
Lanjut ini bab terakhir untuk hari bestie.
Jika guru lain nya lebih memilih untuk menghukum siswa dengan berdiri di depan kelas, atau gak membersih kan toilet.
Tapi beda dengan Azzam, Azzam akan menghukum mereka eneg mengerjakan beberapa tugas dan itu ampuh, maka dari itu Azzam guru yang mereka paling takuti jika tidak maka nilai taruhan nya.
Sedangkan di sekolah itu nilai adalah yang paling utama karena bagaimana pun sekolah itu setara dengan sekolah internasional.
Jadi wajar jika nilai yang paling di utama kan karena jika mereka memiliki nilai yang bagus dan juga memiliki keterampilan maka sudah pasti mereka akan mendapat kan beasiswa sesuai dengan kemampuan dan bidang masing masing.
Tapi itu tidak lah gampang.
Tapi jika mereka berhasil mendapat kan beasiswa maka sudah pasti karir mereka akan melejit karena akan langsung di pekerjakan di perusahaan ternama di mana semua perusahaan itu berada di bawah naungan perusahaan Al Fahrizal.
Sedang ka di luar kelas yang terjadi adalah.
" Ngapain di sini balik ke kelas, " ucap Azzam dingin.
Baru saja tangan nya akan mendorong pintu tersebut, suara dingin seseorang di belakang nya menginterupsi nya.
Perlahan Farhan menolehkan kepala nya, berjengit terkejut mendapati sosok guru dingin yang berdiri tepat di belakang nya ia juga merasa takut dengan guru itu.
"Eh pak Azzam" Farhan berkata canggung. Menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
" Mampus, " batin Fathan.
" Sial banget belum juga ketemu sama orang nya malah ketemu guru garang ini, " lanjut Farhan
"Sedang apa kamu disini Farhan, kelas kamu berada dilantai satu, bukan si lantai tiga!" Sahut Azzam dengan tegas.
"Eh a-anu pak, s-saya mah bertemu de-de-ngan teman saya."
"Kembali ke kelas!" Usir Azzam dengan dingin entah kenapa melihat Farhan ia merasa kesal, dan Azzam yakin jika Farhan akan menemui Aleta.
"B-Baik pak. Saya permisi"
" Pergi. "
" Baik pak. " Jawab Farhan takut.
Dan setelah itu pelajaran di mulai.
Belajar dalam keadaan menahan sakit itu tidak enak, Aleta sangat terganggu. la tidak dapat fokus pada pelajaran nya sama sekali, karena rasa sakit pada pipi nya terus berdenyut.
__ADS_1
Aleta mengutuk Fio.
" Dasar Fio sialan. "
" Gak tau apa kalau tamparan nya sakit banget. "
" Jika dia masih ber ulah aku akan balas yang lebih lag.i "
" Dan sial nya hari ini ada ulangan. "
" Tapi aku gak bisa konsentrasi. "
Dan masih banyak lagi batin Aleta karena hanya itu yang bisa di lakukan karena yang lain nya sibuk mengerjakan tugas tambahan.
Mentari melihat Aleta dengan khawatir, tadi nya ia akan membawanya ke UKS karena tidak tega melihat Aleta kesakitan, namun guru yang akan mengajar terlalu cepat datang dan juga hari ini mereka ada ulangan tambahan, dan Aleta juga memohon jangan sampai ada yang mengetahuinya atau dia tidak akan memberitahukan penyebabnya.
Pelajaran baru berjalan satu jam dan masih ada satu jam setengah lagi untuk selesai.
Dan satu jam Azzam jadikan untuk mengajar memberi penerangan, dan sisa nya akan ia jadikan ulangan.
Pria didepannya juga masih sibuk menjelaskan materi yang sedang dipelajari, beruntung pria itu tidak mencurigainya karena ia menggunakan masker dalam kelas lalu menutupi kepala nya dengan Hoodie.
" aleta. " Bisik mentari begitu pelan.
"Aleta" Panggil Mentari lagi, tidak mendengar jika Aleta telah menyahutinya tadi.
