
Semua ikut bermain game, kepala sekolah, para guru bahkan Azzam pun di minta untuk bergabung.
Tentu saja Azzam menyeret Andra untuk ikut bersama main game.
Andra enggan karena is merasa capek, tapi mau bagaimana lagi jika bos sudah menyeret nya mau tidak mau ia juga turun.
Saat ini mereka sudah memegang bola, di mana di dalam nya ada sebuah angka, dan angka itu yang akan menentukan siapa pasangan mereka di permainan itu, semua nya akan berpasangan yang perempuan memegang bola berwarna pink sedangkan yang laki laki mengambil bola berwarna biru.
Andra, dan Azzam hanya berharap yang akan menjadi pasangan, mereka bukan lah perempuan alay, karena itu kan sangat merepotkan.
Mereka di minta serempak untuk membuka bola itu, dan setelah nya mereka akan di panggil sesuai dengan pasangan nya.
Aleta berusaha sebaik mungkin agar tidak terlalu mencolok dia tidak ingin namanya banding-bandingkan dengan Azzam karena itu akan sangat merepotkan.
Tapi untung lah nomor nya tidak sama dengan Azzam.
Nomor nya sama dengan Andra, tapi sayang nya Andra menukar nomornya dengan Azzam karena ia tau nomor milik Aleta.
Sedangkan milik Azzam Sam dengan salah satu guru.
Jadi baik Andra, dan Azzam sama sama aman.
Karena guru itu sangat lah baik, dan Andra mengenal baik.
Sedang kan Aleta berusaha untuk menukar nomor nya dengan Mentari, tapi Mentari tidak mau.
Begitu pun juga dengan Tika.
Terpaksa Aleta menerima nya, tanpa mereka tahu ada seseorang yang tersenyum geli melihat tingkah ke dua pasangan suami istri tersebut.
Dialah kepala sekolah di mana ia orang pertama yang mengetahui hubungan ke dua nya.
''Sudah menemukan pasangan masing masing?'' tanya kepala sekolah.
''Sudah, Pak.'' Jawab mereka serempak.
''Aleta di mana pasangan mu?'' tanya kepala sekolah.
Karena baik Aleta, dan Azzam mereka tidak ada yang mau bergerak.
Tentu karena mereka tidak ingin berita yang keluar besok mengarah pada hal hal yang negatif.
Karena bagaimana pun Azzam sudah di ketahui memiliki isteri, dan jika ia terlalu dekat dengan Aleta, maka nama Aleta yang akan jelek.
''Aku tidak tau pak,'' jawab Aleta.
''Siapa yang masih belum dapat pasangan?'' tanya kepala sekolah yang ingin memancing Azzam bersuara.
Semua mengarah pada Azzam, dan Azzam hanya acuh.
Dengan pura oura tak minat Azzam membuka bola nya.
''Nomor 25,'' jelas Azzam.
''Aleta berapa nomor mu?'' tanya kepala sekolah.
__ADS_1
''25.''
''Baik lah kalian pasangan,'' ucap kepala sekolah.
Aleta menghampiri kepala sekolah seolah olah ia keberatan, Aleta memilih niat terselubungnya, dia ingin menunjukkan pada mereka semua yang belum mengetahui hubungan mereka, seakan-akan ia dan Azzam memang cukup dekat.
Karena sudah pasti jika mereka di persatuan kan mereka akan lupa dengan sekeliling nya.
Aleta berbisik, '' Bapak tolong ya katakan pada mereka semua seolah olah aku tidak ingin berpasangan dengan nya, karena Azzam sangat lah menebalkan, jangan lupa beri tahu jika hubungan keluarga ku, dan Azzam cukuplah dekat, biar semua nya terlihat natural,'' pinta Aleta.
''Kau sangat cerdik,'' sindir kepala sekolah tersebut.
''Aku hanya mengikuti jejak mu,'' jelas Aleta.
Mereka memang sudah sangat dekat, di karenakan kepala sekolah itu sering kali mengunjungi kediaman sang mertua.
Terlebih lagi mertua nya menitipkan nya pada nya, jadi mereka sudah seperti orang tua, dan anak.
''Kau memang sama seperti mertua mu licik,'' ucap kepala sekolah.
