
Lanjut bab terakhir untuk hari ini.
" Sayang, " panggil Azzam.
" Hem, " jawab Aleta.
" Persiapan kan diri mu, " ucap Azzam.
" Untuk apa, apa yang perlu di persiapkan, aku atau apa? " tanya Aleta tak paham.
" Kenapa kamu tiba-tiba menyuruh ku untuk bersiap ada acara apa? " tanya Aleta masih ter lihat bingung.
Azzam hanya menatap Aleta dengan gemes.
" Ya persiapan aja diri mu sayang, " ucap Azzam yang terdengar sangat menyebal kan untuk Aleta.
Aleta memilih untuk tidak menanggapi karena menurut nya percuma.
Aleta berpikir Azzam hanya ingin mengerjai nya, tapi tidak sama sekali.
Karena apa Azzam ucap kan itu serius.
" Sayang aku serius per siap kan diri mu sebaik mungkin, " ucap Azzam lagi.
" Iya tapi untuk apa? " tanya Aleta mencoba untuk mengalah.
" Untuk pernikahan kita, " jawab Azzam dengan santai, dan malah mempererat pelukan nya pada Aleta.
Aleta yang mendengar kata nikah hanya bisa diam, tapi bukan tidak merespon hanya saja suara nya terasa tercekat tenggorokan nya.
Percaya lah saat ini mata Aleta melotot dengan sempurna, jika saja kelopak mata itu tidak ada wadah nya mungkin kelopak mata Aleta sudah keluar karena Aleta benar benar melotot saking kaget nya.
Jangan lupa kan dengan mulut nya yang menganga dengan lebar, dan itu sangat besar karena terlalu kaget.
Belum juga satu jam ia di lamar, dan menerima lamaran laki laki tampan itu yang notabene nya adalah guru nya sendiri, tapi sudah ada kata pernikahan oh ya ampun Aleta tidak tau harus bereaksi seperti apa, tapi Aleta tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
Aleta ingin semua nya perfek meskipun, hanya akan di adakan abad saja, tapi semua nya harus perfek, harus ter lihat sempurna, dari sisi mana pun, dan konsep nya adalah simple, tapi mengesankan Aleta tidak ingin menikah dengan asal asalan semua nya harus ter susun tapi harus ter konsep dengan jelas dari A sampai Z, dan lagi pula ia masih memakai seragam sekolah ia masih belum ujian masih banyak yang harus di persiapkan, dan masih banyak lagi isi dari otak Aleta.
Azzam yang tidak mendengar jawaban dari Aleta menjadi heran karena tidak biasa nya Aleta akan diam seperti ini.
Karena penasaran Azzam langsung melonggar kan pelukan nya, dan mendapati Aleta yang sedang bengong, tapi sudah tidak dalam keadaan yang menganga lebar, tidak pula dengan mata yang melotot.
Hanya saja tatapan nya terasa syok, dan Azzam yang melihat itu langsung ter senyum.
Apalagi m*ulut Aleta terbuka sedikit melihat itu saja sudah cukup membuat nya kalang kabut dan detik berikut nya Azzam kembali mencium nya.
Aleta yang tidak sadar merasa terkejut karena saat ini Aleta merasa jika bib*Ir nya terasa bengkak akibat ulah Li*ar sang calon menantu eh salah ya calon suami hehehe.
Tapi Aleta tak bisa berbuat apa apa, karena ia tidak ingin membuat Azzam merasa di tolak.
Karena bagaimana pun Azzam mem perlakukan nya dengan sangat lembut dan penuh dengan kelembutan, tapi jika sosor terus tak bisa di pungkiri juga jika Aleta merasa kebas di bagian bi* bir nya.
Azzam terus melu*mat nya sampai akhir nya Aleta membalas nya juga.
Merasa kan jika Aleta membalas nya, Azzam menjadi lebih agresif, tapi tiba tiba teringat jika ia berada di tempat terbuka lalu Azzam menghentikan ciuman nya.
