
Pagi bestie.
Azzam yang mendengar dengan seksama apa yang Aleta ucap kan hanya menatap nya, karena Azzam masih merasa kurang percaya dengan apa yang Aleta ucap kan, Aleta berpikir hal yang tidak masuk akal menurut Azzam.
Azzam tau Aleta tidak menarget kan fisik, tapi mental dan itu jauh lebih kejam bagi Azzam.
Tapi meskipun terkesan agak aneh akan Azzam lakukan, jika itu memang keinginan sang pujaan hati.
" Baik lah anggap saja seperti itu, tapi aku masih penasaran bagaimana cerita nya dia tau, apakah kamu bicara nya sangat keras, " heran Azzam.
" No aku hanya sedang ngomong sendiri karena merasa kesal, karena kamu suka sekali menggoda ku, dan waktu itu aku juga sedang membasuh muka ku, dan mungkin dia memang sedang mencari ku karena gosip gosip yang gak jelas, karena tadi kamu menyapa ku, " jelas Aleta.
" Aku di maki, dan dia juga menampar ku sekali, aku balas juga lah dengan menendang perut nya, tak lupa juga dengan para dayang nya, enak saja tadi dia main keroyok aja, apalagi tadi tangan ku di pegang, sial banget, " keluh Aleta panjang lebar.
Mendenger itu Azzam jadi gemes sendiri.
" Dan aku akane pergi ke Mama Rani setelah pulang sekolah bareng kamu ya, karena gak boleh bawa sopir sama Mommy dan Daddy, lagian orang tua ku tidak ada di rumah, " ucap Aleta lagi.
" Benaran mau ke rumah ku? " tanya Azzam.
" Bukan, " jawab Aleta ingin menggoda Azzam.
"Hah. "
" Ya iya lah mau ke rumah kamu emang rumah Mama Rani bukan rumah mu gimana sih pak Azzam,'' ucap Aleta.
" Ya aku reflek aja ngomong gitu karena aku senang kamu mau main ke rumah, " jawab Azzam.
" Masih sakit?" tanya Azzam untuk mengalihkan pembicaraan.
" Hem nyut nyutan, " jujur Aleta.
" Bentar ya aku ambil p3k dulu. "
" No es batu aja biar rasa sakit nya hilang di obati juga percuma, kalau bekas nya juga akan hilang sendiri, biar gak bengkak aja, " jelas Aleta.
" Baik lah tunggu di sini aku akan siap kan duluan " pinta Azzam
Aleta hanya mengangguk karena memang kepala nya sedikit pusing.
Saat Azzam tak ada, Aleta menyandar kan kepala nya ke dudukan sofa dan setelah nya ia mengambil nafas dalam dalam.
Ini bukan hal yang mudah untuk nya, dan Aleta yakin kejadian hari ini hanya lah awal nya nya.
Dan Aleta harus siap siap untuk itu terutama mental nya karena kebanyakan siswi di sekolah ini mengidolakan calon suami nya tersebut.
__ADS_1
" Gini amat punya nasib calon suami tampan jika bisa memilih lebih baik dia di awet kan saja, '' gumam Aleta dan di akhiri dengan kikikan nya sendiri.
aleta merasa konyol dengan pemikiran nya sendiri.
" Di kiri aku patung apa mau di awet kan, " celetuk Azzam yang mendengar apa yang di kata kan oleh Aleta.
Karena saat ini ia sudah berada di dekat Aleta.
Hehehe Aleta hanya menjawab dengan tertawa.
" Maaf habis nya kamu terlalu banyak fans nya, aku males jika harus berurusan dengan mereka, jika boleh memilih aku lebih baik melawan preman, " jujur Aleta.
" Ya jangan di ladenin sayang, " jawab Azzam.
''Jangan macam macam aku gak akan biarin kamu berkelahi,'' lanjut Azzam.
" Aku harus diam gitu kalau aku di ganggu, " ucap Aleta.
