
Aku dan Gladis mengabadikan momen berada di Santiago Bernabeu. Gladis berbicara bahasa Inggris meminta pendukung Real Madrid untuk memoto dan merekam kami.
Aku dan Gladis keluar Stadion. Perutku terasa lapar.
" Dish aku lapar. " ucapku sambil memegang perut.
" Aku juga sama! " jawab Gladis.
" Ayo kita cari makanan dekat sini. "
" kira kira nasi Padang ada gak yaa? " ucapku yang tak suka makanan Spanyol.
" Kamu tuh ada ada aja Purba. Mana ada di Spanyol nasi padang " jawab Gladis sambil menarik tanganku.
Setelah berjalan di sepanjang jalan. Akhirnya aku dan Gladis menemukan.pedagang kaki lima. Tak seperti di negara kita, pedagang kaki lima disini memakai mini bus yang sudah di pariasi sehingga tampilan mini bus ini terlihat unik dan cantik.
Tertera daftar makanan di menu yang menempel di mini bus ini.
" kamu mau apa sayang? " Tanya Gladis yang menunjukan gambar gambar mekanan beserta tulisan Spanyol.
" Bentar. Aku lihat gambarnya dulu. Barangkali ada nasi padang nyasar di sini " ucapku sambil menjulurkan lidah kepada Gladis.
" dasar manusia Purba kurang kerjaan " u apa Gladis sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" nah ini ada Dish " ucapku sambil menunjuk gambar Pizza dan Burger.
" minumnya Avocado Spanyol "
Aku dan Gladis memesan menu yang makanan yang sama, Kecuali minumannya. Gladis memesan minum bersoda.
Aku dan Gladis duduk di bangku trotoar di bawah tiang lampu. Aku mencoba minum Avocado Spanyol terlebih dahulu.
" anjrittt " teriaku ketika meminum Avocado Spanyol.
" Kamu kenapa? " Tanya Gladis yang sedang mengunyah pizza.
" minuman ini berapa Dish? " tanyaku.
" kalu di rupiahkan sekitar 115.000 "
" coba kamu rasakan sendiri Dish " ucapku sambil menyodorkan minumanku.
Gladis tertawa terbahak bahak setelah meminum minumanku. Ternyata chef nya salah memberikan pesanan yang aku pesan.
Seharusnya dari nama saja sudah jelas, aku pikir avocado Spanyol itu jus alpukat. Tetapi setelah ku minum ternyata jus tomat.
" Mana salah. Mana mahal " ucapku menggerutu.
" udah udah sayang " ucap Gladis sambil menukarkan minumanku dengan minumannya.
Suasana malam semakin sunyi. Terlihat koran koran koran beterbangan terbawa angin.
Aku dan Gladis berjalan kembali menyusuri trotoar yang sebentar lagi tiba di hotel yang Gladis pesan.
__ADS_1
" Apa lihat lihat " ucap bidadari ke dua duniaku.
" Kamu cantik banget malam ini sayang "
Seketika Gladis menghentikan langkahnya. Kemudian dia memeluku dengan sangat erat.
" aku senang banget mendengarnya Purba " ucap Gladis meneteskan air mata.
" Kamu kenapa?? Ko malah nangis Dish " ucapku sambil mengelus ngelus kepala belakangnya.
" ntah kenapa aku takut banget kehilanganmu Purba. Padahal sudah jelas, kamu sudah menjadi milikku. "
" aku gak bakal kemana kemana Dish. Ingsya Allaah aku akan selalu berada di sampingmu. " aku tak akan pernah meninggalkan, menduakan serta berpaling ke lain hati "
" buat apa aku?? Jelas jelas aku sudah mempunyai orang yang sangat menyayangiku. "
Aku dan Gladis berpelukan dalam waktu yang lumayan lama. Setelah itu kami bergegas ke hotel untuk istirahat.
*********
" akhirnya kita sampai juga " ucapku sambil membaringkan tubuh di tempat tidur.
Gladis kemudian menarik tanganku.
" ihh kamu jorok. Bersihin dulu badan giih " ucap Gladis sambil memberikan handuk agar aku mandi terlebih dahulu.
Akhirnya aku dan Gladis pergi ke kamar mandi berbarengan. Tak seperti kemarin di hotel Barcelona, kali ini aku dan Gladis tak melakukan adegan pengencrotan di dalam kamar mandi.
Gladis memintaku untuk melakukan pengencrotan di atas tempat tidur. Dia kapok karena kemarin punggungnya sakit setelah berjibaku di bathup.
Aku membaringkan badan di tempat tidur sambil membuka handphone untuk mengecek pesan masuk.
