
Alody memasuki ruangan tempat dimana Daddy-nya bersembunyi, ia meneliti seluruh ruangan yang tampak kosong
Tapi tentu saja Alody tau Daddy-nya berada di ruangan ini, terbukti dengan kamarnya sedikit Emmmm ...... berantakan dan aroma parfum Daddy-nya yang khas menguar keseluruh ruangan
Bahkan orang asing pun akan dengan mudah menebak keberadaan Daddy-nya disini.
Alody memasuki ruangan lebih dalam lagi, Alody rasanya ingin tertawa ngakak dan berguling-guling saking konyolnya
Bagaimana tak konyol ?
Daddy-nya bersembunyi di balik gorden jendela yang jelas jelas tak dapat menutupi kakinya
Daddy-nya sungguh ajaib
Setelah meredakan tawanya, Alody duduk di sofa dan bertanya " Sampai kapan daddy akan tetap bersembunyi ?"
Dominic yang di panggil putrinya pun pasrah dan keluar dari tempat persembunyiannya
Dia sendiri pun meringis malu melihat kebodohannya
Entah otaknya tertinggal dimana saat berhadapan dengan istri dan putri cantiknya ini
Dominic selalu kehilangan akal dan logikanya saat menatap kedua wanita yang paling di sayanginya itu
Dominic mendudukkan dirinya di samping putrinya
" Maafkan daddy sayang !" ucap Dominic memelas dan menatap sendu putrinya
Alody terkekeh kecil melihat wajah melas Daddy-nya, sungguh berdosa sekali dirinya mengabaikan orang tua yang begitu peduli dan menyayanginya sepenuh hati
Alody naik ke pangkuan Daddy-nya dan menumpahkan tangisnya
Dominic di buat kelabakan mendengar tangisan putrinya
"apa dia melakukan kesalahan lagi sampai putrinya menangis seperti ini ?
Kalau iya, matilah aku
Bisa mati membeku aku tidur diluar karena amukan dari istri tercintanya " pikir Dominic
Dominic mencoba menenangkan putrinya" Jangan menangis princess, mommy-mu bisa membunuhku jika melihatmu menangis lagi karena daddy"
Bukannya tenang, Alody tambah mengencangkan tangisnya
Dominic semakin panik, takut takut istrinya mendengar suara tangisan putrinya
Dan kepanikannya pun terjadi saat ia melihat pintu terbuka dan terpampang lah wajah marah istrinya
Dominic gelagapan melihat tatapan tajam istrinya, dia menggeleng kan kepalanya berulang ulang
__ADS_1
Ellen sendiri sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk suami dan anak anaknya
Selesai memasak, Ellen naik ke lantai atas tempat kamar putrinya berada, tapi sampai disana dia tak melihat keberadaan putrinya
Ellen sedikit panik, tapi dia mencoba untuk tetap tenang, mungkin saja putrinya masih di taman belakang bersama Aiden
Belum sempat Ellen turun ke bawah, dia mendengar suara tangisan dari putrinya dari ruangan paling pojok di lantai dua
Kepanikan Ellen muncul kembali, dia takut putrinya kenapa Napa, dengan cepat dia berlari menuju ruangan itu
Sebelum membuka pintu, Ellen mendengar suara suaminya dari dalam, dia menjadi sedikit lega, berarti putrinya tidak sedang dalam bahaya
Ellen memasuki ruangan dengan berkacak pinggang dan melototi suaminya, dia bisa melihat suaminya gelagapan dan menggelengkan kepalanya
Ellen jadi gemas sendiri dengan lelaki itu, tapi sekarang bukan saatnya untuk membucin Oke
Ellen harus kembali ke pikiran warasnya, dia harus memberikan perhitungan pada pria tua itu yang sayangnya adalah suaminya sendiri karena telah membuat putri cantiknya menangis histeris
Tapi sebelum itu Ellen harus menenangkan putrinya terlebih dahulu, dia duduk di samping putrinya dan mengelus rambutnya dengan lembut
" Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?" tanya mommy Ellen
Mendengar suara mommy-nya, Alody mengangkat wajahnya dari dekapan Daddy-nya, Alody kemudian turun dan berpindah duduk di samping mommy Ellen.
