
Gladis tak menjawab sepatah katapun, dia terdiam dan memalingkan dan menghela nafas panjang. "Wanita mana yang mau hidup berumah tangga dengan berbagi suami, cinta tak sebodoh itu Purba gumamku"
Kruk Kruk. Kruk kruk.... Ibu menelponku, ibu meminta agar aku cepat pulang! Ibu bicara seperti dalam tekanan, tak biasanya ibu bicara sepanik ini.
" Dish, aku mau izin pulang "
" maaf aku tak bisa membantu menemanimu menginap disini"
" ada apa Purba??"
" gak tau Dish!! Ibub bicara seperti orang yang tertekan, dia panik!!"
" perasaan kami gak punya hutang"
" ibu seperti di tagih debt collector"
" hush, kamu tuh kebiasaan yaa"
" mau senang, mau sedih, selalu aja di selipin becanda!!"
" yaudah kamu pulang aja gihh!!
" kasian ibumu!!"
*********
Sesampainya dirumah terlihat ibu sedang duduk termenung, dia menundukkan kepalanya seperti ada beban berat di pikirannya.
" ada apa bu??"
" tak seperti biasanya ibu memberi kabar seperti itu"
" ibu kena hipnotis Purba!! Ucap adik pertamaku"
" apa?? Ibu kena hipnotis!! Terus??"
Adiku menjelaskan ibu seperti biasa sedang melakukan pekerjaan rumah! Kemudian ibu mendapat telepon, dia diminta untuk mentransfer uang dengan jumlah yang sangat besar bagi kami. Kalau ibu tidak mau, penghipnotis tersebut mengancam akan menyebarkan video tak senonoh ibu.
Karena takut dan tertekan, ibu mentransfer uang tersebut dengan harapan ancaman yang diancamkan tidak terjadi. Ibu mentransfer uang hampir 400.000.000.
" ibu mendapat uang sebanyak itu dari mana bu??"
Adiku menambahkan ibu mendapat uang itu, hasil dari meminjam adik bungsunya yang memang sedang naik daun usahanya. Ada juga dari teman teman pengajian, dan teman sekolah dan tetangganya"
" terus sekarang gimana??"
" yaa kita harus mengganti uang tersebut kak!! Ucap adiku"
Terlihat ibu sangat stress, dia tidak mau makan dan minum. Adiku sudah melapor ke pihak kepolisian, dan sedang dalam penanganan.
Aku tak habis pikir ibu bisa seceroboh itu, nasi sudah menjadi bubur. Aku tak mau salah dalam menyikapi masalah.
Aku dan adiku mencari solusi bagaimana untuk menutup hutang kepada orang yang ibu pinjami uang. Karena tak biasa berhutang, dan itu jumlah uang yang tidak sedikit. Akhirnya aku dan adiku sepakat untuk menjual sebagian rumah peninggalan alm Ayah. Karena aku tidak mau ibu Sress.
" udah gini ja, kamu tawarin ke bibimu yaa"
__ADS_1
" gak apa apa seadanya dulu kalau belum ada, yang penting uang yang di pinjam ibu ke tetangga, teman, dan ibu ibu pengajian ke tutup dulu "
" baik kak"
Aku seperti terkena petir di siang bolong mendapat Ujian ini, aku pergi ke kamar dan berbaring di tempat tidur dengan memandang langit langit rumah. Aku matikan hp ku karena tidak mau ada yang mengganggu.
*************
Seminggu kemudian.
Ibu terlihat kurus karena kurang makan dan minum. Aku khawatir dengan kesehatannya, dia sesekali menangis dan tertawa, kadang dia berbicara sendiri.
Berita sudah menyebar di sekitaran teman dan tetanggaku, aku malu. Aku dan adiku memutuskan membawa ibu ke psikiater.
" kak.. Uang dari bibi dan semua tabungan kita sudah aku bayarkan "
" semua sudah beres, tinggal kita hitung hitungan sama bibi"
" aku legak mendengarnya. Aku tak masalah kehilangan harta, kesehatan ibu lebih berharga diatas segalanya"
Akhirnya aku menagktipkan hp ku, aku mau meminta bantuan Gladis atau Audi untuk membawa ibu ke psikiater. Setelah hp aktip, terlihat ratusan chat dan ratusan panggilan dari Gladis, Audi, teman dan pasienku.
Yang pertama aku ingat Gladis!! aku segera menelepon Gladis dan menceritakan semuanya. Mendengar kabar dariku Gladis syok, dia sedang berada di Jakarta!!dia sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya, namun dia berjanji secepatnya akan segera menjenguk ibu.
Kemudian aku menelepon Audi dan menceritakan semua yang sedang aku alami, sama seperti aku menceritakan semua kepada Gladis. Namun Audi dan ayahnya sedang berada di luar kota.
" gimana kak??"
" kak Gladis dan Audi gak bisa bantu ya??"
" kita sudah tidak punya apa apa lagi a"
" kakak bisa gak pinjam uang ke kak Gladis atau Audi dulu kak??"
