
Dua bulan sudah berlalu, tapi tak ada lagi perkembangan apapun tentang keberadaan Edelyn
Pagi siang malam Aiden habiskan dengan mencari mencari dan mencari
Menghilangnya Edelyn membuat Aiden yang sedari dulu memang dingin menjadi lebih dingin dan kejam
Setiap orang yang berpapasan dengannya akan bergidik ketakutan, Aiden bagaikan mahluk tak kasat mata yang dihindari semua orang
Bahkan jajaran asisten nya pun memilih melaporkan urusan perusahaan kepada Tuan besar Al-Kadahfi ketimbang berhadapan langsung dengan tuannya yang sedang dalam mode singa
Kini Aiden berada di apartemennya,
Tempat tinggalnya sekarang sangat jauh berbeda keadaannya saat ada Edelyn
Putung rokok dan botol minuman bergeletakan dimana-mana
Aiden yakin jika wanitanya melihat, dia akan terus mengomelinya sepanjang hari
Dan sekarang Aiden sangat merindukan Omelan dari gadis kecilnya itu
Malam harinya di ruang kerja Aiden, beberapa orang bawahannya tengah serius menatap layar laptopnya
Hal itu mereka lakukan dari pagi petang hingga malam hari di depan bos besar mereka langsung
Mereka semua ingin berteriak meminta istirahat barang sejenak, mata mereka rasanya nyaris buta karena terus dipaksa menatap layar laptopnya
Tapi Aiden sendiri tak perduli dengan semua itu, mata elangnya terus fokus mengamati layar besar monitor di depannya, ikut meretas satu persatu cctv yang memungkinkan jejak Eros dan Dion
Aiden yakin Dion membawa Edelyn ke luar negeri, karena semua akses di negara ini sudah ia kuasai
Aiden mengalihkan pandangannya saat melihat Felix membawa Amanda ke hadapannya,
Aiden bertanya tanya mengapa Felix membawa orang asing ke apartemennya
Apa dia sudah bosan hidup ?
Aiden menatap Felix tajam " kenapa kau membawanya kemari ?"
Felix meneguk ludahnya, dia gugup setengah mati, tapi disisi lain dia yakin informasi dari Amanda akan memberikan sedikit titik terang keberadaan nona mudanya
" Maaf tuan, nona Amanda mengetahui sedikit informasi tentang Dion, jadi saya pikir akan sedikit berguna untuk kita " jelas Aiden
Aiden menatap wajah Amanda datar, dia sedikit ragu, pasalnya hilangnya Edelyn di tutup rapat-rapat dari publik, jadi tak mungkin wanita itu mengetahuinya
" Darimana kamu tahu tentang hilangnya Edelyn ?"
" Aku tahu tuan tak akan percaya padaku, tapi beberapa hari sebelum Edelyn menghilang, kami berdua berbaikan dan bahkan Edelyn memberikan butiknya untuk saya kelola.l
Dan mengenai hilangnya Edelyn, kemarin saya bertemu nyonya Ellen dan sedikit berbincang bincang dengannya" ucap Amanda, berusaha menceritakan kejadiannya dengan jelas, dia takut salah menjawab dan berakhir kepalanya menggelinding di lantai
" Katakan, apa yang kau tau tentang Dion, jangan bertele-tele "
Amanda mengangguk dan mulai menceritakan apa yang dia tahu
" Aku sering tidur dengan Dion, seringkali tengah malam Dion mendapat telepon dari orang misterius "
Aiden mendengarkan cerita Amanda dengan seksama tanpa berkomentar apa-apa
__ADS_1
" Aiden dan orang itu selalu berbicara menggunakan bahasa latin, dan tentu saja aku tak mengetahui artinya" jelas Amanda
Aiden menatap Amanda tak puas " hanya itu..?"
