
" Dish aku mau bicara serius"
" hmm oke.. "
" aku mau pulang Dish! aku kangen sama ibu, adik adiku, teman serta pasienku "
" really ??
" dari sorot matamu, sepertinya kamu berbohong "
" Ada apa sayang, apa ada masalah dengan Vio??
" enggak Dish. Aku hanya kangen kehidupanku yang dulu"
" aku gak bisa dan gak mau seperti ini terus"
" owh yaa.. Aku paham sekarang"
" jadi mau kamu sekarang gimana??
" kalau kamu benar benar sayang sama aku, terutama sayang dirimu sendiri, aku ingin kejelasan hubungan kita Dish!!"
" Aku gak mau terus zinah, meski aku merasakan kenikmatannya, semua itu dosa Dish"
" sekarang keputusannya ada di kamu!! Kita nikah atau kita putus "
Bagaikan petir di siang bolong, Gladis tak menyangka aku akan bicara seperti ini. Dia duduk dan menangis tanpa sehelai benang di tubuhnya.
" aku ngerti dan paham maksudmu Purba"
" kita tak bisa menikah dalam waktu dekat "
" aku punya kontrak kerja, kalau aku melanggar aku kena penalti "
" kalau seperti itu kenyataannya gak apa apa"
" tapi untuk kedepannya, aku mau kamu melakukan kerjaan tanpa aku, begitupun sebaliknya "
" kita melakukan hal yang seharusnya kita lakukan, bukan seperti ini Dish "
" hubungan kaya gini tuh gak baik, gak sehat"
" aku dan kamu tuh saling sayang, saling cinta.. Kamu sadar gak? Kita juga saling rusak Dish.
Gladis terus menangis mendengar penjelasanku, terlihat matanya sembab dan Gunung kembarnya bergerak gerak seperti mau longsor. Kali ini aku tak menghiraukannya, meski burung peliaraanku hidup.
" jadi kamu mau aku dan kamu sibuk dengan tugas dan cita cita masing masing gitu??"
" tapi kita gak putus kan??"
" kita masih bisa gituan kan??"
Mendengar Gladis begitu, tak kuat aku menahan tawa. Aku memalingkan wajahku dan masuk kedalam selimut untuk menutupi rasa ingin ketawaku.
" kita masih tetap pacaran Dish"
__ADS_1
" jadi kita LDRan, masa kamu gak ngerti"
" klo masalah begituan, aku nyerah Dish, aku gak bisa "
" kcuali klo kita nikah "
" kamu gak takut aku ngelakuin gituan dengan orang lain??"
" kalo kamu benar benar cinta sama aku, kamu gak pernah ngelakuin itu semua"
" jadi sekarang aku harus gimana Purbaa??"
" aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, aku gak mau jauh darimu Purbaaa "
" aku gak mau tersiksa karena rindu Purba "
Gladis menangis histeris dan memukul mukul kasur, dia berat melepasku.
" jalannya cuma tiga Dish, kita menikah dan bahagia bersama atau kita pacaran tapi ketemu jarang, atau kita mengakhiri semuanya "
" aku gak mau purbaa "
" aku bingung aku harus bagaimana"
" aku gak mau Stress " teriak Gladis sambil menangis "
Aku bingung ngadepin Gladis harus bagaimana, tapi disisi lain aku juga gak mau diatur atur jadi budak *** nya. Apalagi kalau ingat setiap berkenalan dengan temannya aku pasti di perkosa, sungguh aneh..
" kamu coba dulu jauh dariku Dish"
" kamu rasain dulu gimana, bukannya belum apa apa udah histeris "
" kata orang, aku bahagia kalau melihat orang yang disayanginya bahagia, nah sekarang aku akan bahagia kalo kita gak gituan mulu Dish "
" aku ingin hubungan yang sehat Dish, gak lebih "
" jadi mau kamu sekarang gimana sayang?"
" maksud aku baiknya kita sekarang gimana "
" aku mau kita break dulu"
" kita rasain dulu, aku tanpa kamu gimana, begitupun sebaliknya"
" karna kalau pacaran, kemungkinan kita untuk gituan pasti ada!! Kamu ngerti kan maksudku?? "
" ia Purba aku ngertiiiiiii " jadi kita putusssssss
Gladis teriak dan menangis histeris karena hubungan kita putus. Aku mencoba menenangkannya sebisa yang aku bisa. Aku tak tega melihat Gladis seperti ini, tapi harus bagaimana lagi ini untuk kebaikan semua.