" Sayang, " panggil nya dengan nafas yang tidak teratur.
" Ke lantai tiga yuk, " ajak Azzam to the poin.
Aleta hanya menyatukan alis nya petanda jika ia tidak paham dengan apa yang di kata kan oleh Azzam.
" Kenapa harus ke atas mau ngapain ? " bingung Aleta.
" Karena kalau di sini tempat nya sangat terbuka, dan aku tidak suka itu, akan ada banyak orang yang berlaku lalang di dekat kita, " jelas Azzam apa ada nya.
" Aku hanya tidak suka jika ada yang melihat, pasti akan ada bibi yang melihat keberadaan kita kan nggak enak sayang lebih baik kita ke kamar eh salah maksud nya ke lantai 3, di lantai 3 itu privasi hanya orang tertentu yang bisa masuk ke sana tanpa izin dari ku, mereka tidak akan bisa masuk, " jawab Aleta.
Aleta paham, tapi ia masih ragu apakah ia akan pergi ke sana atau tidak, sebab melihat Azzam seperti ini membuat nya takut.
" Udah lah yang di sini aja, " tolak Aleta halus.
__ADS_1
" Apaan sih yang, udah ayo kita ke lantai 3, " paksa Azzam.
" Aku takut nya nanti orang-orang yang melihat kita mikir macam-macam yang, kan nggak enak aku baru pertama kali ke sini masa udah mau di ajak ke lantai 3 sih, lagian kan ada mama banyak juga teman-teman nya arisan nya yang belum pulang, mereka semua akan mikir yang macam macam, jangan aneh-aneh deh, " jawab Aleta masih kekeh dengan jawaban nya.
" Siapa yang aneh-aneh sih, " elak Azzam.
" Jangan bohong, aku tau yang ada di pikiran kamu, " jawab Aleta apa ada nya.
" Apaan sih, mikir nya kok jauh amat, kita hanya akan ke lantai 3 kita nggak ngapa-ngapain, lagian saat ini mama pasti sibuk dengan teman arisan nya, kue yang mau di kasih ke mommy aja udah di berikan oleh mama, itu artinya mama takut gak ketemu sama kamu jika nanti kamu pulang, " ucap Azzam.
" Tapi kamu gak akan aneh-aneh kan? " tanya Aleta waspada.
" Ya gak lah, " jawab Azzam.
" Ya paling cuma nyicip aja sedikit sedikit, em*ut kanan kiri, rem*as rem*as dikit di pilin ujung nya hi hi hi ih memikir nya saja sudah membuat nya merinding, " batin Azzam.
Yups karena memang tujuan Azzam mengajak Aleta ke atas ada mau nya, karena bagaimana pun tu*buh Aleta menjadi candu tersendiri untuk Azzam, dan Azzam pun tidak tau kenapa harus seperti itu.
" Yuk, " ajak Azzam memaksa.
" Maksa banget sih, aku nggak enak lho sama mama pasti di depan masih banyak anggota nya mama, " tolak Aleta.
" Kamu tenang aja, aku ada jalan pintas agar tidak ketahuan jika kita mau ke sana, " jawab Azzam.
" Hah jalan pintas, " bingung Aleta.
Gimana untuk hari ini bestie suka dengan cerita nya ,?
Atau ter lihat membosankan ?.
Jika ia tolong kasih saran ya bestie agar author bisa memperbaiki nya dan bisa memuaskan kalian semua agar saat membaca nya kalian happy dan kesemsem sendiri he he he he.
Jangan lupa tinggal kan jejak ya bestie koment seperlu nya saja setidak nya hibur author lah ha ha ha.
Baik lah untuk hari ini cukup ya bestie.
__ADS_1
Semoga hari ini kian semua happy, semoga jalan kita semua nya di mudah kan oleh sang maha pencipta Amin.
Bye bye bestie sampai ketemu besok di bab selanjut nya.