" Ya gak gitu juga kali yang, maksud nya aku tuh kalau tidak main fisik, kalau mereka main fisik ya kamu hajar lah, " jawab Azzam.
" Jika Mama dan Papa tau gimana, entar mereka berpikir aku preman lagi, " ucap Aleta.
" Aku punya rahasia mereka, " ucap Azzam.
" Apa, " kepo Aleta.
Tampa membantah Aleta mendekat kan wajah nya tepat di depan wajah Azzam.
Dan itu mampu membuat pikiran Azzam melayang layang tapi entah kemana hahahaha.
Azzam mengkompres pipi Aleta dengan penuh kelembutan.
" Sttt. "
" Sakit yang? " tanya Azzam.
" Dingin, " jawab Aleta jujur.
Mendengar itu Azzam hanya geleng-geleng kepala.
" Pak, " panggil Aleta.
" Kenapa harus manggil pak sih Yang kita kan hanya berdua, " protes Azzam.
" Iya iya maaf habis nya aku masih bingung, sudah lupa kan aku ada beberapa pertanyaan untuk kamu, " jawab Aleta.
__ADS_1
" Apa, " jawab Azzam.
" Serius lah Yang, " kesel Aleta.
" Iya juga sedang mode serius, " jawab Azzam.
" Santai yang aku tau apa yang ada dipikiran kamu, aku akan selalu mendukung apapun keputusan kamu jika itu baik, termasuk dengan membalas mereka dengan kekerasan, karena bagi ku tidak ada ampun untuk orang yang berbuat kekerasan dan kamu wajib membalas mereka, " lanjut nya.
" Seriusan? " tanya Aleta ragu.
" Kamu tidak perlu memikirkan nama baik keluarga ku, mama dan papa bukan orang yang gila hormat. Mereka sama seperti orang tua mu tidak terlalu banyak menuntut, tapi ada kala nya mereka akan sangat menyebalkan, " jelas Azzam karena ia tahu Aleta sedang memikirkan orang tua nya.
" Apakah mama dan papa akan marah dan merasa malu jika aku ketahuan berkelahi."
" No. "
" Syukurlah, " ucap Aleta lega.
Sesaat hati nya sedikit lega saat pria yang kata nya akan di jodohkan dengan nya itu begitu membela nya,Ā namun otak nya terus berpikir tentang perkataan Fio tadi.
" Benarkah mereka sempat akan di jodohkan? Memang nya calon mertua nya itu sedekat apa dengan orang tua nya Fio? " Batin Aleta.
Ya meski pun Aleta tau akhir dari semua nya tapi jika sempat mau di jodoh kan berarti mereka sangat dekat.
Dan Aleta sudah mencari semua nya tapi hanya sekedar tau, tidak ingin terlalu masuk di dalam nya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" Azzam bertanya saat menatap Aleta terus melamun.
Gadis itu menoleh, menatap wajah pria itu, ragu tapi ia juga perlu jawaban.
"Apakah benar kalian sempat akan di jodohkan?"
"Siapa yang mengatakan nya?" Heran Azzam.
Sepengetahuan nya, Azzam tidak pernah menceritakan perihal itu kepada siapa pun.
Hanya dia dan keluarga dari belah pihak saja yang tau akan cerita nya dan bagaimana Aleta bisa tau meskipun tadi Aleta sudah mengatakan nya.
"Fio sendiri yang mengatakan nya, bahkan dia bilang aku yang merebut kamu dari ku, " jujur Aleta.
"Dan kamu percaya?" Tanya Azzam ingin memastikan apa isi otak di dalam gadis nya itu.
Aleta menggeleng, "No! Maka nya sekarang nanya sama kamu," jelas nya takut Azzam salah faham.
Mendengar itu Azzam menghembuskan nafas nya pelan, Azzam meraih tangan Aleta dan menarik wajah gadis itu untuk menatap nya.
__ADS_1
Akan kah Azzam jujur dengan Aleta.
Tunggu jawaban nya di bab selanjutnya.