
Azzam dan Aleta masih saling menggenggam.
Mereka asyik dengan dunia nya sendiri.
Bahkan tanpa di pandu kini bibir Azzam sudah kembali mengecup bibir Aleta.
Aleta hanya mematung karena tidak tau harus bagaimana tubuh nya seakan tak bisa untuk di gerakan.
" Masuk yuk udah di tunggu, " ajak Azzam tanpa dosa.
Dan Aleta hanya menurut saja.
Di meja makan, mereka sudah berkumpul untuk memulai acara makan malam nya.
Semuanya larut dalam kebahagiaan, begitu juga dengan Azzam, ia merasa semua ini seperti mimpi yang terlalu indah bagi nya.
Azzam benar-benar tidak menduga jika perempuan yang akan di jodohkan dengannya itu ternyata Aleta, muridnya sendiri.
Gadis yang sudah berhasil membuat diri nya kembali membuka hati setelah sekian lama menutup nya.
Diri nya kira, asmara nya akan serumit dalam bayangannya karena terhalang oleh sebuah perjodohan dan juga restu orang tua nya, namun nyatanya tanpa ia duga, perempuan yang sudah di rencanakan mereka adalah gadis incaran nya sendiri yang sekarang sedang duduk tepat di hadapan nya.
Gadis yang mampu membuat nya bertekuk lutut dalam pesona nya.
Gadis itu begitu cantik malam ini dengan gaun berwarna peach tersebut.
Bahkan Azzam tidak bisa berhenti untuk menatap nya.
Sedangkan Aleta, gadis itu merasa canggung karena pria yang akan menjadi jodohnya tersebut terus menatapnya.
Kenapa, pikirnya.
"Dia kenapa sih ngeliatin terus?" Pikir nya heran. Apalagi dengan senyuman nya yang penuh dengan arti, Aleta merasa diri nya akan di mangsa oleh om-om.
" Oh Ya ampun!l kenapa nampak sangat menyeramkan, " batin Aleta was was.
"Azzam! Makan makananmu!" Tegur papa Teo.
Karena ia tau calon menantu nya itu merasa tak nyaman dengan tatapan putra nya.
Huh dasar anak itu. Lihat! Makanan nya saja masih utuh belum tersentuh sedikitpun.
"Jangan di lihatin terus, nanti juga kami akan memberi kalian waktu untuk berdua." Imbuh nya.
DEG!
Aleta dan Azzam saling berpandangan.
Aleta tidak tau jika orang tua nya memperhatikan gerak gerik mereka.
"Setelah makan malam selesai, kamu boleh mengajaknya untuk keluar." Timpal Daddy Alden.
Mendenger itu Aleta terdesak dengan makanan nya sendiri.
Sedang kan Azzam merasa sangat senang.
__ADS_1
Setelah acara tersebut selesai.
Mereka berkumpul sejenak di ruang keluarga sebelum melanjutkan acara yang lain nya karena Rani ingin mengajak mereka untuk bakar-bakaran alias barbeque di taman samping sana.
"Azzam, kapan Aleta lulus sekolah?" Tanya papa Teo.
"Lima bulan lagi," jawab nya.
"Ugh masih lama rupa nya," jawab Teo lesu.
"Kenapa memangnya?" Alexa penasaran.
"Aku ingin cepat-cepat membawa putri mu itu untuk tinggal disini," jujur papa Teo.
Aleta yang mendengar itu lagi lagi langsung tersentak.
Sedangkan para orang tua hanya tertawa geli melihat wajah Aleta yang sudah merah seperti tomat.
Aleta ingin berteriak sekencang sekencang nya, obrolan apa ini? Diri nya saja masih belum tahu apakah mereka akan bisa saling menerima atau tidak, tetapi kedua orang tua nya sudah berpikir sejauh itu.
Argh! Aleta tidak kuat untuk mendengarnya, ini terlalu sensitif bagi nya yang masih sekolah.
" Em Tante, aku mau ke kamar mandi, di sebelah mana ya?" Ucap nya.
"Di sebelah dapur sayang, mau Tante antar?" Jawab mana Rani.
"Tidak perlu Tante, Aleta sendiri saja," tolak Aleta.