Ada pesan dari ibu. Ibu mengatakan dia bersyukur ilmu terapi dan bekam yang aku ajarkan kepada adik pertamaku bermanfaat.
Selama aku tidak ada. Akbar berhasil mengganti peranku sebagai terapis panggilan di desaku.
" dapat pesan dari siapa sayang? " Tanya Gladis sambil mengeringkan rambut dengan handuknya.
" ini Dish Ibu mengabarkan akbar adik pertamaku berhasil meneruskan perjuanganku sebagai terapis panggilan."
" katanya pasien pasienku juga cocok dengan gaya terapis Akbar.
" Alhamdulillah.. Syukurlah, aku senang mendengarnya" ucap Gladis sambil berbaring di sampingku.
Gladis membuka ikat kimono yang melingkar di pinggangnya. Aku pu segara mengikutinya.
Aku dan Gladis saling berhadapan. Kemudian aku dan Gladis saling beradu indera perasa. Jari jemariku mere..mas dan memainkan pan...tat Gladis.
Kemudian Gladis bangkit dan duduk di kedua pa...haku. Dia memainkan indera perasanya di dagu burung peliaraanku. Ke dua tangan Gladis memainkan ke dua putri..ng dada bidangku hingga membuatku menengadahkan kepala ke atas karena geli dan merinding.
Gladis kemudian memasukan burung peliaraanku ke dalam kerang ajaibnya. Dia bergerak maju mundur cantik seperti lagu Syahrini menggesek gesekan kacang ajaibnya.
Dia menengadahkan kepalanya ke atas sambil memejamkan mata. Terdengar suara rintihan merdu karena ke enakan dari mulut Gladis. Dia meletakan ke dua tangannya di ke dua pu...ting dadaku sebagai penahan.
__ADS_1
Kedua payu..daranya bergerak gerak seperti ayunan. Kemudian aku mere..mas re..mas kedua payu...daranya tersebut sesekali menghisapnya.
Setelah lumayan cukup lama. Kemudian Gladis berbaring dan membuka kerang ajaib dengan jari jemarinya. Seperti biasa aku mere..mas re..mas ke dua gunung kembar Gladis sambil memainkan lidahku di kacang ajaib miliknya.
Gladis terlihat menengadahkan kepala ke atas sambil memejamkan mata di iringi suara yang membelah keheningan malam kota Madrid.
" ahhhhhhhhhhh ahhhhhhhh ahhhhhhhh"
" delicious Purba " ucap Gladis yang sudah sperti orang Spanyol.
" emmmmmmmh emmmh emmmmmmmh "
" ahhhhhhhh ahhhhhhhhhhh ahhhhh " ucap Gladis sambil menekan nekan kerang ajaib ke mulutku "
" ahhhhhhhh ahhh "
" iam so happy darling "
" ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh"
Terdengar teriakan mesra dari Gladis. Dia berhasil menuju puncak kenikmatan terlebih dahulu.
Kemudia aku menyuruh Gladis untuk nungg...ing membelakangiku. Aku segera masukan burung peliaraanku dengan sengat cepat.
Aku jambak rambut Gladis sesekali meme..cut bo..kongnya seperti pak kusir mengendarai kuda.
Karena pegal pegal. Aku menyuruh Gladis u tuk berbaring kembali.
Aku masukan burung peliaraanku dengan sangat cepat. Aku dan gladis saling berbalas juluran indera perasa sambil menancap kecepatan burung peliaraan.
" aaaah iaaaa seperti itu Purba "
" ahhh ahhhh ahhhhhhhhhhhhhhh"
" ahhhhhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhhh "
" ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh "
Akhirnya burung peliaraanku memuntahkan muntahanya di dalam kerang ajaib Gladis.
Aku berhenti sejenak untuk melemaskan otot ototku dengan nafas terengah engah.
Setelah itu aku mencabut burung peliaraanku yang sudah kembali ke wujud normalnya.
Terlihat lendir dari burung peliaraanku mengalir dari lubang kerang ajaib Gladis. Kemudian Gladis mengelap lendir tersebut dengan handuk yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Kemudian Gladis bangkit jongkok dan bergerak gerak untuk mengeluarkan sisa lendir dari muntahan burung peliaraanku.
" jangan ngeliatin aku begitu Purba " ucap Gladis yang aku perhatiin ketika dia bergerak gerak.
" kamu lucu tau bergerak seperti itu. Seperti doger monyet di pinggir jalan Dish " ucapku sambil menertawakan Gladis.
" dasar siluman gagang pintu loe " teriak Gladis memerahiku.
__ADS_1
Akhirnya kami berdua tidur