
Lanjut.
Fio membuka pintu itu dengan kasar.
"DIAM LOE PADA!" Teriak nya dengan kesal.
Dan berita itu langsung tersebar dengan cepat.
"Loe denger kan tadi ribut-ribut di toilet?"
"Iya ih kak Fio tuh emang bener-bener jahat!"
"Setiap ada murid baru yang lebih cantik di labrak, dia pikir dia siapa!"
"Iya betul!"
"Kasihan kak Aleta, mana tadi pipi nya merah banget lagi pasti di tampar sama nenek lampir itu."
Beberapa siswi yang baru keluar toilet saling membahas apa yang di dengar nya saat mereka hendak masuk tadi karena melihat Fio dan beberapa dayang nya tadi.
Mereka sudah menduga, pasti mereka berbuat ulah lagi dengan murid baru.
"Iya ih kasihan banget. Aku mau lapor tapi takut."
Farhan mengentikan langkah nya, berbalik arah karena tidak sengaja mendengar adik kelas nya sedang membicarakan Fio.
Jelas saja Farhan penasaran, Fio masih kerabat nya.
"Kenapa?" Tanya Farhan tiba-tiba, membuat beberapa siswi itu tersenyum kikuk.
For your information, Farhan termasuk dalam jajaran cowok ter-hitz di sekolah nya itu.
"Eh kak Farhan. Em, kenapa a-apa nya ya kak?"
"Gue denger kalian ngomongin Fio buat masalah lagi dia?"
"O-oh itu. lya, kita gak sengaja denger kak Fio berantem sama kak Aleta di toilet tadi, terus kayak nya kak Aleta juga di tampar deh soal nya tadi-"
Farhan menggerak kan tangan nya, menyuruh adik kelasnya itu berhenti menjelas kan.
__ADS_1
Dia berlari ke arah tangga, ingin memastikan saja jika Aleta baik-baik saja.
Pemuda berwajah manis itu lantas berlari ke lantai 3, dimana kelas Aleta berada.
la mengabaikan beberapa teman nya yang bertanya, menemui Aleta lebih penting ketimbang meladeni pertanyaan teman-teman nya.
"Sialan di cuekin!"
"Mau kemana sih tuh anak? Buru-buru amat."
"Nemuin si Aleta, paling," Kevin menjawab karena dia tau jika akhir-akhir ini Farhan terlihat sering mendekati gadis pindahan itu.
"Anjir, gue aja gak berani cuma sekedar dekat doang juga."
"Nyadar duluan ya?"
"Iya, haha."
" Tapi yakin dia akan kalah karena setau gue Aleta itu orang nya tidak ingin di dekati dan jika sudah begitu pasti ia memiliki seseorang yang spesial dan orang lain gak bisa masuk sekuat apapun kekuatan nya, dan se tampan apa wajah nya, karena hati tak bisa memilih dan tidak bisa di bohongin ".
Setelah kejadian tadi pagi, Aleta yakin itu akan menjadi topik panas tapi ia tak peduli, karena ia juga sudah membalas nya dengan setimpal.
Aleta juga tau ada yang aneh dengan orang itu terhadap nya dari tatapan nya saja Aleta sudah paham, tapi ia pura pura bodoh karena tidak baik menunjukkan nya secara langsung.
Karena tidak ingin meladeni nya Aleta memilih untuk menghindar lagi pula saat ini hubungan nya bersama dengan Azzam sudah sangat jelas dan ia tidak ingin sampai ada orang ke tiga dalam hubungan nya bersama dengan calon suami nya tersebut.
Aleta ingin menjaga perasaan dari pasangan nya tidak ingin sampai Azzam melihat ia dekat atau di dekati oleh lawan jenis.
Karena Aleta takut jika sampai Azzam berpikiran yang macam-macam.
Aleta langsung duduk di tempat nya karena sebentar lagi bel akan berbunyi.
Dan benar saja beberapa detik kemudian bel berbunyi pertanda pelajaran akan segera di mulai.
Mengingat jam pertama adalah pelajaran Azzam, Aleta mulai was-was dengan pipi nya pasti sudah bengkak.
" Dasar Fio sialan awas aja kamu akan aku balas semua nya dan itu akan sengat memalukan, kamu bisa mengusik aku, tapi tidak dengan hubungan ku yang sudah aku bangun, Azzam hanya milik ku tidak untuk orang lain " batin Aleta dendam.
" Jangan sampai Mentari mengetahui nya, pasti dia tidak segan-segan menghajar Fio saat ini juga, " batin Aleta.
__ADS_1
" Dan aku gak ingin ada keributan karena di sebab kan oleh aku, apalagi sampai orang orang ku juga ikut terlibat jangan sampai, karena aku sangat menyayangi nya ya meskipun mereka sering kali membuat ku kesal, tapi mereka adalah orang-orang yang tulus, " batin nya menjerit.
Sungguh pipi nya sangat nyut nyutan kalau begitu lebih baik Aleta terluka dari pada nyut nyuta karena itu tidak lucu bagi nya.
Dan setelah itu Aleta mengambil masker di saku nya untuk ia pakai tak lupa juga ia memakai penutup kepala karena ia takut teman teman nya akan melihat keadaan nya.
"Ra- are you okay?" Tanya Mentari saat dia melewati bangku nya.
Mentari curiga, kenapa sahabat nya itu terus menunduk dan menutupi wajah nya dengan masker.
"Kamu sakit?" Imbuh dengan khawatir yang sangat jelas .
" Itu kan, " batin Aleta ingin menangis bukan karena sakit tapi karena kepedulian nya yang sangat tulus dari mereka.
Aleta hanya bisa menggeleng, " jangan bohong sama aku Ta, aku tau kamu sedang tidak baik baik saja!
Mentari tau pasti telah terjadi sesuatu pada sahabat nya itu.
Se akan mengetahui jika ada yang di sembunyikan oleh Aleta, Mentari menarik masker yang Aleta gunakan tersebut, mentari hampir saja berteriak saat melihat pipi Aleta sangat merah dan juga sudah mulai bengkak, karena memang kulit nya Aleta sangat lembut jadi sedikit saja tertekan pasti akan merah.
"Siapa yang ngelakuinnya?" Tanya Mentari penuh selidik.
Aleta hanya bisa mengembuskan nafas nya pelan, dia kembali menutupi wajah nya dengan masker jika tidak maka yang lain juga ikut mengetahui.
"Ta!" Menteri kesal, ia sedikit menaikan nada suara nya karena sedari tadi sahabat nya itu terus diam dan Mentari bersumpah akan menampar kembali orang yang sudah berani menganggu Aleta.
Bahkan saat ini mata Mentari sudah berembun karena tak terima ada yang menyakiti sahabat nya.
Ini lah kenapa Aleta berusaha untuk tidak memberitahu Mentari karena ia tau Mentari akan menjadi cengeng jika ada orang yang menyakiti orang terkasih nya.
" Sudah lah aku gpp, " ucap Aleta berusaha untuk menenangkan kamu gak lihat ada pak Azzam di depan kelas, " ucap Aleta.
Dan benar saja di sana ada Azzam yang sedang mengobrol dengan se se orang lebih tepat nya sedang mengusir.
Melihat ada Azzam, Mentari mengubur semua nya dalam dalam karena ia juga takut dengan guru tampan itu.
Jika sudah marah maka hukuman nya adalah tugas tidak seperti guru lain nya.
Ada yang tau siapa yang di usir oleh Azzam.
__ADS_1