulai dari pemerkosaan, pen sodomian, yang mati gancet, serta HIV membuatku merinding.
__ADS_1
Aku memutuskan semoga ini yang terakhir kali aku melakukan perbuatan haram dan biadab ini, aku akan memaksa Gladis untuk menikahiku atau meninggalkanku.
Aku sudah capek dan muak dengan keadaan ini, aku ingin hubungan yang selayaknya manusia berumah tangga, bukan seperti binatang kaya gini.
Kehidupanku berubah drastis semenjak kenal Gladis, aku merindukan kehidupanku yang dulu sebelum mengenal Gladis, dimana aku bersosialisasi dan berbaur dengan teman dan pasien pasienku, sederhana tapi bahagia. Bukan seperti ini, aku serasa menjadi budak *** setiap teman Gladis.
" ini udah 1 jam lebih sayang "
" gantian dong, kamu yang main sekarang "
" kan ini kemauan kamu Dish"
" kamu harus tanggung jawab dengan ucapanmu"
" ayo bangun, cepet nungging "
" hahahaha, dasar kagak betul kamu mah xixixi "
Kumasukan terong panjangku dari arah belakang, Gladis seketika bersuara. Aku coba dengan kecepatan sedang untuk mengambil ritme Gladis.
Aku jambak rambutnya sehingga Gladis menengadahkan kepalanya keatas, nada nada yang keluar dari mulut Gladis membuatku ingin secepatnya mengeluarkan muntahan sari pati kasih sayangku.
Kali ini entah kenapa aku tak sesemangat seperti biasanya, namun aku berusaha untuk melayani dan memuaskan Gladis. Aku tambah kecepatan dengan maximal sehingga Gladis menjerit jerit ke enakan.
Aku rubah posisi ke posisi pavoritku, aku baringkan Gladis dan memasukan kembali terong unguku. Aku peluk Gladis dengan sangat erat dengan menggunakan kecepatan sangat tinggi sehingga menimbulkan suara lucu, Gladis memeluk sesekali mencakar punggungku, dia menaruh dagunya di bahuku.
Benar benar malam yang melelahkan, Gladis menjerit jerit keenakan, sedangkan aku tak merasakan apa apa selain keras dan berototnya terong unguku. Kami sudah 2 jam lebih bergelut dan berjibaku seperti ini.
Kemudian aku paksakan di sisa sisa tenagaku untuk untuh memuntahkan muntahan burung peliaraanku dengan kecepatan tinggi dibantu dengan bantuan tenaga Nos sehingga membuat Gladis semakin ke enakan.
Iah Purba terus seperti itu
Iyah ow ow ow ah ah ah..
Yaaah iyaaaahn iyaaaaaaaaa
Akhirnya aku dan Gladis mencapai garis finis bersamaan
Purba you are the best
__ADS_1
THANKS YOU 4 everything