Jangan pikir kepala sekolah itu tua, dia lebih muda dari orang tua Aleta, dan mertua nya.
Jadi bahasa mereka sudah layak nya seorang teman.
Aleta pergi dengan anggun.
Setelah itu kepala sekolah mengumumkan jika Aleta tidak mau bersama dengan Azzam.
Di karenakan dia sangat usil jika sudah bersama.
Jadi mau tidak mau Azzam, dan Aleta berpasangan.
Mentari hanya menatap ke dua pasangan itu dengan datar.
''Kenapa tidak jadi aktris saja, terlalu banyak drama, kenapa emang nya jika hubungan di ketahui banyak orang toh nanti juga akan di publikasikan, tapi ya sudah lah itu urusan mereka,'' batin nya.
Mereka sangat asyik dengan permainan yang di adakan, dan itu membuat semua nya berbaur satu sama lain.
Mereka terlihat akrab dengan kelas lain tidak seperti biasanya yang ingin menonjolkan kelas masing masing.
Kini mereka sedang berlomba memasangkan dasi pada pasangan nya, tidak seperti pasangan lain nya yang ingin menang justrus Azzam ingin terus kalah.
Sedangkan Aleta ingin menang, karena sedari tadi Azzam mengacau.
Dan semua itu tak lepas dari sorotan kamera.
Mereka selalu mengabdikan moment moment tantang Azzam untuk di jadikan bahan utama.
''Bisa diam gak sih,'' kesal Aleta.
Yang lain sudah banyak yang selesai tapi dia masih belum ngapa ngapain.
''Baby kenapa kamu marah, aku hanya menjalani peranku dengan baik,'' jawab Azzam.
''Peran apa?'' tanya Aleta kesal.
__ADS_1
''Untuk bertengkar dengan mu,'' jelas Azzam.
''Kau memang sangat menyebalkan,'' gumam Aleta.
''Laki laki yang kamu sebut menyebalkan itu suami mu jika kau lupa,'' jelas Azzam.
Mereka bahkan tidak sadar jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian, karena yang sudah selesai bisa kembali duduk.
Di tengah tengah ruangan itu hanya ada Aleta, dan Azzam.
Sampai akhir nya mereka di kaget kan dengan suara kepala sekolah.
''Aleta butuh berapa lama lagi?'' tanya nya usil.
Baru lah mereka sadar jika saat ini hanya ada mereka.
''Benar benar dunia milik berdua,'' gumam Azzam, dan itu tambah membuat Aleta kesal.
Azzam membiarkan Aleta memasang kan dasi nya, awal nya memang baik baik saja, hingga akhir.
Hik.
Anggap saja itu siara Azzam yang merasa di cekik dengan dasi yang di pasangkan Aleta.
''Rasain,'' ucap Aleta dan langsung meninggalkan Azzam.
Mereka terlihat sangat serasi.
Bahkan ada beberapa wartawan yang mengucap kan jika mereka lebih cocok menjadi pasangan.
Sampai akhirnya di puncak acara mereka akan berdansa.
Tapi Aleta tidak ikut, begitu pun juga dengan Mentari.
Sedangkan Tika entah lah dia kemana.
''Bagaimana dengan Tika ?'' tanya Aleta.
''Gak tau, dia belum memberi ku lolos apa gak,'' jawab Mentari.
Memang dari awal Tika tidak ingin kuliah bareng, tapi karena Aleta, dan Mentari selalu memprovokasi nya akhirnya ia memilih masuk di kampus yang sama dengan mereka.
Semakin malam pesta itu semakin seru, sekalipun tidak ada alkohol tapi mereka menikmati nya.
Aleta sudah sangat lelah apalagi ia sedang memakai high heels.
Aleta ingin pulang tapi Mentari masih asyik dia tidak enak jika harus mengajak nya pulang.
Aleta memilih untuk menghubungi Azzam, dan ternyata Azzam sudah memesan dua kamar di tempat itu.
Yang satu untuk nya, dan yang satu nya untuk sahabat Aleta.
Mereka sangat bersenang senang malam itu.
Tidak ada beban mereka hanya ingin mengakhiri masa remaja mereka dengan suka cita.
__ADS_1
Bantu like koment and vote ya bestie.