" Ada lagi, aku pernah melihat layar id orang misterius itu, aku melihat sebuah rumah mungil di tengah Padang bunga lavender
Dan itu, anu......" ucapan Amanda terhenti, karena dia ragu untuk mengatakannya
" Katakan dengan jelas " sentak Aiden
Amanda tergagap dan reflek menjawab pertanyaan Aiden dengan cepat " aku melihat dua orang pria muda dan 1 gadis yang cantik, dan salah satunya adalah tuan besar kadahfi saat masih muda "
Aiden terdiam mendengar cerita Amanda, berarti besar kemungkinan itu tempat persembunyian Eros selama ini
Aiden kemudian membuka galeri ponselnya mencari foto kakek dan neneknya saat masih muda
" apakah ini wanita yang di foto itu ?" ucap Aiden menunjukkan foto di ponselnya
Dan dijawab anggukan kepala Amanda
Aiden yang melihatnya tersenyum lebar dan berlari keluar dari apartemennya, beban di hatinya sedikit terangkat
Semoga saja Edelyn memang berada di sana
Disisi lain Amanda melongo melihat reaksi Aiden yang baru pertama kali dilihatnya
Dia menatap Felix yang tersenyum geli menatapnya
" Jangan heran, Tuan Aiden memang bucin sejatinya nona muda Skylar
Semoga saja informasi mu membuahkan hasil " ucap Felix
*****
Dion membuka gagang pintu kamar dengan senyum mengembang, dia membawa sebuket bunga Daisy kesukaan Edelyn
Kamar yang Dion masuki berbeda dengan kamar pertama Edelyn di bawa ke rumah ini,
Di kamar ini minim sekali pencahayaannya
Dion menutup pintu dan berjalan mendekati Edelyn yang tangan dan kakinya di rantai
Tatapannya tampak kosong, menatap lurus ke luar jendela yang sama sekali tak terlihat apapun karena tak ada pencahayaan
Ekspektasi Edelyn untuk hidup nyaman semasa penculikannya hancur total
Beberapa hari yang lalu ia tak sengaja mendengar percakapan Dion dan Eros tentang pernikahan
Edelyn tak menyangka, Dion akan jatuh dalam permainannya sendiri, pria yang dulunya membencinya, kini jatuh cinta setengah mati bahkan nyaris obsesi kepadanya
Dion sendiri juga tak menyangka akan jatuh dalam pesona gadis sombong ini, rencana awalnya untuk membunuh Edelyn agar Aiden terluka kini berubah
Dion memohon mohon pada Eros yang notabennya ayah angkatnya untuk tidak membunuh Edelyn
Eros yang mendengar permintaan Dion pun dengan tegas menolaknya
Tapi Dion tak patah semangat, dia terus membujuk ayah angkatnya itu
__ADS_1
Sampai akhirnya Eros setuju, tapi dengan syarat Dion harus menikahi Edelyn
Dion tentu saja setuju, dia memang ingin memiliki Edelyn untuk dirinya seorang
Dion mendekati Edelyn dan mengecup keningnya hangat, seulas senyum tulus terpatri di wajahnya, senyum yang tak pernah Edelyn lihat di kehidupannya dulu maupun yang sekarang
Dion menyimpan buket bunganya di nakas samping tempat tidur Edelyn
" Bagaimana kabarmu hari ini ?" tanya Dion
Edelyn hanya diam termenung tak menanggapi pertanyaan Dion
Dion geram diacuhkan " Besok kita akan menikah, dan jika kau mengacau aku tak akan segan memberikanmu pada anak buahku "
Edelyn seketika menangis dan tubuhnya bergetar ketakutan, dia takut dan juga lelah
Sejak dia mendengar rencana pernikahan, dia terus memberontak dan berakhir di rantai seperti ini
" Hey jangan menangis, nanti matamu sembab Kan tidak lucu kalau pengantinku wajahnya berantakan " ucap Dion sambil tertawa merdu, tapi bagi Edelyn
tawa itu bagaikan lonceng dari neraka
Dion mengangkat tubuh Edelyn dan merebahkannya di ranjang, dia mengelus pelan punggung gadis itu agar cepat tertidur
Rasanya mata Edelyn sungguh lelah, dia mencoba untuk tidur.
Tapi bayang bayang Aiden dan Daddy-nya selalu menghantui
Edelyn yakin pasti terjadi sesuatu dengan Daddy-nya,
*****
Tak terasa kini sudah pagi, orang orang di rumah itu sedang disibukkan dengan persiapan acara pernikahan anak bosnya
Suara gaduh dari orang orang itu berhasil membangunkan Edelyn dari tidurnya, dia duduk menyandar di ranjangnya dan mengamati tiga orang wanita yang entah sejak kapan sudah berada di kamarnya
Edelyn turun untuk membuka jendela yang ada di kamarnya, suara gemerincing dari rantai mengalihkan atensi tiga wanita itu
" Nona sudah bangun...?" tanya salah satu wanita itu
Edelyn tak menjawab, dia hanya memperhatikan wanita itu dalam diam.l
Ia melihat mereka sedang mengurusi gaun dan segala aksesoris untuk pernikahan
Edelyn tersenyum kecut, dia mengingat kalau hari ini adalah pernikahannya
Dulu ia fikir takdir sudah berubah, dia bisa mendapatkan kebahagiaan di kehidupan keduanya ini
Tapi ternyata perkiraannya salah, walaupun sudah mengambil langkah yang berbeda, tapi takdir kembali membuatnya menikah dengan Dion
Edelyn sungguh takut, rasanya lebih baik dia mengakhiri hidupnya saja daripada harus terjerat dalam belenggu rumah tangga Dion
*****
Terimakasih sudah berkunjung di ceritaku
Jangan lupa like vote dan comentnya guys
__ADS_1
see you next chapter 🥰🥰🥰