"Baiklah," jawab mama Rani.
Namun ketika ia menyadari jika Mentari juga sedang berkencan dengan Kevin, ia menyimpan kembali ponsel nya.
Aleta langsung masuk ke kamar mandi.
"Ya tuhan, perasaan apa ini. Kenapa jantung aku berdetak secepat ini?" Ucap nya dengan memegang dada nya sendiri.
Aleta menjadi bimbang apakah ia harus keluar sekarang dengan keadaannya yang seperti ini, atau tetap diam disini untuk meredamkan dulu debaran jantungnya yang berantakan.
Akhirnya setelah 10 menit berada di kamar mandi, Aleta memutus kan untuk keluar dengan perasaan yang sama seperti pertama dia masuk kesini.
Saat ia membuka pintu langsung ada yang menegur nya
"Kenapa lama sekali?" Sapa nya.
DEG!
"Pak Azzam!"
Sejak kapan pria itu berada didepan pintu, apakah dia mendengar semua keluhannya tadi dikamar mandi?
"Kenapa lama sekali, aku sudah berdiri di sini dan menunggumu lima menit yang lalu," ucap Azzam apa adanya.
HA?
"Ikut!" Ajak Azzam.
__ADS_1
Azzam menarik tangan Aleta dan membawa nya ke taman belakang rumah.
Azzam merasa harus berbicara ber dua dengan Aleta malam ini juga.
Kini mereka sedang duduk pada ayunan jati berhadapan dengan kolam renang.
Azzam sengaja membawanya kesini karena jika di taman depan sana, mama Rani dan yang lain nya akan terus mengganggunya.
"Aleta," panggil nya.
"Hemm," jawab Aleta.
"Bagaimana tanggapan kamu dengan rencana kedua orangtua kita?" Tanya nya.
"Aku gak tahu pak," Aleta berdiri, menatap air kolam yang begitu tenang di hadapan nya.
"Aku tidak yakin kalau bapak mau dengan seorang gadis yang masih berseragam SMA seperti aku." Ucap Aleta terkekeh pelan.
Apalagi melihat Azzam yang begitu dewasa dan juga sangat di kagumi oleh banyak wanita dewasa lain nya.
Aleta merasa tidak layak untuk nya dan ia merasa minder.
Mendengar jawaban Aleta, Azzam yang masih duduk menatap nya lantas berdiri tepat di samping nya.
"Semua itu tidak masalah untuk aku," jawab nya lalu dengan segera meraih tangan Aleta dan menggenggam nya dengan kuat tapi juga lembut, membuat Aleta terkejut.
"Apakah kamu percaya cinta pada pandangan pertama itu ada?" Tanya Azzam dengan menatap Aleta.
"A-aku gak tahu," jawab Aleta gugup.
"Aku sedang merasakannya Aleta."
Azzam mengeratkan genggaman nya, lalu meletakan nya tepat didepan dada nya.
Aleta terkejut, ia bisa merasakan debaran jantungnya yang sama sepertinya.
"Aku sedang merasakannya saat ini pada seorang gadis yang tepat berada di hadapanku." Lanjut nya.
Seketika itu juga Aleta merasa sangat gugup yang tadi nya hanya gugup sekarang bertambah lagi entah lah itu nama nya apa.
Kedua matanya mengerjap kaku.
Dengan jarak wajah mereka yang begitu dekat serta tangan yang terpaut rapat, membuat Aleta tidak mampu untuk berkata apapun..
"Aku mencintaimu sejak saat kamu menerobos masuk ketika ulangan akan berlangsung," jujur nya Aleta merasa sangat gugup, tenggorokannya terasa tercekat ketika mendengar sebuah pengakuan paling mengejutkan untuknya.
"Jangan bercanda pak," jawab Aleta dengan kikuk.
...Jangan lupa dukungan ya bestie...
...Jangan koment and vote dan juga jangan lupa klik favorit nya ya agar tak ketinggian update terbaru dari author ya Abal Abal ini...
...Koment yang positif ya bestie kasih saran boleh memberikan ide agar cerita ini terus berkembang...
...Jangan koment yang bikin mood author down dan menjadi males untuk nulis karena baca koment kalian...
__ADS_1
...šššš...