
Edelyn diam termenung di balkon kamarnya, semenjak perdebatan di rumah sakit waktu itu dia menjadi lebih pendiam
Keluarganya benar benar memperlakukannya seperti tahanan rumah, bahkan dia sudah berhenti kuliah
Hanya sesekali Sera dan Melisa akan datang menemaninya
Hari hari Edelyn hanya dilalui di dalam kamarnya, dia terlalu malas keluar kamar, apalagi harus diikuti lusinan pengawal yang terus membuntutinya
Edelyn kecewa dengan mereka, ia hanyalah seorang gadis biasa
Dia ingin bermain dan bersosialisasi seperti teman teman seumurannya
Tapi sepertinya semua keluarganya dan Aiden menutup mata hanya karena alasan ingin melindungi dirinya
*****
Aiden datang untuk menemui Edelyn, akhir akhir ini wanitanya itu lebih pendiam dan kelihatan murung
Saat memasuki kamar, Edelyn tak ada di tempat tidurnya, Aiden mulai panik tapi dia mencoba tetap tenang
Setelah mencari lebih teliti, Aiden melihat siluet wanitanya yang duduk di teras balkon kamarnya
Lagi lagi dia melihat Edelyn melamun, rasanya sudah lama dia tak melihat senyum manis wanitanya itu
Aiden tau, Edelyn pasti sangat tertekan dengan keposesifan dia dan keluarganya
Tapi semua ini ia lakukan demi kebaikannya sendiri
Aiden menghela nafas sebelum mendekati Edelyn, ia mengecup dahi dan puncak kepalanya dengan lembut
" Apa yang kau lakukan hari ini baby girl...?"
Edelyn mengedikkan bahunya dan tersenyum tipis " Menurutmu apa lagi yang bisa aku lakukan ?"
Aiden tersenyum kecut mendengar jawaban retoris Edelyn
" Bagaimana kalau kita menonton ?" tanya Aiden mengalihkan pembicaraan
Edelyn menggelengkan kepalanya tanda tak mau
" Mau makan sesuatu ?"
Dan dijawab gelengan kepala lagi olehnya, saat ini dia tak berminat melakukan apapun
" Ada yang mengganggu pikiranmu baby girl ?"
Edelyn menatap Aiden dengan intens " Aku tahu kamu pasti mengerti apa yang sedang aku pikirkan "
" Itu semua demi kebaikan mu " ucap Aiden dengan nada datarnya
" Aku manusia, bukan hewan peliharaan, aku butuh kebebasan Ai
Kalian sama saja membunuhku secara perlahan
Lama-lama aku akan mati karena ulah kalian sendiri"
" EDELYNE..... "
Aiden menggertakkan giginya tanda bahwa dia benar benar menahan amarahnya
Kata kata mati bagaikan akhir hidup untuk Aiden, dia sendiri sudah sangat lelah harus menjelaskannya berulang ulang
Sungguh, Aiden dan keluarganya amat sangat sangat ketakutan kehilangan Edelyn lagi
Sudah pernah Aiden bilang kan ?
__ADS_1
Lebih baik dia dibenci wanitanya daripada harus kehilangan lagi lagi dan lagi
Tatapan tajam Aiden melembut, melihat Edelyn yang bergetar ketakutan
Lagi lagi aku membuatnya menangis
Aiden mendekati tubuh Edelyn dan mendekapnya erat, dia mengelus rambut panjang wanitanya dengan lembut
" Maaf, maafkan aku baby. Kami semua begitu ketakutan kehilangan dirimu lagi baby, jadi aku mohon sedikit mengertilah "
Aiden menatap wajah cantik Edelyn yang penuh dengan air mata, di mengusap lembut wajah itu dan mengecup kedua kelopak matanya
" Bersabarlah sebentar lagi, aku dan kakakmu masih mencari beberapa anak buah Eros dan Dion yang masih tersisa, setelah semuanya terkendali kamu bisa beraktifitas seperti dulu lagi "
Edelyn menatap Aiden dengan binar mata penuh harapan " Really really....?"