Ia memeluk mommy-nya dengan erat dan menangis di pundaknya
" Maafkan Ody mommy, maaf daddy maaf"
Ellen menatap suaminya dengan tatapan bertanya tanya
dan dijawab gelengan kepala oleh Dominic, karena dia sendiri tak tau kenapa putrinya tiba tiba menangis seperti ini
Mereka berdua akhirnya membiarkan putrinya menumpahkan tangisnya
Setelah beberapa saat, tangis Alody pun berhenti
Ellen mengusap wajah putrinya yang memerah dan penuh air mata
" Jangan menangis lagi sayang, apa yang dilakukan daddy-mu itu sampai kau menangis seperti ini ?" tanya Ellen dengan penuh kasih sayang
Dominic melototkan matanya dan menggeleng gelengkan kepalanya dengan cepat
" Tidak sayang, aku tid...."
" Diam, aku tak berbicara padamu pria tua " Sentak Ellen memotong ucapan Dominic
Dominic cemberut, matanya berkaca-kaca mendengar bentakan dari istrinya
Dari dulu dia selalu lemah jika berhadapan dengan istri dan putrinya
__ADS_1
Dia akan menjadi pria lembek jika berhadapan dengan kemarahan istrinya itu
Alody terkekeh geli melihat ekspresi Daddy-nya, dia lalu memeluk erat lengan kedua orang tuanya itu.
" Aku tak apa mom dad sungguh, aku hanya merasa bersalah karena telah mengabaikan kalian berdua "
Dominic meneliti wajah putrinya dengan intens " Apa hanya karena itu princess ?"
Alody menatap daddy-nya bingung " Tentu saja, emang daddy pikir karena apa lagi ?"
" Siapa tahu kamu menangis karena tidak mau menikah dengan bocah tengik itu, kamu tenang saja, daddy dengan senang hati akan membatalkannya untukmu " ucap Dominic dengan penuh semangat
Ellen melototkan matanya " Eh eh eh, apa apaan sih? kan kemarin kamu udah setuju dengan rencana pernikahan mereka berdua ?"
" Siapa bilang aku setuju, aku kan hanya diam saja. Kamu dan mereka saja yang setuju, tapi aku big no" jawab Dominic
Ellen menghela nafas pasrah, Dominic dengan keposesifan dan semaunya sendiri memang tak bisa di pisahkan
" Kamu memangnya tak mau menikah dengan Aiden sayang ?" tanya Ellen pada Alody
" Aku tadi sudah membicarakannya dengan Aiden mom, dan aku setuju saja asal masih bisa kuliah dan beraktifitas seperti biasanya "
Dominic yang mendengar Jawa Alody tak terima, dia tak setuju kalau putrinya harus kuliah lagi dan beraktifitas di luar
" Tidak sayang, kamu tidak boleh kuliah dan beraktifitas di luar lagi mulai sekarang "
Alody menatap Daddy-nya putus asa, Daddy-nya sangat susah di bujuk jika berkaitan dengan keselamatan keluarganya
" Harus berapa kali Ody bilang, Ody tidak bisa hidup seperti itu dad"
" Daddy bilang tidak, ya tidak "
" Aku akan menikah dan semua itu terserah dengan suami Ody, jadi daddy tidak bisa ikut campur " jawab Alody tak mau kalah
Dominic memalingkan wajahnya, hatinya berdenyut nyeri mendengar ucapan putrinya
Karena sampai kapanpun Alody akan tetap menjadi putrinya walaupun dia sudah menikah
" Daddy tak bisa membiarkan mu lepas dari pengawasan daddy lagi, kalau kamu ingin bebas, kamu bisa membunuh Dady terlebih dahulu " ucap Dominic dan berlalu meninggalkan dua wanita tersayangnya
Dia ingin marah dan melampiaskan kemarahannya, tapi Dominic tak mau kalau sampai istri dan putrinya ketakutan
Dominic harap putrinya sedikit lebih mengerti dengan ketakutan dirinya
*****
Terimakasih sudah membaca ceritaku
Jangan lupa like vote dan comentnya guys
__ADS_1
eits..... hadiahnya juga yah
see you next chapter 🥰🥰🥰***