" besok aku pergi yaa Dish "
" aku harap kamu bisa lebih sukses lagi "
" kamu harus makin dewasa dan bijak lagi menghadapi masalah kedepannya"
__ADS_1
" ohh ia satu lagi Dish "
" KITA GITUAN LAGI SEBELUM AKU PERGI "
Gladis menarik selimut yang aku pakai, kemudian dia naik memegang dan memasukan burung peliaraanku. Gladis langsung tancap gas sedari awal, dia bergoyang sesekali bergerak ke atas kebawah dengan mengasah ngasah mutiara kerang ajaibnya. Nada yang ditimbulkan kali ini tak seperti nada biasanya, mungkin ini nada terakhir dari Gladis yang aku dengar.
Gladis terus bergerak ke atas dan kebawah sambil memegang kedua gunung kembarnya, kali ini dia fokus menikmati, tidak ada jeda iklan seperti biasanya.
Gladis kemudian berbaring, dan memberi kode agar aku yang bermain. Kemudian aku mainkan jari jemariku di ke dua gunung kembarnya, sambil bersilat lidah di mutiara kerang ajaibnya. Ini posisi faporit Gladis sehingga ia begitu menikmatinya, aku mainkan mutiaranya secara perlahan, di iringi gerakan memutar badai tornado di kedua tutup gunung kembar miliknya.
" Aw aaaww iah terus Purba, tetap seperti itu disitu "
" emhh, ahhhh,ahhhh, emhhh,ahhh ahhh"
" iaah iaha lebih cepet lagi Purba ia ia ia ai "
" ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhh ahhhh"
" Ko bentar banget Dish "
" biasanya kamu lama"
" gak tau Purba, mungkin karna ini yang terakhir!!"
" jadi aku menikmatinya dengan khusyu"
" enak banget pula "
Aku berbaring, kemudian Gladis mengelap burung peliaraanku dengan Cdnya. Dia mengocok ngocok dan memberi sedikit air liur di bagian kepala burungku. Di emmut emmutnya burung peliaraanku, di remas remasnya kedua telur burungku dengan waktu yang lumayan lama.
Kemudian Gladis membelakangiku, ku masukan kembali burung peliaraanku sambil menarik kedua tangannya kebelakang. Dia menengadahkan kepala ke atas dengan suara begitu merdu, suara benturan burung dan rumah kerang juga tak mau kalah dengan suara dari mulut Gladis.
" plok .. Plok ..plok... Wak Wek wok begitu lah bunyinya "
Suara ini takan pernah terlupa, bahkan sulit untuk dilupakan. Aku terus bergerak maju mundur sesekali aku meniru gaya Gladis dengan bergoyang manja.
Aku rubah posisi dengan mencabut burung peliaraanku dari rumah kerang Gladis, kemudian timbul suara seperti kentut dari rumah kerang Gladis, aku dan Gladis tertawa, suara itupun mengikuti suara Gladis Tertawa.
Akhirnya kami berhenti sejenak dan tertawa bersama sama, setelah kami khusyu dan bisa menahan tawa, aku dan Gladis meneruskannya kembali.
Kubaringkan Gladis, lalu ku masuk burungku seperti biasanya. Aku peluk, aku cumbu, aku gigit gigit bagian lehernya disertai gerakan ke atas dan kebawah. Ini posisi favoritku, aku peluk Gladis dengan sangat erat, Gladis menaruh dagunya di bahuku. Ku gerakan dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga menghasilkan suara merdu dari mulut Gladis.
" Ahh ahhh ahhh" terdengar Gladis sudah finis duluan, tak mau kalah, maupun segera tancap gas dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga membuat suara Gladis seperti tersetrum. Aku tancap lagi di sisa sisa tenagaku. Emh Emh Emh dan akhirnya burung peliaraanku pun muntah kembali di dalam rumah kerang milik Gladis.
Kemudian aku berbaring di sebelah Gladis, namun Gladis bangun dan mengambil Cdnya. Dia duduk dan mengeluarkan sisa muntahan burung peliaraanku, sesekali dia menunggu dan mengelapnya.
" Dish.. Makasih untuk semuanya yaa "
" setiap awal pasti ada ahir, begitu pula pertemuan dan perpisahan "
" sudah Purba, jangan bahas lagi "
" sekarang kita tidur untuk yang terakhir kalinya "
" besok"
__ADS_1
" pergilah "
" I will always love you Purba