Aiden menggigit bibirnya gemas melihat tingkah imut wanitanya, pipi dan hidungnya memerah dan bibir mungilnya sedikit membengkak
Kebiasaan Edelyn jika akan menangis selalu menggigit bibirnya
Sungguh menggoda iman
Dengan gemas, Aiden mengecupi bibir Edelyn bertubi-tubi sampai Edelyn tertawa karena geli
" Hentikan Ai....?" Edelyn berteriak dan mencoba memberontak tapi Aiden tak menghiraukannya, dia semakin gencar menggoda wanitanya
Edelyn yang jengah mendorong Aiden sampai terjengkang kebelakang
Kemudian ia berlalu masuk ke dalam kamarnya
Sebenarnya, dia sengaja menghindari Aiden dan keluarganya, dia bisa cepat luluh jika melihat wajah mengenaskan mereka
Tapi dia bisa mati kebosanan jika seperti ini terus
Edelyn duduk di sofa dan memperhatikan Aiden yang berdiri di pintu balkonnya
Aiden tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia mendekati Edelyn dan menidurkan tubuhnya di sofa berbantalkan paha wanitanya
Aiden sungguh sangat merindukannya, beberapa hari ini Edelyn selalu mengacuhkan dirinya membuat hari harinya memburuk
" Jangan acuhkan aku lagi baby, aku sangat sangat sangat merindukanmu " lirih Aiden
Edelyn mengelus kepala Aiden yang ada di pahanya dengan lembut, senyum kecil terukir di bibirnya
Lama kelamaan dia akhirnya tersentuh juga melihat wajah Aiden yang nampak frustasi
Sepertinya ia sudah tertular virus bucinnya Aiden
Edelyn merapikan rambut Aiden yang menutupi wajahnya " Kenapa tak potong rambut, lihat ini, sudah panjang sekali Ai ?"
Edelyn menyugar rambut Aiden kebelakang, rambut panjangnya hampir mengenai bahu sangat jauh dari image Aiden selama ini
Aiden yang cool
Aiden yang rapi
Aiden yang perfeksionis
Semuanya hilang, kini berganti dengan Aiden yang berantakan dan tak terurus
Aiden memegang tangan Edelyn yang ada di rambutnya, dia membawa tangan itu ke depan wajahnya dan menciumnya dengan lembut
Harum strawberry tercium jelas di hidung Aiden, Aiden terkekeh kecil
Dari Edelyn kecil hingga sekarang, wangi kesukaannya tak pernah berubah
__ADS_1
Terkadang Aiden heran, Edelyn tak terlalu suka buah asam manis itu, tapi entah kenapa dia selalu menggunakan produk apapun yang berbau strawberry
" Mana sempat aku mencukur rambutku saat gadis kesayangan ku ini sedang merajuk "
" By the way aku bukan gadis lagi, dan tentu saja kamu tau siapa pelakunya " ketus Edelyn
Aiden meringis mendengar nada ketus wanitanya itu, otak Aiden ngelag sesaat
Setelah beberapa saat dia berhasil mencerna ucapan wanitanya
Otaknya langsung traveling ke masa lalu, Aiden jadi berfikir yang iya iya dengan wanita cantik kesayangannya ini
Aiden menatap Edelyn dengan puppy eyesnya tapi yang didapat malah pelototan tajam dari Edelyn
" Wajahnya tolong dikondisikan ya pak "
Aiden cemberut " Baby, kau tak kasian padaku ?
aku sudah lama berpuasa "
" Lalu .....?"
" Berikan aku menu buka puasa..... please "
Edelyn memalingkan wajahnya, dia tak sanggup melihat wajah konyol Aiden yang sayangnya sangat menggemaskan itu
" Kita belum menikah Ai....."
" Kalau begitu, ayo kita nikah !"
" Aku belum siap "
" Apa lagi yang perlu dipersiapkan baby ?"
" Aku tak bisa masak ?"
" Tak masalah "
" Aku tak bisa melayanimu "
" Tak masalah, ada banyak maid yang bisa melayaniku"
" termasuk di tempat tidur ?"
" Tentu....ya ? apa ? kenapa menanyakan hal-hal yang aneh baby ?"
" Cuman tanya saja, aku masih terlalu kecil untuk menikah Ai...."
Aiden cemberut, dia menatap Edelyn penuh permohonan " Tapi aku sudah tua baby....aku takut kau berpaling dengan pria yang lebih muda dan tampan "
" Yah....kau benar, kau sudah tua, dan di luar sana banyak pria yang lebih muda dan ....."
" Edelyne......" Aiden merengek
Edelyn sudah tak sanggup menahan tawa melihat wajah menggemaskan Aiden
Melihat wajah Aiden yang bertambah masam, ia mencoba meredakan tawanya
" Bagiku kamu yang paling tampan dan mempesona, dan aku sudah terlanjur sangat sangat mencintaimu "
ucap Edelyn dan mencium bibir Aiden dengan lembut
*****
Terimakasih sudah membaca ceritaku
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan comentnya guys
see you next chapter 🥰🥰 🥰