Aleta kesal, ia langsung menoleh membuat Mentari refleks membekap mulut nya sendiri ketika melihat pipi Aleta yang sangat merah.
Hampir saja diri nya berteriak jika ia tidak menyadari bahwa didepan sana masih ada guru.
" Brisik Mentari, " ucap Aleta.
"Ke UKS ya, kamu sakit harus istirahat."
Aleta menggeleng.
"Aku baik-baik aja, jangan khawatir," ucap Aleta dengan tersenyum.
Ck!Mentari mendengus kesal, bagaimana Aleta menyatakan diri nya baik-baik saja sedang kan diri nya sendiri pun tahu bahwa dia dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Tapi Ta-"
Belum sempat Mentari menyelesaikan kalimat nya, ia terpaksa merapatkan kembali bibirnya untuk diam ketika mendapatkan teguran dari guru yang mengajarnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian obrolkan? Jika masih ingin melanjutkan, silahkan keluar kelas! Jangan sampai suara berisik kalian mengganggu konsentrasi belajar murid lainnya," ucap nya tegas.
"Iya pak."
"Baik pak."
Setelah mendapatkan teguran tegas dari sang guru, Aleta maupun Mentari kembali fokus pada soal-soal, karena Ehsan sang ketua kelas sudah membagikan lembaran nya
Mereka masih harus menyelesaikan beberapa tugas.
Sedangkan Azzam, ia mulai berkeliling kelas, mengawasi murid nya agar tidak saling mencontek.
Sudah satu jam berlalu dan beberapa menit lagi pelajaran pertama akan selesai namun, belum ada satu pun di antara tiga puluh siswa nya yang menyelesaikan tugas nya.
Aleta yang biasanya cepat meskipun soal tersebut sulit pun kini belum setengah nya ia kerjakan.
"Tumben dia belum selesai, biasanya paling duluan." Batin Azzam.
Azzam terlalu profesional jika mengajar, dirinya akan menatap semua muridnya sama rata jika di dalam kelas, menyimpan rasa khawatirnya untuk salah satu murid nya.
Sebenarnya awal diri nya masuk ke kelas, ia sudah melihat gelagat tidak baik untuk calon istri nya itu. la merasa gadis itu terus menunduk, bahkan memakai masker ber-hoodie di dalam kelasnya dan terkesan menjauhi bertatapan dengan nya.
" Ada apa sebenar nya, apa yang susah terjadi? Ini bukan karena ciuman semalam 'kan? Sepertinya bukan, saat di parkiran mereka baik-baik saja, " batin Azzam.
"Lima belas menit lagi, selesai atau pun tidak, kumpulkan!" Ucap Azzam dengan tegas.
Semuanya panik saat Azzam memberitahukan jika waktunya hampir habis.
Apalagi di saat menit-menit terakhir seperti ini, mereka sangat butuh bekerja sama agar selesai. Namun guru yang biasanya memberikan keringanan tersebut tidak melakukan nya, dia malah berjalan dan kembali mengawasi.
Lebih tepat nya ia ingin pergi ke Aleta karena ia yakin calon istri nya itu sedang tidak baik baik saja.
Dan benar saja Aleta tidak mengerjakan tugas nya dengan baik, bahkan sebagian rumus nya itu terbalik.
" Apa apa dengan anak ini, " batin Azzam khawatir.
"Kamu tidak akan bisa mendapatkan hasil yang bagus jika rumus yang digunakan saja terbalik,"Ā ucap Azzam berbicara pelan tepat disebelah bangku yang diduduki Aleta.
" Ada apa, Aleta? Bahkan tugas yang saya berikan tidak selesai bahkan kamu hanya bisa menyelesaikan setengah nya aja, kerjakan yang benar, " ucap Azzam memperingati.
" Apa kamu sakit, " bisik Azzam pada Aleta tapi sayang nya Aleta tidak mendengar itu semua.
Jangan lupa koment nya ya bestie bantu author ramai kan novel ini
__ADS_1
Terima kasih.