" atau kalau kakak ijinkan, aku mau jual motor pemberian kakak "
" ia terserah kamu"
" Yang penting hari ini kita dapat uang untuk bawa ibu ke Psikeatr, dan buat kita makan"
" kakak gak mau berhutang"
" hutang itu berat "
" baik kak, aku ngerti" ucap adik pertamaku"
Aku duduk di kursi ruang tamuku memperhatikan ibu yang susah diajak bicara. Terlihat wajah ibu menghitam, kulitnya mengering dan rambut yang acak acakan.
Aku tak tega melihat ibu seperti ini, aku tak bisa marah atau pun kesal. Karena bagiku, semua yang terjadi tidak ada yang kebetulan. Mungkin ini akibat dari dosa dosaku, yang sering berbuat maksiat!! Entahlah.
**********
" kak "
" aku udah jual motornya"
__ADS_1
" ini uangna 4.000.000"
" yaudah, kamu beliin beras dan sama kebutuhan yang lainnya untuk 1 minggu kedepan "
" kakak sekarang mau bawa ibu ke psikiater "
Aku bersama adik bungsuku membawa ibu ke psikiater dengan memasang grab car. Di dalam perjalanan ibu telihat memeluk abim adik bungsuku dengan tatapan kosong, dia mengelus ngelus bagian belakang kepala abim.
Tak terlintas sedikitpun aku akan mengalami kejadian seperti ini. Sudah 1 minggu juga aku tidak mendapatkan pemasukan dari terapi panggilanku.
Kehidupanku seminggu ini terasa sangat berat, aku juga berfikir harus mencari pekerjaan lain untuk, aku tak bisa mengandalkan terus pemasukan dari terapi panggilanku di kampung.
Sebenarnya mudah bagiku kalau tak punya malu, aku bisa segera menikah dan memilih Gladis untuk kehidupanku kedepannya!! namun apa kata dunia?? Aku hidup dibawah ketiak istri, dan numpang hidup, jangan sampe aku kaya gitu tuhan!!
Aku bukan tipe orang yang seperti itu, lagian aku punya telapak kaki Surga yang belum aku bahagiakan, ditambah lagi adik bungsuku. Aku tak memikirkan adik pertama dan keduaku, karena mereka sudah bisa menghidupi diri mereka sendiri dan membantu ibu.
Grab car pun berhenti, pertanda aku sudah sampai di salah satu rumah sakit di Bandung, tepatnya di Cisarua Lembang. Rumah sakit ini khusus menangani pasien gangguan jiwa.
Dengan berat hati dan masih tak percaya dengan ini semua, Aku dan adik bungsuku memapah ibu masuk ke dalam rumah sakit.
Aku bersyukur, ternyata bukan kami saja yang mengalami kejadian seperti ini. Terlihat dan terdengar di lobby para keluarga pasien rumah sakit jiwa saling bertukar pengalaman mereka.
Aku segera menuju temlat pendaftaran dan mengisi data ibu. Aku kembali duduk dan memeluk ibu sambil menunggu panggilan. Aku dan adik bungsuku memeluk ibu, tak terasa air mataku menetes mengingat pengorbanan seorang ibu.
Aku dan ketiga adiku di kandung selama 9 bulan, ibu menyusui kami dua tahun lamanya. Dia terganggu tidur dan aktifitas lainnya. Aku dimandikan dan disuapi, aku dituntun untuk bisa berjalan dan tumbuh kuat. Semua ibu lakukan atas dasar cinta dan sayang kepada anaknya.
" kak lama banget yaa "
" giliran ibu kapan kak?? Aku lapar !!
" yaudah kamu jalan diluar ya!! Biar kakak sendiri yang antar ibu "
" ia kak"
Tak berselang lama, terdengar panggilan atas nama ibu. Aku segera membawa ibu ke dalam.
Terlihat dokter memeriksa ibu dengan menyoroti kedua matanya dengan senter, kemudian dia memeriksa tekanan darah ibu. Dokter melanjutkan memeriksa dengan sesi tanya jawab, namun Ibu tak bisa diajak bicara, di tanya ini itu ibu hanya menatap dengan tatapan kosong.
" jadi begini nak Purba, ibu kamu ini mengalami Trauma TBI, PTSD, tekanan mental, tekanan emosional dan gangguan penyesuaian. Trauma ini sangat mengganggu pemulihan medis ibu kamu, kemampuannya dalam bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari akan sangat berat. Pada kasus yang parah, seseorang akan sulit melanjutkan kehidupan sehari-harinya secara normal.
" jadi solusinya gimana dok?"
" solusinya kamu harus bersabar membantu ibumu untuk mengembalikan mental dan percaya dirinya, Tentunya dibantu resep obat yang dari pihak RS.
" apakah ibu harus di rawat dok??"
" kalo itu terseraham kesanggupan dari kamu!!"
" namun yang lebih efektif untuk penyembuhan adalah orang orang terkasihnya"
" paham kan maksud saya??"
" baik dok, aku akan bawa ibu pulang "
" aku dan ketiga akan merawat ibu.
__ADS_1
" terima kasih dok......